Kehidupan

#RamadhanNotes12 : Pengendali Diri

Sebelum mengendalikan yang ada di luar diri, kendalikan dulu apa yang ada di dalam diri.

Beberapa tahun yang lalu saya senang menonton  film kartun berseri berjudul Avatar : The Legend of Aang (The Last Airbender). Kisah tentang seorang avatar yang diharuskan menguasai empat elemen kehidupan (Udara, Air, Tanah dan Api) untuk menyelamatkan dunia.

avatar_the_last_airbender

Tokoh utamanya bernama Aang, yang berpetualang bersama teman-temannya (Katara, Sokka, Toph, dan beberapa tokoh lain), beserta 2 ekor binatang peliharaannya (Momo dan Appa). Mereka menempuh perjalanan untuk menyelamatkan dunia dari serangan negara api.. Sinopsis selengkapnya bisa di ikuti di sini.

Film ini walaupun formatnya adalah film animasi, tapi sarat dengan pelajaran hidup tentang pengenalan dan pengendalian diri. Sangat kompleks, bercerita tentang arti sebuah keluarga, tentang persahabatan, pencarian jatidiri, kesadaran akan peran diri dalam kehidupan, tanpa dibumbui dengan drama yang berlebihan.

Di awal kisah, Aang berusaha pergi melarikan diri dari takdirnya sebagai seorang Avatar. Namun nasib justru semakin mengarahkannya untuk menjalani takdirnya. Saat Aang sudah menerima kondisi dirinya dan berusaha menjalani perannya sebagai seorang avatar, mulailah Aang dipertemukan dengan orang-orang yang membantu dan menemani perjalanan hidupnya dalam menjalani perannya. Bahkan Zuko, yang tadinya adalah musuhnya, berbalik menjadi teman bagi Aang.

Saat Aang merasa tidak bahagia dan mencari kebahagiaan di luar dirinya, dia justru menjauh dari kebahagiaan yang sejati.  Rasa bahagia itu justru Aang temukan di dalam dirinya, saat dia sudah berdamai dengan dirinya sendiri dan kehidupannya saat itu.

Begitupun saat Aang berusaha menguasai ilmu untuk mengendalikan elemen air, tanah dan api, dia terkendala oleh mental blok dan trauma masalalu nya hingga ada penolakan dalam dirinya untuk menguasai ilmu-ilmu tersebut. Sehebat apapun guru yang mengajarkannya, untuk berhasil menguasai sebuah keahlian, dibutuhkan penerimaan dari dalam dirinya. Dan saat Aang bisa menaklukkan ketakutannya, berdamai dan mengenal dirinya dengan baik, maka prosesnya menjadi mudah dan lancar.

Di akhir kisah, akhirnya Aang berhasil mengalahkan Raja Api Ozai. Walaupun banyak yang mendorong Aang untuk membunuh Raja Api Ozai, Aang memilih untuk mengikuti kata hatinya, hanya memusnahkan kemampuan pengendalian api Raja Api Ozai, yang telah membuatnya menjadi raja yang dzalim. Tidak ada dendam di hati Aang, karena dia memahami bila setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang, pasti mempunyai alasan dan sebab yang menjadi pemicunya.

Kisah diatas adalah kisah fiktif, namun bila dicermati, ada banyak hal yang mengingatkan saya akan kemiripannya dengan kehidupan kita.

Kadang kita berusaha lari dari kenyataan dan berusaha menjadi orang lain. Mengingkari panggilan jiwa. Padahal kedamaian itu ada saat kita mengenal diri sendiri, menyadari potensi diri, berusaha mengoptimalkannya dan memasrahkan hasilnya pada Sang Pemilik Hidup kita. Kemudahan akan hadir dalam berbagai bentuk, bisa dalam wujud kesempatan, peluang yang terpantau, teman baik, relasi, ataupun dalam bentuk perubahan kondisi.

Kadang kita sibuk mencari kebahagiaan diluar diri, hingga terlupa bahwa pintu kebahagiaan itu ada di dalam diri menunggu untuk kita buka saat kita sudah bisa bersahabat dan mencintai diri kita sendiri.

Begitu sering kita berusaha mengalahkan dan mengendalikan orang lain, hingga kita lupa bahwa yang pertama kali harus kita kendalikan justru adalah diri sendiri. Hidup bukan tentang mengalahkan siapa, tapi tentang bagaimana bisa bersinergi agar bisa memberi manfaat bagi sesama.

Duh.. saya jadi pengen nonton ulang film ini 😀 Kamu sudah?

Regards

Eva Zahra

 

3 thoughts on “#RamadhanNotes12 : Pengendali Diri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *