Notes

Over Estimate

“Ternyata dia bukan milyarder asli seperti yang ditampilkan di seminar-seminar, hutangnya luarbiasa jumlahnya dan dia banyak melakukan penipuan pada rekanannya”.

“Ternyata beliau hanya bisa mengajar tapi minim memberi teladan”.

“Ternyata orang itu hanya membuat pencitraan saja sebagai sosok yang ideal, kenyataannya perilaku sehari-hari berkebalikan dengan apa yang dia katakan”.

Lalu muncul emosi berupa rasa kecewa, marah, merasa tertipu, lalu syok, pelampiasannya makan banyak, tambah bulet deh… lho kok jadi gini? 😀 Yuk balik lagi fokus lagi…

Pernah mendengar, melihat atau mengalami hal ini? Banyak terjadi kan di sekitar kita? Bagaimana rasanya? 😀

Hey…siapa yang memilih untuk mengambil asumsi-asumsi yg ternyata over estimasi itu?

Seorang sesepuh yang sudah saya anggap kakek sendiri pernah berkata,”Kagum itu sewajarnya saja, jangan berlebihan dalam berasumsi. Tak ada manusia yang sempurna, semakin kita dekat dan mengenal kehidupan seseorang, akan makin terlihat sifat aslinya, terpampang kelemahan-kelemahan manusiawinya. Bila over estimate, nanti kamu akan sakit dan kecewa. Boleh saja kagum pada public figure, coach, mentor, guru, teman dan siapapun, asal sesuai porsinya dan tidak menjadikan mereka laksana dewa tanpa cacat dan kesalahan. Kagumlah pada satu atau beberapa sisi yang ingin kamu teladani, maklumlah atas sisi manusiawinya”.

Fenomena sosial media yang luar biasa saat ini memunculkan sosok-sosok baru yang menjadi idola. Begitu banyak follower yang terkagum-kagum dan berlomba-lomba untuk mengikuti berita tentang mereka dan meng-aamiiini apa kata mereka. Orang yang berpikir logis akan mengambil manfaat dan ilmu yang bisa dicontoh dari idola nya. Namun orang yang emosinya sudah mengalahkan logika nya akan kesulitan membedakan mana yang asli dan mana yang polesan.

Keterbatasan jarak dan waktu menjadi lebih terbantu oleh ketersediaan jaringan online di dunia maya. Sekat-sekat pribadi di dunia nyata menjadi sesuatu yang blur di dunia maya. Komunikasi dan transfer informasi yang terjadi menjadi kurang utuh karena tidak berjumpa dalam wujud nyata. Realita yang munculpun kadang tak sesuai dengan aslinya karena terbatasnya data yang masuk ke dalam pikiran kita.

Salah seorang guru saya pernah berkata,”Sebagus-bagusnya menilai seseorang via interaksi di dunia maya, akan jauh lebih baik saat menilai setelah berinteraksi di dunia nyata. Sebaik-baik berguru melalui media online di dunia maya, jauh lebih sempurna dan bermanfaat bila berguru langsung dengkul (lutut) ketemu dengkul di dunia nyata”.

Mengapa?

Karena informasi yang masuk saat berinteraksi langsung di dunia nyata jauh lebih lengkap dan melibatkan panca indera kita berikut pikiran dan perasaan kita. Realita yang ada akan jauh mendekati aslinya. Bukan hanya sebatas imajinasi dan asumsi yang mewujud dalam pikiran kita.

Jadi, kagumilah sesuatu atau seseorang sewajarnya. Sesuai dengan sisi yang ingin diambil manfaat dan teladannya. Jangan sampai harapan dan imajinasi tinggi itu hancur berkeping-keping saat kita tahu kenyataan sesungguhnya. ^^

Regards

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *