Lesson in Life

#RamadhanNotes19 : Daya Ungkit Guru

Hari masih pagi, kabut pagi belum juga menghilang, rerumputan masih basah karena embun pagi. Terdengar suara bell tanda masuk di sebuah SMP Negeri ternama di kota Magelang. Bangunan khas ala jaman kolonial Belanda, dengan ketinggian ruangan, pintu dan jendela yang melebihi ukuran normal. Terasa sangat lapang dan sejuk suasananya.

Bergegas para murid berlarian masuk ke dalam kelas masing-masing. Dari kejauhan tampak seorang guru matematika berwajah keras memasuki sebuah kelas. Guru itu membawa beberapa buku bahan ajaran. Sepertinya guru ini cukup ditakuti oleh murid-muridnya. Sesaat setelah memberi salam, tiba-tiba beliau berkata, “Yak keluarkan selembar kertas, kita adakan quiz sekarang”.

Seketika suasana menjadi gaduh, tanpa persiapan murid-murid mendadak mendapatkan soal tes. Hanya beberapa soal dituliskan di papan tulis. Dan hanya diberi waktu 15 menit untuk mengerjakan.

Limabelas menit berlalu, waktunya menunjuk acak murid-murid untuk menuliskan hasil penyelesaian soal itu ke papan tulis di depan kelas. Beberapa lancar mengerjakan, beberapa mati kutu tak bisa mengerjakan dan bersiap untuk menerima “hukumannya”.

Apa hukumannya? Macam-macam… sesuka-suka guru itu. Kadang diminta menyanyikan lagu Indonesia Raya, kadang ditodong mengaji ayat-ayat di salah satu surah pendek dalam Al Qur’an ๐Ÿ˜€ Kadang harus rela muka atau tangannya dicoret dengan kapur tulis. Kadang ada yang telinganya kena jewer. Kadang pula diminta lari mengelilingi lapangan tenis di depan kelas.

Tapi, itu semua tidak membuat murid-muridnya melaporkan tindakan sang guru kepada orangtua mereka. Karena biasanya kalau mereka mengadukan hal ini pada orangtua mereka, justru akan berbuah hukuman tambahan dari para orangtua ini hihihi… Sudah jatuh tertimpa genteng. Tambah benjol dah..

Yang lebih mengherankan lagi, justru makin banyak murid-murid yang menonjol prestasinya. Seakan-akan terpacu untuk menyiapkan diri sebaik-baiknya sebelum mengikuti pelajaran yang diampu oleh guru tersebut.

Saya adalah salah satu yang sering terkena coretan kapur di tangan saya. Setiap kali saya ย mencoba menghapusnya, maka akan segera muncul coretan kapur berikutnya. Ini akan mengundang tawa bagi teman sekelas yang melihatnya. Adakah rasa sakit hati pada beliau? Tidak…. karena ada rasa hormat dan kesepahaman yang terjalin diantara guru dan murid. Memahami jika niat dan tindakan beliau adalah untuk kebaikan murid-muridnya.

Yap… Beliau adalah Pak Totok, guru matematika SMP saya. Nama jawa, tapi pembawaan khas orang Batak. Suara menggelegar, nada bicara keras dan terkadang tinggi. Tapi kebaikan, selera humor dan kelembutan hatinya terasa saat beliau menyelipkan nasihat-nasihat tentang akhlak di sela-sela pelajaran yang diberikan.

Beliaulah yang membuat saya mudah memahami pelajaran yang beliau sampaikan. Menjadi lebih disiplin mempersiapkan diri sebelum menerima pelajaran berikutnya. Salah seorang guru yang menginspirasi saya.

Rindu rasanya melihat keselarasan antara guru, murid dan orangtua murid. Saling menghormati batas wilayah masing-masing. Saling mempercayai tanggungjawab masing-masing. Dan saling menjaga amanah yang dititipkan. Jauh dari perseteruan yang melibatkan pihak kepolisian dan hukum, akibat adanya tindakan seorang guru yang memberi hukuman pada muridnya.

Apakah ini karena perubahan metode mendidik anak, atau karena mulai ada kelunturan pendidikan akhlak dari keluarga? Ataukah semua sudah dinilai dengan uang? Proses pendidikan menjadi layaknya membeli barang di supermarket, serba instan. Entahlah…

Semoga masih banyak yang mengingat 6 syarat dalam meraih ilmu menurut Imam Syafi’i:

1. Kecerdasan. Ilmu akan hadir pada orang-orang yang siap dan mampu mencernanya. Ada bermacam bentuk kecerdasan. Kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, kecerdasan dalam menghadapi hambatan, dan lain sebagainya. Hal-hal ini menjadi salah satu syarat dalam mencari ilmu.

2. Kemauan yang kuat. Sebuah proses perjalanan akan menemui berbagai tantangan. Dan hanya orang yang mempunyai kemauan yang kuatlah yang akan tetap menyala semangatnya.

3. Bersungguh-sungguh. Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Saat seseorang bersungguh-sungguh dalam mewujudkan keinginannya maka seluruh usaha, hati, fokus pikiran dan perhatiannya akan dicurahkan untuk mencapai targetnya.

4. Memiliki bekal/biaya. Bagaimanapun juga dibutuhkan bekal dan biaya yang cukup untuk mencari ilmu. Minimal biaya untuk mencukupi kebutuhan makan, minum dan mengisi nutrisi otak. Karena mencerna ilmu memang membutuhkan energi yang besar.

5. Berteman dekat dengan guru. Setiap murid membutuhkan peranan seorang guru dalam mencari ilmu. Ridho guru adalah salah satu faktor keberhasilan dalam menyerap ilmu.

6. Membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahkan bisa jadi tidak ada batasnya. Uthlubu ‘ilma minal mahdi ilal lahdi (tuntutlah ilmu sejak dini hingga mati).

Sebuah pengingat diri dalam usaha meraih ilmu.

Regards

Eva Zahra

2 thoughts on “#RamadhanNotes19 : Daya Ungkit Guru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *