Traveling

Ada Pelangi di Kampung Tridi Jodipan Malang

Warna-warni pelangi di rumah penduduk Kampung Tridi Jodipan menceriakan hati dan menambah indah hari ini.

Kriiiiit…..suara gesekan besi roda kereta api dengan rel terdengar semakin jelas. Kereta api Malioboro Ekspres perlahan  mulai melambat. Saya memandang ke arah luar jendela, hmmm…masih gelap, tak terlihat jelas pemandangan di luar sana, bahkan hantu pun tak kelihatan 😀

Saya aktifkan kembali gadget saya yang ikut terlelap semalaman, ternyata sudah jam 4 pagi. Suara mbak-mbak gemes yang terdengar dari speaker di dalam Kereta Api Malioboro Ekspres mengatakan bahwa kereta api sudah sampai di Stasiun Malang.

pelangi di kampung tridi jodipan malang

Sambil sesekali menguap dan kucek-kucek mata, saya merapikan tas ransel hitam berisi baju dan tas selempang berisi perbekalan lainnya untuk tinggal selama 2 hari di Kota Batu. Yap… kali ini perjalanan traveling saya bukan dalam rangka mencari bahan tulisan sebagai Travel Blogger Indonesia. Tapi untuk mengikuti acara Gathering Nasional Komunitas Pola Pertolongan Allah di Kota Batu tanggal 19 – 20 November 2016 ini.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa sih Komunitas Pola Pertolongan Allah itu? Semacam MLM kah? Hehe… jauuuuuh. Tidak ada hubungannya dengan MLM. Ini adalah sebuah komunitas alumni pelatihan yang pernah saya ikuti. Bukan tentang bisnis, bukan pula klenik, dan bukan pula pelatihan motivasi diri.

kampung tridi jodipan

Ini adalah komunitas tempat saling mengingatkan dan mengajak kembali menerapkan konsep tauhid, di dalam setiap sendi-sendi kehidupan kita. Nantilaaah saya ceritakan di sesi yang lain ya…

Duh..masih mengantuk sangat. Saya jarang bisa tidur nyenyak dalam perjalanan dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Tapi kali ini, kereta api adalah sebuah pilihan yang paling pas dengan waktu yang saya butuhkan.

Baca juga:
D’travelers: Escape to Malang
Dtravelers: Lost in Malang 

Saya sapukan pandangan ke sekeliling area stasiun, masih sangat sepi. Sayup-sayup terdengar lantunan suara adzan subuh yang memanggil-manggil saya untuk segera mencari mushola. Segera saya menuju mushola sambil membawa tas ransel dan menahan keinginan untuk sejenak berbaring di kursi tunggu yang empuk menggoda.

Kewajiban sholat subuh sudah ditunaikan, saatnya meluruskan badan sejenak setelah duduk di kereta api selama 7 jam dari Kota Jogjakarta. Semburat cahaya terang sudah terlihat di langit pagi itu. Jam dinding menunjukkan pukul 05.30 WIB. Di luar mushola terlihat kegiatan para pegawai Stasiun Malang yang sedang membersihkan dan maintenance kereta api yang baru datang maupun yang akan berangkat.

Saya masih punya waktu sekitar 3 jam sebelum jadwal penjemputan dari Hotel Purnama, Kota Batu, sambil menunggu kedatangan sahabat-sahabat saya, Bang Anto dan Teh Esa yang juga sedang dalam perjalanan menuju Kota Malang.

Tiba-tiba Ngatno (nama samaran) salah seorang teman saya yang tinggal di Malang menghubungi saya dan mengajak saya untuk mencari sarapan sambil menunggu kedatangan teman-teman yang lain. Wah kebetulan, perut saya sudah lapar sangat. Jadilah pagi itu saya sarapan nasi pecel sambil menikmati suasana alun-alun Kota Malang.

alun alun kota malang

Saat perut sudah terisi amunisi, baiknya segera digunakan untuk jalan-jalan 😀 Mau kemana kita?

Baca juga :
Museum Angkut atau Naik Angkot?
Omah Kayu dan Bukit Paralayang 

Yuk Mari Menyusuri Kampung Tridi Jodipan Kota Malang

Tak jauh dari alun-alun Kota Malang ternyata ada obyek wisata baru yang sedang happening di jejaring sosial karena keunikan pemandangannya yaitu Kampung Warna Jodipan, atau dikenal juga dengan nama Kampung Tridi Jodipan. Hmm.. nama yang menarik untuk dikepoin.

Sekitar 10 menit perjalanan, dari atas sebuah jembatan terlihatlah ratusan rumah dengan cat warna-warni kontras dan lukisan mural di dinding-dindingnya, tepat di pinggir bantaran Sungai Brantas yang membelah kampung itu.

kampung tridi jodipan malang

Cantik ya warna rumah-rumah itu. Tak terlihat lagi kesan kumuh yang dahulu identik dengan kampung di pinggir Sungai Brantas ini. Untuk mencapai daerah itu, kami harus menapaki tangga menurun yang sempit dan berliku.

Dua orang ibu-ibu kampung menahan langkah kami. “Mbak, ada biaya partisipasi untuk pengecatan kampung, cuma 2000 rupiah”, katanya.

Ternyata untuk menambah uang kas kampung, warga berinisiatif mencetak stiker masing-masing seharga 2000 rupiah sebagai tanda partisipasi pengunjung obyek wisata untuk biaya pengecatan kampung.

jalan pelangi di kampung jodipan

tangga warna warni kampung warna jodipan malang

Kami harus melewati jalan menurun untuk mencapai bantaran sungai Brantas. Berliku-liku naik turun bagai labirin, melewati rumah-rumah warga. Benar-benar kampung asli yang diwarnai, bukan cuma dinding yang dicat mencolok, bahkan jalanan dan atap pun dicat.

Siapkan kaki yang kuat dan nafas yang panjang bila akan kesini 😀 Sejenak saya mampir untuk membeli minuman di warung salah satu warga. Hosh…hosh… #ElapKeringat. Beristirahat sejenak sambil bertanya pada warga kampung tentang sejarah bagaimana awalnya terwujud kampung warna ini.

mural di kalmpung warna jodipan

Ternyata, inisiator awal dari adanya proyek pengecatan kampung Jodipan ini adalah sekelompok mahasiswa UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) yang bekerja sama dengan sebuah perusahaan cat dan melibatkan masyarakat serta seniman. Tujuannya adalah untuk mengubah kampung Jodipan yang awalnya terkesan kumuh, menjadi sebuah kampung wisata yang cantik dan bersih.

Mengapa Disebut Sebagai Kampung 3D (Tridi) Jodipan?

Dinding-dinding rumah warga dilukis oleh seniman-seniman mural dengan lukisan yang sekilas seperti lukisan 3 dimensi. Banyak jenis lukisan 3D yang menarik untuk digunakan sebagai spot selfie dan wefie.

lukisan 3D tridi di kampung warna jodipan

spot selfie di kampung jodipan

Jika awalnya hanya kampung di bagian kanan sungai yang menjadi obyek percobaan pengecatan. Kerjasama dan partisipasi warga dan para seniman yang membuat proyek kampung warna ini menjadi terwujud. Namun saat kampung ini mulai terkenal di jejaring sosial dan menarik ratusan wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang, maka kampung di seberang sungai pun ikut berbenah.

Ada 2 buah jembatan yang melintang di atas Kampung Jodipan ini, yang satu adalah jalur lalu lintas utama yang dilintasi kendaraan bermotor yang membelah Malang, satunya lagi adalah jembatan kereta api menuju Stasiun Malang.

Seandainya kereta api yang saya naiki dari Jogjakarta semalam sampai di Kota Malang saat cuaca sudah terang benderang, maka akan ada pemandangan cantik warna pelangi di kampung Jodipan yang menyambut kedatangan saya dari balik kaca jendela kereta.

Begitupun bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kampung Jodipan ini, bila pas waktunya, akan ada pemandangan menarik saat kereta api melintas di atas jembatan dan kita melihatnya dari pinggiran Sungai Brantas tepat di tengah kampung ini.

kampung tridi

kampung tridi jodipan blimbing malang

Sisi kampung yang awal dijadikan obyek wisata menggunakan nama KWJ (Kampung Wisata Jodipan), sedangkan sisi kampung seberang sungai menggunakan nama Kampung Tridi. Bila teman-teman suatu saat nanti berkunjung kesini, siapkan alas kaki yang nyaman untuk berjalan jauh, siapkan alat dokumentasi full amunisi dan bekal minuman yang cukup. Karena akan ada banyak sesi jalan-jalan naik turun tangga kemana-mana.

Saya melirik jam, huwaduh…sudah jam setengah sembilan, belum puas rasanya menikmati perjalanan wisata yang tak direncanakan. Tapi saya harus segera menuju Stasiun Malang lagi agar tidak ketinggalan mobil jemputan dari hotel untuk menuju Kota Batu dan mengikuti acara Gathering Komunitas PPA.

Alhamdulillah, bersyukur Allah beri banyak kemudahan dan kejutan menyenangkan dari teman-teman yang membersamai saya saat traveling di kota manapun. Senang sekali rasanya bisa menyaksikan warna warni pelangi di kampung tridi Jodipan Kota Malang.

Next, saya akan cerita tentang serunya acara gathering dan traveling di Kota Batu.

Tunggu yak….

Regards,
Eva Zahra

4 thoughts on “Ada Pelangi di Kampung Tridi Jodipan Malang

    1. Duh asem tenan… Ngeri-ngeri sedap kalo sampai macam tu. Bisa kali ye dia nanti bantuin aku mencari ide tulisan baru yang antimainstream.

Leave a Reply to maeyda Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *