Book Reviews, Personal Life

Perjalanan Mencari Sebuah Titik

Suatu saat titik-titik itu akan membawa kita kepada sebuah garis atau menjadi sebuah bangun yang semuanya akan bermuara kepada : Simpul Tuhan.

Sebuah buku berwarna biru gelap terselip diantara deretan buku-buku yang ada di lemari buku saya. Dengan desain sederhana berwarna gelap, hampir polos namun pandangan mata yang melihatnya akan terpusat pada sebuah bulatan kecil berwarna biru kehijauan, tepat di tengah halaman sampul buku itu.

Buku kecil dengan panjang seukuran telapak tangan itu berisi duapuluh empat kisah penuh hikmah, yang menjadi hasil perenungan dan menjadi catatan proses perjalanan kehidupan dari seorang tokoh bernama Genta.

Perjalanan hidup adalah proses membaca pola kehidupan. 

Genta mengumpulkan puzzle-puzzle kehidupannya. Potongan puzzle yang menunggu untuk dirangkai menjadi titik-titik yang terus menerus terhubung, membentuk sebuah pola yang mewujud menjadi sebuah gambaran besar tentang makna kehidupan.

Di setiap kejadian yang Genta temui sehari-hari, selalu ada hikmah yang dia renungkan dan dia catat yang berkaitan dengan “Simpul Tuhan”. Selalu ada pelajaran hidup yang memberdayakan sebagai hasil perenungannya atas kehidupan.

Kehidupan ini seperti permainan ular tangga. Kita semua sama-sama mulai dari nol, kemudian kita melempar dadu untuk menentukan kemana harus melangkah untuk pertama kali. Kadang kita mendapatkan keberuntungan, menaiki anak tangga yang tinggi dan otomatis menyingkat perjalanan. Tapi kadang kita mendapat buntut ular. Yang akhirnya kita harus turun. Ada yang turunnya rendah, tapi ada pula yang menukik tajam.

(Titik ketujuh, Ular Tangga Kehidupan)

Membaca buku ini kembali, bagaikan membaca kembali sebuah cerita yang sama dengan sudut pandang yang berbeda. Mencari sebuah titik, judul buku itu, ditulis oleh Torianu Wisnu (Tori), seorang sahabat yang saya kenal sejak beberapa tahun yang lalu. Buku yang sama, rasa yang berbeda.

Kok bisa?

Bisa donk… sebelum buku ini terbit, saya sudah membaca draft awal buku ini yang semula menggunakan POV (Point Of View) orang pertama. Dan saya menikmati ceritanya, bagaikan mendengarkan Tori bercerita tentang hidupnya dengan bahasa sehari-hari seperti yang biasa dia gunakan.

Menulis adalah sebuah cara untuk mengikat ilmu.

Pikiran itu bagaikan sebuah ruang penyimpanan, hanya mengeluarkan informasi yang pernah disimpan di dalamnya. 

Kemudian draft buku itu akhirnya terbit lewat penerbit Indie dengan sampul kelam berwarna hitam. Dan beberapa bulan berikutnya, buku ini terbit kembali dengan penerbit mayor yaitu Quanta.

Pada buku yang diterbitkan inilah terjadi perubahan POV, dari POV orang pertama menjadi POV orang ketiga. Nah disinilah perbedaan rasa ini muncul. Saya lebih menikmati POV orang pertama seperti yang ada dalam draft buku awal. Mungkin karena saya diberi kesempatan untuk membacanya duluan ya, jadi bisa membandingkan.

Overall bahasanya seperti orang yang bercerita langsung di depan kita. Lay out halaman yang lebih ramah untuk mata dengan warna latar belakang tiap halaman dan pilihan huruf yang menarik ditangkap mata.

Bagi pembaca yang punya pola pikir random dan melompat-lompat alurnya seperti saya, pergantian dari satu “titik” ke “titik” berikutnya tidak menjadi hal yang sulit diikuti. Hanya saja bagi orang-orang yang terbiasa berpikir linier dan runtut alurnya, bab demi bab (titik demi titik) dalam buku ini seperti ada mata rantai yang tidak terjalin dengan rapat.

Bila saya harus memberi rating untuk buku ini dari skala 1 hingga 5, buku ini ada di skala 3, menarik untuk dibaca dan dinikmati.

Ini adalah review buku gaya bebas ala Eva Zahra 😀

mencari sebuah titik

Judul : Mencari Sebuah Titik
Penulis : Torianu Wisnu
Tebal : xiv + 160 halaman
ISBN : 978-602-02-7217-7
Tahun terbit : 2015
Penerbit : Quanta, PT Elex Media Komputindo

 

 

Sama seperti hidup, buku ini layaknya puzzle. Setiap pribadi berhak menyusun dan merangkai puzzle-nya masing-masing. Begitu pun kita memiliki potongan demi potongan yang tersusun secara “acak” dalam buku ini.

(BLURB dari buku Mencari Sebuah Titik)

Dari sebuah buku yang dituliskan oleh orang lain, kita bisa menjadikannya sebagai cermin dan pengingat atas perjalanan mencari sebuah titik dalam hidup kita. Belajar peka pada pola-pola yang ada dan mengambil hikmah dari setiap titik pitstop dalam kehidupan kita

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *