Personal Life

Perjalanan Menuju Pulang

Hari ini saya mendengar kabar duka bahwa seorang teman sekolah saya meninggal dunia. Dia meninggal karena serangan jantung, di saat sedang menemani anaknya bermain sepeda. Mengejutkan sekaligus menjadi renungan dzikrul maut. Bahwa kematian itu sangat dekat. Kita tak pernah tahu kapan batas akhir hidup kita.

Teringat kembali saya pada isi kajian pagi yang beberapa hari yang lalu saya ikuti. Saat itu Ustadz Syatori Abdurrauf memberikan kajian tentang Bagaimana Menjemput Husnul Khotimah. Ada sebuah kisah yang menjadi renungan diri, menjadi sebuah cermin untuk berkaca tentang kesiapan diri saat ajal menjemput nanti. Kisah itu ada dibawah ini:

Kisah Ummu Hana

Namanya Ummu Hana. Beliau sedari kecil dididik oleh orangtuanya untuk mencintai dan mengamalkan isi ayat-ayat dalam Al Qur’an. Pada usia 12 tahun,  Ummu Hana memulai proses menghafal Al Qur’an.

Pada usia 15 tahun, Ummu Hana menderita sakit panas yang mengakibatkan pita suaranya rusak. Namun, walaupun suara nya hilang, Ummu Hana tetap hidup bersama hafalan al qur’an. Ummu Hana terus melanjutkan usaha menghafal Al Qur’an dan tetap melakukan muroja’ah. Hingga akhirnya di usia 17 tahun Ummu Hana berhasil mengkhatamkan Al Qur’an, tanpa suara,  dalam sunyi. Mungkin hanya Allah dan Ummu Hana yang tahu bahwa Ummu Hana telah berhasil menghafal Al Qur’an.

Pada usia 24 tahun, Ummu Hana menikah dan menjalani  tahun-tahun bersama keluarganya, hingga Allah karuniakan anak dan cucu.

Suatu ketika, disaat Ummu Hana berusia sekitar 60 tahun, di suatu malam yang sunyi, suami beliau mendengar suara seorang wanita yang sedang membaca Al Qur’an. Terasa aneh karena sekian lama tak pernah ada suara ini terdengar di rumah mereka.

Sang suami mencari sumber suara itu. Ternyata arahnya berasal dari musholla keluarga. Dan sang suami mendapati bahwa Ummu Hana sedang mengaji. Takjub dan heran, karena baru pertama kali ini Suami Ummu Hana bisa mendengar suara istrinya saat mengaji setelah sekian puluh tahun mendampingi Ummu Hana yang kehilangan kemampuan berbicaranya.

Suara Ummu Hana sangat indah dan sangat merdu. Sang suami duduk menyimak dari luar musholla. Beliau mendengarkan dari luar karena takut mengganggu kekhusyukan Ummu Hana.

Ummu Hana membaca Al Qur’an Juz 30. Ketika sampai di akhir  Surat An Naas. Ummu Hana kemudian membaca do’a khatmil quran. Sang suami berpikir, mungkin Ummu Hana baru saja mengkhatamkan Al Qur’an.

Kemudian Ummu Hana membaca do’a : “Allahummaj’alna min Ahlil Qur’an allaziina hum ahluka wa khassatuka yaa arhamarrahimiin”.

Beliau berdo’a agar Allah menjadikan beliau dan keluarga sebagai ahli Al Qur’an dan menjadikan mereka keluarga dekat yang Allah kasihi.

Suami Ummu Hana meng-Aamiiin-kan do’a istrinya dengan sepenuh hati. Kemudian sang suami melihat Ummu Hana tertunduk diam. Mungkin Ummu Hana lelah, pikir sang suami. Sekian waktu berselang, Ummu Hana terus tertunduk diam. Hingga akhirnya, saat sang suami mendekat dan berusaha membangunkan, ternyata Ummu Hana telah wafat.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Wahai diri, ingatkah bahwa kita akan diwafatkan disaat sedang melakukan perbuatan yg paling kita sukai?  Ummu Hana sangat mencintai Al Qur’an dan terus membaca Al Qur’an walaupun dalam sunyi.

Dan lihatlah diri kita, apa perbuatan yang paling kita sukai untuk dilakukan dan diamalkan? Siapkah kita dijemput ajal saat kita melakukan hal itu?

Sebuah reminder untuk direnungkan. Bagi saya dan bagi anda semua.

Semoga bermanfaat,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *