Lesson in Life

Perbaiki Niat

Beberapa waktu yang lalu saya bertanya kepada salah satu mentor saya dalam sebuah acara training wirausaha. Saat itu kami tengah berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan PASSION.

Saya : “Menurut Bapak, apa kira-kira yang menyebabkan passion yang telah bertahun-tahun saya nikmati, tiba-tiba kehilangan daya tarik lagi?

Pak Mentor : “Coba tanyakan kembali ke niat saat mengerjakan passion.  Untuk mengejar akherat apa mengejar dunia? Mungkin saat itu niatmu telah terkontaminasi dengan keinginan duniawi. Misalnya: fokus hanya mengejar materi, ingin terlihat hebat didepan orang lain, mengharap pujian orang lain, atau berharap ucapan terimakasih dari orang lain. Maka saat hal itu tak terpenuhi, kamu akan kehilangan semangat menjalani PASSION mu”.

Saya tercenung mendengar jawaban beliau yang langsung pada pokok permasalahannya. Ya… Hal-hal itu sempat saya alami.

Pada awalnya mengerjakan hal-hal yang sesuai dengan passion terasa sangat menyenangkan. Apalagi saat bisa digabungkan dengan bisnis yang menghasilkan keuntungan materi. Pekerjaan yang saya tekuni berubah menjadi ajang rekreasi. Tak sabar untuk segera berjumpa dengan hari berikutnya, untuk bersibuk-sibuk ria dengan passion dan hobby saya.

Saat saya mulai harus mencari tim dan karyawan untuk mengembangkan usaha saya, saat itulah tanggung jawab dan niat awal saya diuji. Karena terkadang saya menyamakan passion mereka dengan passion saya. Sementara tiap-tiap orang mempunyai alasan sendiri-sendiri saat memasuki dunia kerja.

Di situlah niat saya mendapat ujian, bagaimanapun juga sebagai pemilik usaha, saya wajib memenuhi hak-hak karyawan saya. Perhitungan keuntungan materi mulai mengambil peran disini.

Begitupula saat saya menjalin relasi dengan rekanan maupun pelanggan. Pertimbangan kerjasama bisnis terkadang berbenturan dengan kenyamanan perasaan saya. Nilai-nilai yang sesuai dengan passion saya terkadang harus di kesampingkan.

Tindakan dan keputusan yang saya ambil mungkin ditafsirkan secara berbeda oleh orang lain. Keteguhan hati dan kesabaran benar-benar harus dijaga disini. Sehingga harus ada kompromi yang dilakukan agar kepentingan bersama bisa terwujud.

Sebuah tindakan yang bagi saya adalah berdasarkan niat yang baik, boleh jadi suatu saat dinilai orang lain sebagai sebuah gangguan dalam hidupnya. Dan saat penilaian tersebut berubah menjadi sebuah gunjingan, maka kebesaran hati lah yang diuji kemampuan untuk memahami dan memaafkannya.

Pujian dan ucapan terimakasih yang saya perolehpun ternyata lambat laun membuat hati ini menjadi keras. Membuat diri ini lama kelamaan menjadi kecanduan. Dan suatu saat membuat saya kurang dapat membedakan antara kata hati nurani dengan keinginan untuk menunjukkan jasa pada orang lain.

Sehingga hati ini mudah sekali terpengaruh suasananya saat terbersit pamrih mendengar ucapan terimakasih. Hati ini terluka saat ada karyawan yang keluar dan mendirikan usaha sendiri. Hati ini sedih saat niat baik dinilai sebagai hal yang mengganggu kehidupan orang lain.

Lambat laun, aktifitas yang sebelumnya adalah Passion bagi saya, berubah menjadi rutinitas belaka. Dan di titik itulah kejenuhan melanda.

Renungan itu menjadi sebuah “tamparan keras” yang membuat saya kembali diingatkan pada niat awal saya saat pertama kali menemukan kegiatan yang menjadi Passion saya.

Kemudian saya bertanya lagi pada mentor saya tersebut.

Saya :”Lalu bagaimana agar kenyamanan menjalankan bisnis yang sesuai dengan passion itu bisa kembali?”

Pak Mentor : “Jadikan hal itu menjadi bisnis antara dirimu dengan Tuhan mu. Kerjakan passion mu sambil diniatkan untuk berbagi ilmu yang bermanfaat. Saat menghasilkan keuntungan materi, berniagalah dengan Tuhan mu.”

Saya : “Maksudnya bagaimana, ya?”

Pak Mentor :”Hartamu yang sesungguhnya kamu miliki adalah yang kamu belanjakan untuk kebutuhan menghadap Tuhan mu.Banyak-banyaklah membelanjakan hartamu untuk beramal dan bersedekah.”

Saya :”Contohnya bagaimana, Pak?”

Pak Mentor :” Contohnya, targetmu bukanlah berapa banyak keuntungan usahamu. Tapi bisa kamu wujudkan dalam berapa banyak orang yang dapat meneruskan ilmu yang kamu ajarkan. Berapa banyak karyawan yang dapat kamu kader untuk menjadi pengusaha mandiri, sehingga dapat menjadi makelar rejeki bagi orang lain. Berapa jumlah anak yatim dan anak asuh yang bisa kamu santuni. Karena pada akhirnya ini bukan bisnis antara kamu dengan orang lain. Tapi adalah bisnis antara kamu dengan Tuhanmu.”

#Plakk… Kena “tamparan” lagi deh… 😀 Baiklaaah…. Mari ditata ulang dan diperbaiki dari awal…

Curcol siang… Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *