Lesson in Life

#RamadhanNotes21: Batas Ikhtiar

Man proposes, but God disposes

Sudah sering kita mendengar istilah “Manusia berencana, Tuhan yang menentukan hasilnya”. Kalimat pendek sering digunakan untuk membantu proses mengikhlaskan saat hasil tak seperti yang diharapkan. Perbedaannya ada di sekuat apa usaha manusia bila dibandingkan dengan hasilnya.

Ada pengalaman menarik beberapa hari yang lalu yang bisa saya gunakan untuk introspeksi diri lagi dalam memahami quotes “Man proposes, but God disposes”. Mau tau?

Sejak awal bulan ramadhan, ada seorang sahabat yang berencana untuk mengajak saya menikmati suasana bulan Ramadhan di Jogjakarta. Seorang perempuan asli Boyolali. Sebut saja namanya Mawar.. #halah (malah kayak berita kriminal) 😀 Berkali-kali kami saling mengingatkan untuk memberi kabar kapan waktu pasti yang bisa disepakati.

Akhirnya muncul kepastian tanggal dan kapan kami akan bersama-sama menikmati malam i’tikaf penghujung bulan Ramadhan di Masjid Jogokariyan, Jogjakarta. Sebuah masjid fenomenal dalam memberdayakan jama’ah dan masyarakat sekitarnya, sekaligus mampu menerapkan manajemen aktifitas dan kepengurusan masjid dengan sangat rapi.

Okehsip waktu sudah clear, ditambah dengan rencana sahabat saya ini untuk menginap semalam di rumah saya sebelum kami berangkat kesana. Semua sudah disiapkan, rencana sudah disusun. Ruangan di rumah sudah dirapikan.

Bahkan mendadak muncul ide iseng mengecat sebagian dinding kamar yang sebagian cat dinding mengelupas karena lembab. Lagi-lagi karena isengnya kebablasan, malah muncul keinginan mengubah warna cat dinding kamar. Jadilah rencana “menambal” warna cat berubah menjadi make over total cat dinding seluruh kamar 😀

Awalnya kami pikir ngapain menyewa tukang untuk mengecat kamar saya. Waktu tinggal 3 hari lagi sebelum kedatangan sahabat saya ini. Lagian.. kan ada roller untuk mengecat, memudahkan dan mempercepat proses pengecatan. Okesip, mulailah keisengan dimulai, roller sana… roller sini, sedikit kuas-kuas di sana… kuas-kuas di sini, naik turun kursi dan sedikit berakting macam kungfu panda  biar nggak bosen 😀 #Lebay Menikmati keberantakan suasana hari itu hehe…

Tak terasa waktu seharian habis untuk make over kamar demi menyambut sahabat saya ini (alibi cari alasan pembenaran ulah iseng hari itu) 😀 Bonus sedikit salah urat efek terlalu semangat berakting saat mengecat. Hadeuh…pegal… Melipir dah ke tetangga sebelah yang buka jasa pijat urut, menjadi kurir pengantar rezeki untuknya 😀

Hari kamis itupun tiba… sejak pagi bapak ibu saya ikutan heboh menyusun menu yang akan dimasak. Biasa deh, keinginan untuk menyenangkan tamu terlalu besar. Ketemulah kesepakatan menu masakan untuk berbuka puasa dan sahur di hari itu. Baiklaah hidangan semua sudah siap..

Menjelang petang, sahabat saya masih terpantau sedang di perjalanan. Sepertinya bakal kemalaman sampai di rumah saya karena dia menggunakan sarana kendaraan umum, sendirian pula.

Namun, mulai terjadi keanehan… sejak adzan maghrib bergema, sahabat saya ini hilang dari pantauan. Semua nomor handphone yang dia punya sukar dihubungi. Hingga larut malam, sahabat saya entah dimana keberadaannya.

Kuatir, cemas, dan heran menghampiri pikiran kami sekeluarga. Hingga pagi berikutnya tetap tidak ada kabar. Kemana ini orang… baik-baik sajakah? Hanya do’a yang bisa kami panjatkan. Menghilangkan prasangka buruk, hanya berharap dia baik-baik saja keadaannya.

Dua hari kemudian baru titik terang muncul. Ternyata sahabat saya ini kecopetan, handphone nya hilang. Tidak tahu rute arah lagi. Tidak bisa menghubungi saya. Sudah larut malam pula waktu itu. Sehingga mungkin yang terpikir hanya teruskan langkah menuju Masjid Jogokariyan Jogjakarta untuk mewujudkan keinginan i’tikaf disana. Dan dia bisa pulang dengan selamat.

Apakah saya kecewa? Nggak juga… Lebih banyak syukurnya.

Syukur sahabat saya selamat… Syukur kamar saya jadi bernuansa baru karena efek make over cat dindingnya. Syukur jadi berlimpah hidangan yang nggak biasa-biasanya 😀 Terlebih rasa syukur karena berhasil mengesampingkan prasangka buruk pada orang lain.

Qodarullah… Tidak ada peristiwa yang sia-sia. Selama kita fokus mencari hikmah kebaikan di dalamnya.

Kemana fokus pikiran kita diarahkan, ke sana lah realita hasil pikiran akan terwujudkan.

Regards

Eva Zahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *