Personal Life

Rahasia Yang Menjadi RahmatNYA

 

Bisa jadi perbuatan baik yang terlihat sederhana yang kita lakukan, ternyata membawa manfaat dan arti yang besar untuk orang lain

Salah satu cara untuk muhasabah diri dan mensyukuri kehidupan kita adalah dengan cara menyimak kisah perjuangan para survivor kanker dalam menghadapi tantangan hidupnya. Bagaimana mereka menerima kondiri, menjalani proses pengobatan dan terus berjuang demi kembalinya kesehatan mereka.

Berawal dari share sebuah link blog yang berisi kisah perjuangan seorang pengidap kanker rectum stadium 4 di beranda facebook saya, ternyata ada kisah lain yang menjadi respon selanjutnya dan menjadi pelajaran kehidupan untuk saya.

Seorang sahabat yang ada dalam foto di artikel saya yang lalu (Back to Kalibiru) akhirnya bercerita, bagaimana dirinya selama duapuluh tahun ini sudah menggunakan STOMA untuk membantu proses buang air besarnya. Dia adalah seorang survivor kanker rektum yang sudah mengalami 2 kali operasi pemotongan usus untuk menyembuhannya.

STOMA adalah lubang yang dibuat pada dinding perut manusia, yang gunanya menghubungkan usus besar dengan alat penampung feces yang ada di luar tubuh. STOMA digunakan karena adanya keganasan kanker, perlengketan usus atau pengangkatan rektum sehingga pasien tidak memungkinkan lagi untuk buang air besar secara normal melalui anus.

Selama ini istilah STOMA hanya tersimpan dalam ingatan pada lintasan artikel yang pernah saya baca, tanpa pernah membayangkannya akan digunakan oleh salah satu sahabat saya.

Ok…saya tidak akan membahas STOMA lebih lanjut karena saya tidak punya kapasitas keilmuan tentang hal ini 🙂

Yang saya kagumi dari para survivor kanker ini adalah bagaimana mereka melalui proses awal saat mendapati kondisi kesehatannya, mulai menerima kenyataannya dan segera move on untuk fokus pada penyembuhannya. Saya kagum pada semangat mereka yang bersungguh-sungguh memperjuangkan hidupnya.

Begitupun yang saya kagumi dari para dokter pendamping pasien, paramedis dan keluarga pasien yang menjadi pemompa semangat dan pendukung mental para survivor kanker ini.

Saya yakin saat pertama kali seorang pasien kanker menerima berita tentang kondisi kesehatannya, pasti ada rasa sedih, marah, bingung, dan muncul banyak pertanyaan “Mengapa saya yang mengalaminya”. Disinilah peran dokter, paramedis dan keluarga untuk menguatkan dan mengarahkan pasien untuk fokus pada proses kesembuhannya.

Jangan pernah menganggap bahwa semua masalah tubuh manusia bisa dijawab dan bisa dipahami oleh medis. Allah selalu ada cara untuk menyembunyikannya sebagai rahmatNYA.
(dr Moh Jisdan Bambang Yulianto)

Potongan kalimat diatas adalah nasihat dari dokter yang mendampingi proses penyembuhan sahabat saya ini. Semua dikembalikan pada qodo dan qodar yang Allah karuniakan pada manusia. Selalu ada rahmat Allah di setiap rahasia penciptaannya.

Setiap dari kita pasti akan menemui tantangan hidup masing-masing, baik berupa hal yang kita inginkan maupun yang tidak kita inginkan. Di awal mungkin kita masih mencari makna dan maksud dari hadirnya tantangan hidup tersebut. Bila kita tidak mempercayai adanya rahmat Allah dalam setiap hal yang hadir dalam hidup kita, maka bisa jadi hanya akan ada keluhan dan kekecewaan di dalam hidup kita.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu. dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”
(QS Al Baqarah : 216)

Sebuah muhasabah sebagai pengingat diri…

Regards,

Eva Zahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *