Lesson in Life, Notes

Penjara Imajiner

“Ibu mau berangkat jam berapa?” , tanya saya.

Beliau menjawab, “Kalau ibu nanti check up kesehatan sampai siang, nanti siapa yang mengangkat jemuran jika hujan?”.

Saya butuh waktu jeda beberapa saat sebelum akhirnya tertawa dan menjawab, “Jemuran kan bisa dimasukkan rumah dulu, nanti baru dikeluarkan lagi saat ibu sudah pulang”.

Dialog ini terjadi di suatu pagi, saat ibu saya terlihat sedikit galau ketika akan berangkat check up kesehatan rutin sebulan sekali. Keluarga kami tidak mempekerjakan ART (Asisten Rumah Tangga) sejak dahulu. Ayah dan Ibu saya berprofesi sebagai PNS dengan lima orang anak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa bantuan ART. Semua kegiatan dibagi-bagi.

Rasa tanggung jawab pada urusan rumah inilah yang kadang memunculkan dialog-dialog tak terduga semacam itu. Tanpa sadar mengkhawatirkan sesuatu yang sebenarnya mudah solusinya. Dan terkadang membuat kita menunda melakukan aktifitas lain yang lebih bermanfaat.

Penjara imajiner, penjara yang tak terlihat. Istilah ini yang saya sematkan pada hal-hal semacam ini. Sesuatu yang membatasi pertumbuhan hidup kita. Kita tanpa sadar kadang-kadang terpenjara oleh hal-hal yang menghambat kemajuan dan aktifitas produktif kita. Bisa jadi karena kita terlalu fokus sehingga menempatkannya sebagai tanggungjawab utama, sementara orang lain melihatnya bukan sebagai yang utama. Tapi  bisa juga hanya menjadi alasan karena pikiran bawah sadar kita tak mau meninggalkan zona nyaman untuk melakukan aktifitas yang lebih penting.

Coba mari kita ingat-ingat kembali saat dahulu kita menginginkan sesuatu sehingga kita berusaha mati-matian untuk mendapatkannya. Saat hal itu sudah berhasil kita dapatkan, adakah diantara kita justru menjadi terpenjara dengan hal itu? Bisa berupa benda, misalnya gadget, smartphone yang akhirnya membuat kita lupa waktu untuk produktif. Bisa berupa usaha yang belum autopilot sehingga tidak bisa berjalan saat kita tidak ada di tempat. Bisa berupa prasangka negatif, ketakutan ataupun kekhawatiran yang membuat kita pesimis. Bisa juga berupa gengsi pribadi yang justru membuat kita sulit berkembang.

Apakah penjara imajiner itu buruk?

Hmmm…tergantung bagaimana kita mengambil manfaatnya.

Jika kita sadar akan adanya sebuah penjara imajiner dalam kehidupan kita dan kita malah berlama-lama menikmatinya, itu akan menjadi bencana besar dalam pertumbuhan kehidupan kita. Tapi bila kita sadar akan adanya penjara imajiner itu dan segera mencari solusinya, maka ini akan menjadi alarm yang baik untuk kehidupan kita yang lebih baik.

Coba deh yuk bertanya pada diri sendiri. Adakah penjara imajiner dalam kehidupan teman-teman semua?

Regards,

@EvaZahraa

3 thoughts on “Penjara Imajiner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *