Lesson in Life

#RamadhanNotes16 : Memasrahkan Atau Memaksakan?

Alhamdulillah, yaa Allah, kawula bingah dipun paringi rizki kathah.

Yaa Allah, kawula nyuwun kanthi wasilah bingahipun manah, mugi Panjenengan kerso paring rizki kawula langkung kathah.

“Do’a diatas itu sederhana kalimatnya. Tapi dalam maknanya, dan ada syarat dan ketentuan tertentu saat membacanya. Syaratnya, kamu harus dalam keadaan bahagia, apapun kondisimu saat itu.”

Itu adalah kalimat yang diucapkan oleh seorang guru saya, Habib Zen, saat saya beserta beberapa orang sahabat mengadakan acara buka bersama di bulan Ramadhan tahun ini.

Kalimat diatas bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya :

“Alhamdulillaah, Ya Allah saya bahagia diberi rezeki yang banyak. Ya Allah dengan wasilah bahagianya hati ini, semoga Engkau bersedia memberi rezeki yang lebih banyak lagi”.

Beliau juga berkata,

“Berdo’a itu yang jujur. Yang terucap itu sesuai nggak dengan apa yang dirasakan di dalam hatimu. Do’a yang jujur berasal dari dalam hati, yang diucapkan dengan sepenuh rasa itu yang lebih mengena”.

“Saat berdo’a, kondisikan hatimu ke dalam keadaan bahagia. Syukuri nikmat dan karunia yang sudah ada . Bukankah rasa syukur pada apa yang sudah kita terima itu akan membuat Allah menambah nikmat yang DIA berikan pada kita?”

Saya pun bertanya, “Bahagia saat berkelebihan, saat diberi kelapangan itu bisa jadi mudah. Lha kalau saat kita sedang dalam kondisi kekurangan dan dalam kesempitan, perjuangan banget ya berdo’a dalam kondisi perasaan bahagia.”

Beliau berkata, “Sebelum kamu bisa berdamai dengan kondisi diri, ikhlas menerima yang sudah diberikan Allah, husnudzon (berbaik sangka) dan mensyukuri semua karuniaNYA, bagaimana mungkin kamu bisa dianggap layak menerima lebih banyak lagi?”

#Hyakdhez saya langsung berasa kena gaplok.. hiks…

Berasa saya diingatkan bahwa dalam menyampaikan harapan dan do’a, kita perlu mengakses rasa / getaran perasaan yang sesuai frekuensinya.

Seringkali do’a yang saya ucapkan baru sampai pada taraf mengucapkan. Tapi hati dan perasaan saya belum berada di kondisi yang seharusnya. Hati dan perasaan saya belum berada di kondisi bersyukur dan bersujud memohon bantuan dariNYA.

Kadang cara saya berdo’a pun mungkin bukanlah sebuah bentuk pemasrahan hasil pada Allah. Tapi sebuah protes, sebuah perlawanan dan pemaksaan atas apa yang saya inginkan. Makhluk yang sedikit kurang ajar rasanya 😀 Berusaha mendikte Sang Pengatur Hidup saya.

Kembali saya teringat akan do’a-do’a tercantum dalam Al Qur’an, yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul. Adakah di dalamnya ucapan yang mendiktekan keinginan mereka? Ataukah sebuah bentuk penyerahan diri atas semua kehendakNYA?

Hayuuk waktunya membuka lagi kitab suci Al Qur’an. Membaca dan menyelami maknanya… Belajar dari petunjuk yang sudah tertera disana.

Regards

Eva Zahra

 

2 thoughts on “#RamadhanNotes16 : Memasrahkan Atau Memaksakan?

  1. “Berasa saya diingatkan bahwa dalam menyampaikan harapan dan do’a, kita perlu mengakses rasa / getaran perasaan yang sesuai frekuensinya.”

    frekuensinya AM atau FM atau sudah sampe ke UHV..?
    puteran radionya masih bisa kan..?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *