Personal Life

#RamadhanNotes10 : Normal?

Seorang anak kecil usia belasan tahun, sibuk bermain dengan gadget dan game online. Sejak subuh hingga larut malam. Lupa sekolah, lupa mandi, lupa makan, dia kecanduan gadget. Dia merasa dirinya NORMAL. Orang lain menganggapnya TIDAK NORMAL.

Seorang pria muda tampak hidup berkecukupan, tak terlihat aktifitasnya pergi dan pulang ke kantor. Kegiatan kesehariannya hanya berada di depan laptop. Dia seorang pebisnis online. Dia merasa NORMAL. Tapi orang yang tidak paham dengan jenis usahanya, menganggapnya TIDAK NORMAL.

Seorang perempuan yang mengenakan hijab lebar, syar’i menutup aurat, menjaga batas pergaulan dan menata perilakunya sebaik mungkin. Dia tinggal di suatu tempat yang menganut pergaulan bebas. Perempuan ini merasa NORMAL, lingkungan sekitarnya menganggapnya TIDAK NORMAL.

Seorang laki-laki berpenampilan gahar, badan penuh tatto, tampak sibuk merawat puluhan anak asuhnya di sebuah panti. Memasrahkan hidupnya untuk berkhidmat di jalan kebaikan. Dia merasa saat ini hidupnya NORMAL. Tapi masih ada yang menganggap dia TIDAK NORMAL.

Seorang pasien di sebuah Panti Rehabilitasi Kejiwaan, tampak sibuk berbicara dengan teman khayalannya. Menurut catatan medis, dia mengalami gangguan kejiwaan schizofrenia. Dia bisa bercerita seakan-akan yang dialaminya nyata. Dia NORMAL menurut pikirannya. Tapi TIDAK NORMAL menurut orang disekitarnya.

Sebenarnya yang dianggap normal itu apa sih?

Kemarin sore saya bertemu dengan dua orang sahabat saya yang sudah dua tahun lebih tak bersua di Kafe Kongkalikong, sebuah kafe bernuansa jadul di jalan Taman Siswa, Jogjakarta.

Salah seorang diantaranya adalah survivor kanker usus yang sudah mengalami dua kali serangan kanker stadium 2 dan stadium 3, dan sudah menjalani operasi pemotongan organ ususnya. Dan beliau berhasil sembuh total. Satu orang lainnya adalah mahasiswa S2 Psikologi yang sedang bertugas praktek di sebuah klinik rehabilitasi penyakit kejiwaan di daerah Jalan Kaliurang Jogjakarta.

Jadi bisa dibayangkan 3 orang perempuan dengan aktifitas keseharian yang tak jauh dari dunia edukasi,  yang hobby ngobrol, traveling dan  makan  , saat reuni setelah beberapa tahun tak bertemu, pastilah obrolannya seperti tumpahan air bah yang mengalir deras 😀 Selalu ada yang menarik untuk disimak saat saling berbagi cerita.

Nah diantara isi obrolan kami, terselip banyak hal yang mungkin dianggap TIDAK NORMAL oleh kebanyakan orang. Contohnya kisah tentang dokter spesialis bedah yang menangani operasi potong usus teman saya, yang dalam menasihati dan memotivasi pasiennya memakai pendekatan ilmu tasawuf. Serta kisah tentang hal-hal diluar kewajaran dan melampaui batas logika manusia yang terjadi pasca operasi pemotongan usus yang kedua kalinya dan di masa kemoterapi yang dialami teman saya ini.

Normal menurut definisi kamus besar bahasa Indonesia adalah :

normal /nor·mal /a 

1 menurut aturan atau menurut pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang dari suatu norma atau kaidah; sesuai dengan keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan 

2 bebas dari gangguan jiwa;

Jika mengacu pada definisi diatas, maka kondisi tidak normal itu adalah saat sesuatu itu tampak berbeda dengan kebiasaan di sekitarnya. Dokter ahli jiwa yang bertugas mengobati pasien di RSJ pun bisa dianggap TIDAK NORMAL oleh pasien-pasiennya. Karena dokter itu berbeda dengan mereka. 😀

Jadi menurut saya, NORMAL atau TIDAK NORMAL itu sesuatu yang sangat relatif. Tergantung pada penilaian orang lain, value dan norma yang berlaku di lingkungan tempat dia berada.

Lalu kapan orang-orang yang TIDAK NORMAL ini menjadi NORMAL?

Gampang… tinggal cari komunitas dan orang-orang yang mempunyai kesamaan pola pikir, kesamaan aktifitas, kesamaan value dan memahami serta menerima perbedaan yang ada. Maka semua akan berubah menjadi NORMAL.

Sebuah catatan #RamadhanNotes random sore ini hihi…

Just enjoy the show..

Regards

Eva Zahra

2 thoughts on “#RamadhanNotes10 : Normal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *