Lesson in Life

#RamadhanNotes17 : Logika Setan

Bisa jadi perbuatan burukmu tampak baik di matamu  karena persahabatanmu  dengan orang yang lebih buruk daripada dirimu”.

(Kitab Al Hikam – Ibnu Atha’illah Al-Iskandari)

Suatu ketika terjadi dialog fiktif antara A dan B :

A : Kamu itu mbok ya yang rutin sholatnya, jangan bolong-bolong gitu.

B : Biarpun sholatku belum rutin, tapi kan masih mending aku daripada si C yang sholat pas di kantor saja. Malu kalau ketahuan nggak sholat sama teman sekantor.

Waktu A bertemu C dan menanyakan hal yang sama, C menjawab :

C : Masih mending aku daripada si D yang cuma sholat seminggu sekali pas jum’atan saja.

Saat A bertemu D dan memberikan pertanyaan yang sama seperti yang A tanyakan pada B, D menjawab :

D : Lha daripada si E yang sholatnya cuma dua kali setahun pas Idul Fitri dan Idul Adha.

Kemudian A bertemu si E…. lalu bertemu si F…. lalu si G … Z… alpha.. beta.. gamma dan seterusnya hehehe…. hingga nilai kebaikannya makin defisit, terjun bebas makin menjauh dari jalan yang diridhoi oleh Allah.

Begitulah yang terjadi saat manusia membandingkan perbuatan buruknya dengan perbuatan orang lain yang jauh lebih buruk. Dia akan merasa lebih baik daripada orang lain, walaupun sebenarnya itu adalah nilai kebenaran yang semu. Tidak ada yang bisa menghalangi manusia dari kebenaran yang hakiki (rahmat Allah), kecuali kebenaran-kebenaran yang semu.

Halus sekali cara setan menjauhkan manusia untuk mendekat pada kebaikan. Membisikkan ke hati manusia dan menghadirkan pembanding yang lebih buruk, agar manusia merasa dia lebih baik daripada orang lain. Saat manusia merasa dirinya lebih baik, pandangannya terhijab dari kesalahan dan dosanya sehingga lupa memohon ampunan dari Allah atas keburukan-keburukan perilakunya.

Memilih lingkungan pergaulan yang baik dan membawa kebaikan dan keberkahan hidup sangatlah penting untuk dicermati. Ibarat berteman dengan penjual minyak wangi, maka kemungkinan yang akan kita alami adalah: mungkin kita akan terpapar wangi saat bersamanya, atau mungkin kita tergerak juga untuk membeli wewangiannya, atau malah bisa bekerja sama ikutan jualan, bisa jadi distributor/agen/reseller… Peluang bagus lho sis, buat nambah pemasukan 😀 #LhoMalahJualan

Sedangkan lingkungan yang buruk ibarat kita berdekatan dengan pande besi yang sedang bekerja menempa logam, di dekatnya ada api dan lingkungannya penuh dengan asap. Hal paling sederhana adalah badan kita jadi berbau tidak sedap karena asap, atau baju kita bolong-bolong terpercik apinya, dan bila kita tidak hati-hati menjaga diri, ada api yang siap menghanguskan diri kita.

Kembali bercermin pada keadaan diri, saat pikiran dan hati ini mengelak dari sebuah nasehat. Saat hati mulai mengeras dan mencari pembenaran diri. Saat mulai membandingkan diri dengan orang lain yang bisa jadi justru menarik diri ini menjauh dari pancaran cahaya Ilahi.

Kita adalah cerminan lingkungan pergaulan kita, cara termudah menilai seseorang adalah dengan melihat siapa teman-teman terdekatnya. 

“Wahai diri, obat hati salah satunya adalah mendekat dan berkumpul dengan orang-orang sholih. Agar dirimu selalu diingatkan dan ditarik menuju kebaikan. Abaikan rasa pedih akibat sengatan nasihat yang menampar-nampar hati. Kepedihan itu hanya sementara, karena egomu yang bertahan untuk berkuasa.”

Regards

Eva Zahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *