Kehidupan

Pengamen Do’a

Seorang pengamen tampak sedang bernyanyi di depan sebuah rumah yang indah. Dengan baju rapi dan penampilan bersih, berbekal gitar yang terawat dan suara yang enak didengar. Sebelum bernyanyi, dia minta ijin dengan kata-kata yang baik dan nada suara yang sopan.

Pengamen itu menyanyikan beberapa lagu dengan tempo sedang. Tak terlihat tergesa-gesa untuk selesai, terlihat bahagia dan senang saat bernyanyi. Siapapun yang melihatnya, pasti tahu bila dia menikmati pekerjaannya. Saat beberapa lagu selesai dia nyanyikan, dia menutup penampilannya dengan sopan dan mendo’akan pendengarnya dengan do’a-do’a yang baik.

Di lain waktu, datanglah ke rumah itu seorang pengamen dengan penampilan acak-acakan. Pakaian tak tertata rapi, badan terlihat kotor dan tak terawat. Membawa alat musik seadanya, sebuah kecrekan yang terbuat dari rangkaian tutup botol yang dilekatkan pada sepotong bambu.

Pengamen ini bernyanyi dengan nada sumbang tak jelas nadanya. Lagu yang dibawakan penuh dengan protes sosial, menyalahkan keadaan dan sebagian liriknya menyindir dan menyalahkan orang lain atas kondisi hidupnya saat ini. Cara pengamen ini menutup penampilannya pun tak kalah buruk dgn kualitas suaranya.

Saat kedua pengamen itu sudah selesai menyanyikan lagunya. Pengamen yg yang berpenampilan rapi dan sopan itu mendapatkan uang saweran yang berlebih dari si pemilik rumah. Sedangkan pengamen yang berpenampilan acak-acakan dan tidak sopan ini hanya mendapatkan hasil seadanya dari si pemilik rumah, itupun hanya sebagai alasan agar dia lekas  menyingkir dari depan rumah itu.

Sekarang coba kita bandingkan dengan cara kita berdo’a. Mungkin saja posisi kita saat ini adalah sedang “mengamen” di hadapan Allah.

Coba cek penampilan kita saat itu, sudah rapikah? Sudah bersihkah?

Cek lagi, sopankah kita saat meminta ijin sebelum berdo’a?

Perhatikan isi do’a kita, apakah menyenangkan isinya, atau justru berisi keluhan dan kata-kata yang menyalahkan keadilan Tuhan?

Lihat kembali sikap kita saat berdo’a, apakah kita menikmati proses berdo’a kita?

Apakah raut wajah dan hati kita menyenangkan dan indah untuk dipandang?

Setelah selesai berdo’a, apakah kita mengakhiri do’a kita dengan kata-kata yang baik dan indah? Ataukah kita terburu-buru minta imbalan?

Seandainya kita adalah pengamen, dan Allah adalah yang menikmati lagu kita. Sudah pantaskah kita mendapatkan hasil yang sesuai dengan penampilan kita?

Sebuah renungan sederhana dari apa yang saya lihat di sebuah babak perjalanan hidup saya. Sebagai pengingat dan menjadi metafora atas kehidupan ini.

Semoga bermanfaat,

Salam Hangat…

@EvaZahraa

2 thoughts on “Pengamen Do’a

    1. Sama Bu Deis, renungan ini saya dapat saat saya sedang sebal mendengarkan suara seorang pengamen 😀 Biar ga terus-terusan sebal, saya balik aja sudut pandangnya. Smg bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *