Book Reviews, Traveling

Paspor Ibarat Password Untuk Menjelajahi Dunia

“Lama banget ya proses membuat paspor (passport) itu?”

Itu adalah komentar yang saya ucapkan setahun yang lalu (2017).  Ketika saya mendengar cerita pengalaman kedua orangtua saya tentang proses antrian di Kantor Imigrasi Yogyakarta. Paspor beliau berdua sudah kadaluarsa sejak tahun 2000.

Sehingga perlu membuat paspor baru dengan prosedur yang berlaku saat ini. Saat itu Kantor Imigrasi Yogyakarta belum menerapkan sistem pengajuan passport online dan belum menggunakan aplikasi pendaftaran antrian paspor online.

Bayangkan saja, waktu itu selepas subuh sudah ada harus datang ke Kantor Imigrasi Yogyakarta untuk mengambil nomor antrian. Lha rumah kami jauh dari lokasi Kantor Imigrasi Yogyakarta. Jadi pilihannya cuma ada dua, berangkat dini hari, atau bermalam di Jogja sebelumnya. Jumlah antrian yang dilayani dalam seharipun terbatas.

Lalu bagaimana kalau datang kesiangan? Ya tidak dapat nomor antrian. Artinya harus kembali hari berikutnya hanya karena kehabisan nomor antrian.

Setelah mendapat nomor antrian, proses perjuangan baru dimulai. Harus standby menunggu nomor antriannya dipanggil. Benar-benar butuh waktu setengah harian tanpa bisa ditinggal pergi. Semangaaat! ūüėÄ

See? Membayangkannya saja saya sudah males ūüėÄ

Padahal katanya energy flows where attention goes. Kalau pikiran saya fokus ke susahnya membuat paspor di Indonesia, bagaimana bisa muncul “hidayah” untuk traveling ke luar negeri? #SelfKeplak

Mungkin mindset ini yang membuat wilayah jelajah traveling saya baru di Indonesia saja. Karena saya yang membatasi pikiran saya sendiri.

If you really want to do something, you’ll find a way.¬†

If you don’t, you’ll find an excuse

(Jim Rohn)

 

Paspor Ibarat Password Memasuki Dunia Global

Mindset saya berubah saat membaca sebuah buku berjudul 30 Paspor Di Kelas Sang Profesor. Ditulis oleh J.S Khairen. Ada dua jilid, berisi reportase 30 kisah yang dialami oleh para mahasiswa Universitas Indonesia yang mengikuti mata kuliah Marketing Internasional. Mata kuliah itu diampu oleh Prof. Rhenald Kasali, Phd.

Ujian yang diberikan untuk lulus dari kelas tersebut adalah: backpacking ke negara yang tidak serumpun dengan Indonesia. Lupakan Malaysia, Singapura, Brunei Darusalam, Filipina dan Timor Timor.

passport adalah password

Mereka belajar untuk traveling sendirian di negara yang berbeda jauh bahasa dan budayanya. Satu negara hanya boleh diajukan oleh 1 mahasiswa. Semakin lama mengajukan, makin sedikit pilihan negara yang dekat dengan Indonesia. Semakin mahal biaya yang diperlukannya.

Mereka tidak boleh memakai tour guide atau bantuan jasa biro travel. Belajar mandiri mengurus semua keperluan untuk travelingnya sendiri. Mulai dari membuat paspor, mengumpulkan dana, memesan tiket perjalanan, mencari tempat tinggal selama di sana, hingga menyusun ittinerary perjalanan.

Sudah jelas para orangtua mahasiswa ini banyak yang menentang tugas ini. Tapi tugas ini adalah ajang “latihan terbang” bagi para calon rajawali. Sebagian dari mereka bukan orang yang berada. Jadi terbayang, kan perjuangan mereka?

Biaya tidak boleh menjadi kendala. Karena begitu seorang pemula bertanya “Biayanya dari mana?” Maka dia terbelenggu oleh constraint.¬†Dan jawaban yang muncul hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. Bagaimanapun caranya mereka harus bisa berangkat dalam waktu paling lambat 1,5 bulan dari waktu awal kuliah.

Di awal pertemuan kuliah, mereka langsung mendapat tugas untuk mengurus paspor. Karena paspor ibarat surat izin untuk memasuki dunia global. Kunci untuk menjelajahi dunia yang luas ini.

Solo traveling adalah cara untuk menumbuhkan mental self driving , berani mengambil peran utama dan bukan pasrah bermental passanger (penumpang). Mereka dilatih untuk menjadi pribadi yang bebas, memiliki jiwa yang mandiri dan bertanggung jawab penuh atas keputusan hidupnya.

30 kisah berisi petualangan mahasiswa-mahasiswi ini, berani nyasar sendirian di negara yang baru pertama kali mereka datangi.  Berusaha menyesuaikan diri dan menikmati perjalanannya. Hingga pulang dengan rasa bangga karena bisa melewati prosesnya.

Dengan Nyasar, Kita Jadi Banyak Belajar

(Kata Eva Zahra)

 

Munculnya Alasan Kuat Untuk Membuat Paspor  

Tahun 2018, qodarullah saya mendapat “hidayah” ingin berangkat umroh. Salah satunya karena provokasi dari teman baik saya yang sudah dua kali berangkat umroh. Tidak tanggung-tanggung, 1 bulan penuh dia tinggal di Madinah dan Mekah.

Pengalaman umroh ramadhan sebulan penuh yang dia ceritakan membuat saya kepingin juga merasakannya. Benar-benar provokator, bermodal cerita pengalaman dia saat umroh, membuat saya mupeng untuk merasakan sensasi umroh di Bulan Ramadhan juga. Meskipun mungkin tidak sebulan penuh, tapi mengalami sensasi Bulan Ramadhan disana.

Saat itu alokasi dana umroh saya belum mencukupi. Kembali lagi, energy flows where attention goes. Mungkin karena Allah tahu bila pikiran saya fokus ke keinginan untuk umroh, kemudahan demi kemudahan mulai bermunculan.

Alhamdulillah ada rezeki numplek, tiba-tiba saya mendapatkan rezeki uang yang jumlahnya lumayan, bisa untuk mendaftar berangkat umroh. Kejutan yang menyenangkan.

Saya menggunakan jasa Biro Umroh Madinah Iman Wisata Bantul, yang mendampingi perjalanan umroh kedua orangtua saya tahun lalu. Ndilalah (kebetulan) sekarang ada layanan tambahan yang disediakan tahun ini. Dimana calon jamaah umroh bisa meminta petugas dari biro untuk datang ke rumah untuk memberikan penjelasan lengkap.

Mulailah proses perjalanan menuju umroh selanjutnya yaitu membuat paspor. Yang tadinya males dilakukan, tapi karena kebutuhan, saya menjadi bersemangat untuk segera memilikinya.

Umroh bisa jadi menjadi alasan pertama penggunaan paspor, selanjutnya wallahu a’lam. Kayak apa ya serunya jika berlanjut dengan perjalanan-perjalanan berikutny? Hehe.. sudah kemana-mana imajinasi saya.

Yup, paspor adalah password untuk menjelajahi dunia. Langkah awal adalah mendapatkan surat pengantar dari biro umroh sebagai pengantar untuk mendapat surat rekomendasi pembuatan paspor dari Kantor Kementerian Agama Kota Magelang. Bagaimana cara membuat paspor umroh dilakukan? Tunggu di artikel selanjutnya ya…

Regards,

Eva Zahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *