Traveling

Parangtritis Traveler

Seharusnya hari sabtu dan minggu ini saya rencananya ke Kota Nganjuk untuk menghadiri pernikahan Alinda, salah seorang teman baik saya. Tapi rencana harus berubah, karena hari sabtu ternyata bertepatan waktunya dengan pernikahan saudara sepupu saya. Demi menjaga perasaan dan persatuan keluarga (haiyah…) akhirnya saya memilih untuk datang ke pernikahan saudara saya di Jogja. Kebetulan resepsi nya hari sabtu malam, sekalian saja hari minggu pagi, kami sekeluarga pergi ke Pantai Parangtritis di daerah Bantul Jogjakarta.

Sudah sekian lama saya tidak ke Parangtritis, mungkin karena menurut saya masih banyak sekali pantai lain di Jogjakarta yang lebih indah dan lebih bersih kondisinya. Lagipula saya lebih suka bermain di pantai yang masih alami, belum banyak tersentuh investor. Suasana pantai yang tenang, sepi dan masih bersih dari sampah-sampah wisatawan yang datang, berasa pantai milik pribadi. Pantai-pantai yang saya suka seperti ini banyak terdapat di Kabupaten GunungKidul DIY (Pantai Pok Tunggal, Pantai Sadranan, Pantai Indrayanti, Pantai Jogan dan masih banyak lagi).

Dari Kota Jogja, kami menyusuri jalan Jogja-Parangtritis sekitar 30 km menuju ke arah selatan. Jalan yang lebar dan luruuus, bagai tak berujung. Akhirnya sampailah kami di pos retribusi pantai Parangtritis. Terus aja ambil jalan yang lurus sesuai dengan petunjuk dalam Surah Al Fatihah πŸ˜€ (ini apa coba?). Di dekat pos retribusi ada jalan ke arah kanan, menuju pantai Depok. Tapi kan kami sedang ingin ke Parangtritis. Jadi kami tetep ambil jalan yang lurus #Sikap πŸ˜€ Eh Murah bener tiketnya, hanya Rp. 4.750 euy…Ya tambah premi asuransi total jadi Rp. 5.000,- dah.

tiket masuk pantai parangtritistiket retribusi pantai parangtritis

Sepanjang jalan banyak yang menawarkan lokasi parkir untuk kendaraan kami. Tapi kami cuek saja, karena masih banyak lokasi parkir yang jauh lebih dekat dan nyaman di pinggir pantai. Kami memilih parkir di belakang kantor SAR pantai Parangtritis, strategis, dekat pantai, dekat kolam renang air tawar, dekat kamar mandi untuk membersihkan diri dan yang jelas dekat dengan pusat jajanan hehehe…

parangtritiswoodIcon pantai parangtritis

pantai parangtritishamparan pasir luas terbentang

Nah ini dia penampakan pantainya. Jauh lebih rapi tertata daripada beberapa tahun yang lalu saat saya terakhir kali kesini. Yang masih perlu pembenahan adalah ketersediaan tempat sampah yang cukup. Kami harus menyediakan tas plastik untuk menampung sampah masing-masing sebelum menemukan tempat sampah “resmi” di sekitar pantai. Sayang banget pantai yang bagus jadi terlihat kurang keren karena sampah yang dibuang sembarangan. Mungkin wisatawan pantai ini baru sebagian yang melek pada budaya hidup bersih.

bendi wisata pantai parangtritis

payung pantai parangtritis

Di sepanjang pantai ada banyak payung beralas tikar untuk tempat berteduh, meletakkan bekal dan barang bawaan dan menikmati suasana pantai tanpa kepanasan. Jangan lupa harus ada yang menunggui lho ya.. pantai ini tidak seperti halaman rumah sendiri hoy yang barang-barang milik pribadi aman saat ditinggal pergi. Sewa payung+tikarnya hanya Rp. 25.000,- untuk waktu sepuasnya (kecuali sedang rame banget, mungkin pemilik payung akan nanyain sampai kapan kita disana hehehe…).

Ada pemandangan menarik saat kami duduk di bawah payung pantai. Ada beberapa ibu-ibu penjual makanan tradisional yang tak pernah lelah menawari kami untuk membeli dagangannya. Makanan yang mungkin jarang kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Harganya murah meriah sampai tidak tega untuk menawar lagi, antara seribu hingga lima ribu rupiah per bungkus. Ada pisang rebus, keripik rumput laut, arem-arem, peyek jingking (peyek berisi udang kecil-kecil), peyek wader, tahu pong dan undur-undur goreng. Nama makanan yang terakhir ini yang saya belum tahu sebutannya dalam bahasa indonesia. Undur-undur, masa diterjemahkan jadi mundur-mundur? πŸ˜€ Oiya buat yang punya alergi makanan laut, lebih baik hati-hati kalau ingin mencicipi ya.

pedagang di parangtritispedagang tradisional pantai parangtritis

jajanan tradisional parangtritiscemilan tradisional pantai parangtritis

Bagi yang ingin menjelajahi pantai dari ujung barat hingga ujung timur, ada kereta kuda (dokar) yang bisa di sewa. Ada pak kusir yang siap sedia mengantarkan kita menyusuri pantai…tuk tik tak tik tuk tik tak…suara sepatu kuda. Untuk yang lebih suka bermain ATV, ada juga tempat untuk menyewa kendaraan ini untuk menjelajahi pantai.

sewa bendi kuda parangtritistarif bendi wisata pantai parangtritis

atv rental parangtritisrental atv di parangtritis

Setelah lelah bermain air dan berpanas-panas ria di pantai, yuk mari membilas diri dari air laut yang amis dan lengket di kulit. Untuk anak-anak balita, ada kolam renang air tawar yang bisa jadi alternatif membilas dan sekedar berenang tanpa kuatir tergulung ombak. Untuk orang dewasa, ada banyak rumah makan yang menyewakan kamar mandi air tawar, untuk tempat membersihkan diri.

kolam renang anak parangtritiskolam renang air tawar untuk anak-anak

Seperti biasa, sebelum pulang saya mencari obyek foto yang menurut saya sedikit ganjil dan menarik untuk di jadikan obyek bercanda bersama teman. Setelah tengok kanan, tengok kiri, eh dapat deh obyek foto yang menarik. Biasanya di film-film yang mengambil setting pantai, ada sebuah menaraΒ  petugas penjaga pantai, istilah kerennya sih menara SAR (Save And Rescue). Dan biasanya berisi petugas Baywatch dengan gaya keren, berkacamata hitam, membawa rompi keselamatan, pelampung dan binocular. Di pantai ini ada yang unik lho… lihat nih…

menara sar parangtritisMenara SAR atau SARapan? πŸ˜€

Yang saya temui di pantai ini justru menara kosong yang dijaga oleh ibu-ibu tua, penjual makanan tradisional hehehe…. Yah mungkin petugas SAR yang asli sedang berkeliling kali yee.. Untung saya mengurungkan niat untuk mendekat dan bertanya kepada ibu penjual itu,”Ibu petugas SAR dari jaman tahun berapa ya? Kok kostumnya beda?” πŸ˜€ Nggak laah, becanda saya mah…

Oke, sampai jumpa di kisah saya berikutnya.

Salam hangat,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *