Traveling

Pasar Papringan Ngadiprono, Surga Kuliner di Hutan Bambu

PAPRINGAN. Dalam ingatan saya, kata ini melukiskan sebuah tanah lapang yang ditumbuhi ribuan tanaman bambu. Di tepian desa yang masih alami, jauh dari kebisingan suara kendaraan. Teduh di bawah naungan tanaman bambu yang tinggi dan rimbun.

Yap, dalam bahasa jawa, nama lain dari bambu adalah PRING. Maka PAPRINGAN adalah istilah untuk sekumpulan pohon pring di lahan yang luas dalam jumlah yang tak terhitung.

pasar papringan ngadiprono temanggung surga kuliner
Papringan yang identik dengan kesejukan dan ketenangan (sumber foto: pixabay)

Di masa kecil saya, setiap hari minggu, papringan adalah tempat bermain yang menyenangkan. Setiap hari minggu, tanah lapang di samping papringan menjadi pusat pertunjukan kesenian rakyat.  Yang paling sering tampil adalah kesenian jathilan/jaran kepang dan kesenian topeng monyet. Saat ini bisa jadi kesenian tradisional semacam ini sudah jarang ditemukan di kota kecil sekalipun.

Papringan, Menyimpan Misteri dan Potensi Wisata Tradisional

Saat saya beranjak dewasa, pertumbuhan lahan perumahan semakin menggerus lahan-lahan hijau seperti ini. Ada kerinduan untuk kembali menikmati suasana damai di papringan. Oase kecil di tengah riuhnya aktifitas dunia yang seperti tak berkesudahan.

Memang sih, tidak setiap papringan biasa digunakan sebagai tempat bermain atau pusat pertunjukan kesenian rakyat. Masih banyak papringan yang dianggap sebagai tempat yang menyeramkan.

Padahal sebenarnya papringan bisa dimanfaatkan sebagai wahana eco-wisata. Apalagi kalau digabungkan dengan program pemberdayaan masyarakat desa. Masyarakat setempat dilibatkan sebagai penggerak ekonomi desa. Sekaligus dimanfaatkan untuk mempertahankan kearifan budaya lokal berikut kondisi alamnya yang masih natural.

pasar papringan ngadiprono temanggung
Kesenian tradisional sangat pas disandingkan dengan suasana di papringan.

Untunglah di tepi Kota Magelang masih ada desa-desa dengan alam yang masih asli seperti ini. Salah satunya ada di Desa Tampir Wetan yang pernah saya tuliskan dalam artikel  Little Ubur River Tubing.

Di desa ini saya bisa puas bermain air di hulu Sungai Singgono yang bening dan menikmati kesejukan hutan bambu / papringan di tepian desa. Sayangnya di desa ini masih belum didukung dengan obyek wisata lain seperti pasar rakyat atau pertunjukan seni tradisional sebagai tambahan obyek wisata.

Rute, Harga Tiket dan Waktu Aktif Pasar Papringan Ngadiprono Temanggung 

“Va, sudah pernah mengunjungi Pasar Papringan Temanggung?” tanya teman saya.

“Belum, emang pasar apa itu? Trus ada apa yang menarik disana?”

“Pasar kuliner tradisional, isinya kuliner dan mainan tradisional yang sudah jarang ditemui. Asik tempatnya, cuma buka jam 6 pagi sampai jam 12 siang”

“Lha kalau cuma jajanan pasar, di pasar dekat sini juga banyak, ngapain jauh-jauh kesana?”

“Woooo… ini lain, memang agak jauh kesana, tapi suasananya itu yang berbeda. Kita membeli jajanannya nggak bisa langsung membayar dengan uang rupiah. Tapi ditukarkan dengan keping mata uang pengganti yang diberi nama PRING”.

“Terus ada apa lagi yang menarik?”

“Pemandangan di sepanjang perjalanan kesana yang menarik. Bentangan sawah dan panorama alam dengan latar belakang Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing itu keren banget lho. Rugi kalau nggak traveling ke sana”

pasar paprngan ngadiprono
Pemandangan di sepanjang perjalanan menuju Pasar Papringan Ngadiprono Temanggung
pasar papringan temanggung
Sepanjang perjalanan, barisan pemandangan alam seperti ini memanjakan mata kita

Wah ini… racun traveling muncul dari teman-teman saya. Jarak Temanggung dari Kota Magelang hanya 1 jam perjalanan. Apalagi ketika saya membaca sebuah review di linimasa facebook tentang liputan pasar kuliner tradisional ini. Makin penasaran saya jadinya. Saya mulai mencari informasi tentang pasar papringan ini.

Pasar Papringan Ngadiprono terletak di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Hanya aktif di setiap hari Minggu Pon dan Minggu Wage. Sehingga tidak setiap hari Minggu pasar ini bisa dikunjungi.

Dalam kalender asli budaya Jawa, perhitungan waktu adalah gabungan antara hari, pasaran, bulan dan tahun. Selain nama tujuh hari dalam seminggu (Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu), masih ada istilah pasaran yang yang terdiri dari lima pasaran. Yaitu Pon – Wage – Kliwon – Legi – Pahing.

Maka dalam budaya jawa ada istilah selapanan. Yaitu berulangnya hari pasaran setiap periode 35 hari. Artinya hari Minggu Pon akan ditemukan setiap 35 hari sekali. Demikian pula hari Minggu Wage juga akan berulang setiap 35 hari sekali.

So, sebelum mengunjungi Pasar Papringan Ngadiprono, cek dulu ya hari pasarannya. Kan tidak lucu kalau kita sudah semangat berangkat kesana, eh pas sampai lokasi ternyata zonk!! sepiiiii…. Saat dicek kalendernya, ternyata bukan pas Minggu Pon atau Minggu Wage.

Menurut informasi dari komunitas yang menjadi partner pengelola pasar papringan ini, salah satu tujuan pasar papringan ini adalah untuk konservasi tanaman bambu. Tanaman bambu bisa digunakan sebagai bahan bangunan pengganti kayu. Siklus hidup tanaman bambu lebih pendek, dan bila sudah tumbuh, akan terus berkembang biak. Tanaman bambu bisa menjadi sumber oksigen yang baik untuk daerah sekitarnya.

Selain itu masyarakat desa diberdayakan untuk menjadi pelaku usaha di pasar papringan ini. Semua orang punya peran masing-masing. Ibu-ibu memasak dan menjajakan masakannya, muda-mudi karangtaruna menjadi petugas pendukung, edukator pengunjung maupun menjadi penjaga stan yang ada. Para bapak membantu di bidang perlengkapan dan mengatur parkir pengunjung. Semua mendapatkan bagian rezeki sesuai porsinya.

Apasih Menariknya Pasar Papringan Ngadiprono Temanggung?

Hari Minggu Pon, 8 April 2018 yang lalu, saya beserta beberapa teman baik saya traveling blusukan ke Pasar Papringan Ngadiprono Temanggung ini. Dari Jogja kami berangkat jam 6 pagi. Murni mengandalkan petunjuk yang tertera di googlemaps. Khusyuk mengikuti petunjuk suara dari mbak-mbak GPS.

Betul-betul total mengandalkan peta yang ada di googlemaps. Alhamdulillah lancar perjalanan, sinyal indosat dan telkomsel masih cukup bisa diandalkan hingga sampai ke lokasi. Butuh waktu 2 jam dari Jogja hingga mencapai Pasar Papringan Ngadiprono ini. Peta/GPS selengkapnya bisa dicek di sini.

Begitu kendaraan memasuki jalan desa, kondisi jalanan sedikit menanjak dan berbatu. Meskipun sempit, lebar jalan cukup untuk berpapasan 2 buah mobil ukuran standar. Sekitar 1 kilometer dari jalan utama, sampailah kami di Dusun Ngadiprono. Lokasi parkir memanfaatkan halaman rumah penduduk setempat dan tepian jalan kampung.

Sebaiknya datang sepagi mungkin agar mendapat lokasi parkir yang dekat dengan lahan yang digunakan untuk Pasar Papringan. Oiya, tiket masuk / mobil hanya 5000 rupiah. Tapi saat kita selesai parkir, tetap saja perlu menyediakan uang kecil untuk diberikan pada penduduk yang memberi arahan saat kendaraan kita keluar dari parkiran. 

hutan bambu disulap menjadi pasar papringan ngadiprono
Suasana teduh di Pasar Papringan Ngadiprono

Yang menarik dan unik adalah, sebelum masuk ke lokasi pasar, kita harus menukarkan uang kita dengan mata uang “Pring”. Yaitu kepingan bambu senilai 2000 rupiah/keping. Harga semua makanan dan mainan ditulis dalam pecahan mata uang 1 pring, 2 pring, 3 pring dan seterusnya.

kurs mata uang pasar ngadiprono temanggung
Tukarkan dulu uangmu sebelum belanja, mata uang yang berlaku di Pasar Papringan Ngadiprono hanya pecahan mata uang Pring.
money changer pasar papringan ngadiprono
Money changer di Pasar Papringan Ngadiprono, tukar sesuai jumlah yang diinginkan.
mata uang pring ala pasar papringan ngadiprono
Setiap keping bernilai Rp 2000 , tukarkan sesuai kebutuhan dulu karena tidak bisa ditukar kembali (no refund).

Mengingat harga kuliner dan mainan yang relatif murah, lebih baik kita menukar uang sedikit demi sedikit dulukarena tidak bisa di-refund. Selain itu jarak tempat penukaran uang juga sangat dekat. Misal kita menukar Rp 20.000 atau 50.000 dahulu, kalau habis, baru menukarkan lagi.

Kuliner Makanan dan Minuman Tradisional Ala Pasar Papringan Ngadiprono

Setelah antri menukar uang Rupiah ke mata uang Pring, kita bisa langsung berpetualang dan berbelanja di pasar papringan ini. Selain produk makanan, minuman, ada juga mainan tradisional dan hasil bumi yang dijual sesuai musim.

Tapi kalau hanya ingin menikmati suasana, tersedia juga tempat-tempat untuk duduk santai. Sambil mendengarkan irama gamelan (boleh memberi donasi/saweran). Bisa juga mencoba permainan egrang (dua buah alat dari bambu yang digunakan untuk pijakan kaki saat berjalan-jalan).

permainan egrang dari bambu di pasar papringan ngadiprono
Mau uji keseimbangan badan? Coba deh bermain egrang seperti ini.

Tingkat kebersihan di pasar papringan ini layak diacungi 2 jempol. Relawan yang bertugas membersihkan sampah terlihat sigap. Setiap jarak 10 meteran ada tempat sampah diletakkan. Toilet bersih banyak tersedia di sekitar papringan. Petunjuk arahpun sangat mudah terlihat.

Kisaran harga yang dagangan yang dijual di pasar ini adalah (kurs 1 Pring = Rp.2000)

  • Makanan ringan 1-5 Pring
  • Makanan berat 3-6 Pring
  • Minuman 1-2 Pring
  • Mainan 1-15 Pring
  • Hasil pertanian (singkong, buah, sayur dan sebagainya) 1-15 Pring
menu serba sego di pasar papringan temanggung
Sego/nasi menjadi menu wajib di pasar ini.
aneka jenang bubur tradisional di pasar papringan ngadiprono
Beragam bubur atau jenang bisa mengobati kerinduan pada makanan desa
lesah makanan khas pasar papringan ngadiprono
Lesah adalah menu semacam soto dengan kuah bersantan. Nikmat untuk sarapan pagi.

Makanan berat yang cocok untuk sarapan tersedia di pasar ini. Tinggal pilih saja mau makan nasi, singkong rebus atau jenis makanan berat lainnya seperti soto, lesah, pecel, sego gono, gudheg, arem-arem dan menu lain yang saya sendiri belum pernah mencobanya.

Cemilan tradisional lainnya tak kalah menggoda. Ada lopis, cenil, thiwul, sagon, gathot dan lain-lain. Stan minuman tradisional juga menyediakan puluhan jenis menu. Seperti wedang ronde, dawet, wedang pring (terbuat dari rebusan daun bambu), es jeruk, dan sebagainya.

cemilan tradisional ala pasar papringan temanggung
Cemilan dengan nama khas daerah tersedia dengan harga yang sangat murah.
stan minuman di pasar papringan ngadiprono
Mau beli minum apa?

Jika membawa serta anak-anak kecil, sebaiknya dikenalkan pula dengan aneka permainan tradisional. Ada yang gratisan seperti egrang dan jungkat jungkit bambu. Ada pula yang bisa dibeli di  stan yang menjual ermainan tradisional dari bambu. Misalnya pledhokan, kitiran, gangsing, tulup yang mungkin sudah mulai asing di kalangan penduduk saat ini.

stan permainan tradisional di pasar papringan
Kenalkan anak-anak dengan permainan tradisional dari bambu.
bermain jungkat jungkit bambu di pasar ngadiprono
Jungkat-jungkit dari bambu terasa unik dan menyenangkan untuk bermain anak-anak

Pasar Papringan seluas kira-kira 1500-2500 meter persegi ini semakin siang semakin penuh oleh pengunjung yang berdatangan. Lebih nyaman memang datang lebih pagi sehingga ada waktu cukup untuk menjelajahi pasar dari ujung ke ujung.

Katanya sih ada bangunan yang difungsikan sebagai taman bacaan anak-anak juga disana. Sayangnya saya tidak sempat mengunjunginya.

Tips Berkunjung ke Pasar Papringan Ngadiprono Temanggung

Pasar Papringan Ngadiprono, Temanggung ini menurut saya sangat layak untuk didatangi. Mungkin dalam waktu dekat saya ingin kesana lagi. Ada beberapa tips yang perlu diperhatikan :

  1. Datang sepagi mungkin.
    Pasar buka jam 6 pagi – jam 12 siang. Tapi jam 8 pagi sudah sangat padat pengunjung. Bisa jadi sebelum jam 12 siang pasar sudah banyak pedagang yang kehabisan dagangan. Selain itu datang lebih pagi membuat kendaraan kita bisa parkir sedekat mungkin dengan pasar. Siapkan uang kecil untuk membayar parkir.
  2. Siapkan GPS jika belum pernah kesana.
    Dari pantauan saya, sinyal yang bagus hingga sampai di sana adalah telkomsel. Saya memakai indosat, dan sinyal hanya lancar hingga 100 meter dari pasar, setelah itu hilang.
  3. Perhatikan cuaca.
    Datanglah saat cuaca cerah karena lokasi outdoor dan cenderung becek bila terkena air hujan. Pemandangan dengan panorama Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing sangat indah saat cuaca cerah.
  4. Tukarkan uang secukupnya.
    Karena pengelola pasar tidak menyediakan fasilitas refund mata uang Pring yang sudah terlanjur dibeli. Lebih baik tukarkan sedikit demi sedikit secukupnya.
  5. Gunakan pakaian santai yang cukup hangat bila tidak tahan udara dingin.
    Temanggung memiliki suhu udara yang lebih rendah dibanding kota di sekitarnya seperti Semarang atau Yogyakarta.

Ok begitulah review saya tentang Pasar Papringan Ngadiprono Temanggung. Cek kalender lagi jika ingin piknik kesana. Pastikan hari Minggu Pon atau Minggu Wage waktunya. Have fun 😀

Regards

Eva Zahra

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *