Personal Life

#RamadhanNotes11: Menyamakan Persepsi

Bukan penjelasannya yang salah, mungkin persepsi awalnya yang belum sama.

Suatu ketika, saya sedang menuju ke suatu tempat di kota Jogjakarta, dari kejauhan terlihat lampu merah menyala di sebuah traffic light di suatu perempatan. Perlahan saya mengerem kendaraan dan menunggu hingga lampu hijau menyala. Hmm.. jangan heran kalau orang asli Jogja menyebut traffic light / lampu lalulintas ini dengan sebutan Bangjo, singkatan dari abang-ijo  (merah-hijau) 😀

Seringkali terjadi, saat saya menunggu lampu hijau menyala, ada saja orang yang bertanya tentang arah pada saya. Mungkinkah di muka saya tersirat pesan “Silahkan tanya” atau “Nanya gratis” ? Ckckck… mereka belum tahu rupanya reputasi “disorientasi arah” yang saya punya 😀

Sebagian dari mereka bertanya karena benar-benar tidak tahu rute petanya. Sebagian lagi bertanya karena sudah putus asa akibat kepedean nyasarnya. Namun ada juga yang bertanya, tapi saat mendapat jawaban, dia malah ngeyel (masih kekeuh sama pendapatnya), lha trus ngapain nanya? Hayati jadi KZL, Bang 😀

Pernah suatu ketika, saya berhenti sejenak di sebuah bangjo di Jogjakarta. Tiba-tiba seorang pengendara motor bertanya pada saya :

Mas-mas (MM) : Mbak, Kaliurang masih lurus kesana kan? (nunjuk arah selatan)

Me : Kalau mau ke Kaliurang, harusnya arahnya kesana, Mas (nunjuk arah utara)

MM : Masa sih mbak, arah utara kan ke sana. (tetep nunjuk arah selatan)

Me : Ya dicoba aja Njenengan (anda) jalan terus aja..

MM : Nanti kalau lurus terus, mentok (ujungnya) dimana mbak?

Me : Pantai Parangtristis Mas, kalau nyebrang lagi, nanti sampai Australia. *nyengir*

MM : *Mulai ragu… lalu lihat peta*

Me : *kaboor 😀

Dulu, pernah suatu ketika saya menjadi bahan bullyan lucu-lucuan oleh teman kuliah saya. Penyebabnya adalah karena saya kekeuh menganggap jalan Kaliurang itu membujur dari arah Barat ke Timur. Padahal di Jogjakarta, Jalan Kaliurang itu membujur dari arah Selatan menuju ke Utara.

Salah seorang teman saya memberi penjelasan begini, “Va, Gunung Merapi itu menunjukkan arah utara, nah Jalan Kaliurang itu kalau dari UGM menuju ke arah Gunung Merapi. Jadi sudah jelas kan arah jalan ini dari Selatan ke Utara”.

Saya pun merespon, “Nah itu.. ketemu deh penyebab masalahnya. Di Magelang, tempat tinggal saya, Gunung Merapi itu menunjukkan arah Timur. Jadi wajar donk kalau saya menganggap Jalan Kaliurang ini membujur dari Barat ke Timur.” 😀

Jelas sudah penyebab perbedaan pendapat kami. Ada di persepsi awal yang berada di pikiran kami masing-masing.

Yah begitulah… Kadang kita bertanya, tapi belum siap menerima jawaban yang benar. Mungkin karena kita belum mengistirahatkan persepsi awal yang ada di pikiran kita. Bukan penjelasannya yang salah, tapi karena pikiran kita belum dipersiapkan untuk menerima data yang baru, untuk menggantikan data yang lama.

Begitupun saat kita mencari ilmu. Sebesar apapun manfaat ilmu itu, akan sulit masuk dan meresap ke dalam hati dan pikiran kita,  jika kita masih belum mempersiapkan ruang dalam pikiran kita untuk menampung informasi yang baru. Jika kita masih menyimpan kesombongan dan merasa lebih tahu dibandingkan dengan sang penyampai ilmu. Jika kita bertahan pada persepsi awal, sehingga tidak luwes (fleksibel) dalam mengolah informasi yang baru.

Bertanyalah… dan siapkan diri untuk menerima jawabannya.

Regards

Eva Zahra

 

4 thoughts on “#RamadhanNotes11: Menyamakan Persepsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *