Lesson in Life

#RamadhanNotes3 : Belajar Tak Mengenal Usia

8 Juni 2016

Jika hati dan pikiran kita jernih, maka semua akan terasa lapang, mudah dan berlimpah berkah.

Tapi jika hati dan pikiran kita sedang buram dan tertutup oleh kegelisahan ataupun penyakit hati, maka segala peristiwa yang terjadi akan terasa bagaikan musibah.

Hari ketiga di bulan Ramadhan alhamdulillaah tidak ada hal absurd bin tidak jelas yang menghiasi hari itu. Lancar-lancar saja aktifitasnya. Jadi tidak ada cerita unik yang saya bisa tulis disini.

Okehsip…

fine…

bye bye…

Nggak deh… 😀 tetep akan selalu ada peristiwa yang bisa kita pelajari dalam setiap perjalanan hidup kita.

Pagi itu, selesai mengikuti kelas tahsin, ada salah seorang bapak-bapak usia sekitar 60-70 tahun yang mengajak saya mengobrol. Beliau satu diantara 4 orang peserta kursus yang berusia diatas 50 tahun yang semangat belajarnya menginspirasi kami semua untuk terus belajar tanpa mengenal batas usia. Dengan susah payah beliau berusaha mengikuti materi pembelajaran di kelas. Membuat saya sering sengaja memancing keempat orang murid senior ini untuk berbagi pengalaman hidup mereka yang dapat diambil hikmahnya.

Bapak ini bercerita bila terakhir kali beliau belajar mengaji adalah saat masih usia Sekolah Dasar. Setelah itu, lepas… dan beliau baru merasakan penyesalan di usia senja. Beliau berkata “Kalau tidak belajar sekarang, bagaimana kalau besok saya mati mbak? Harus  mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya, tak usah malu untuk belajar bareng anak SD lagi”.

#Plakk berasa kena gaplok saya. Mati tak pernah mengenal usia. Tak harus menunggu tua dan sakit-sakitan. Masih muda dan sehatpun tidak menjamin manusia masih hidup beberapa waktu ke depan.

Terasa kontras saat melihat gap usia yang jauh antara peserta termuda dan tertua di kelas ini. Termuda usia sekitar 9 tahun.. peserta tertua berusia diatas 60 tahun. Saya salut pada Ustadz pengajar kelas tahsin ini yang tidak membedakan perlakuan antara murid satu dengan yang lain. Mau usia SD ataupun sudah lanjut usia, jika salah dalam praktek membaca ayat-ayat Al Qur’an, ya tetep harus mengulang sampai benar.

Yap bisa saja bapak-bapak lanjut usia ini membuat berbagai alasan untuk tidak ikut belajar. Namun beliau memilih untuk terus belajar bersama murid-murid yang jauh lebih muda. Bahkan usia Ustadz pengajar kelas ini mungkin lebih pantas jadi anak beliau. Tak terlihat rasa malu atau gengsi pada sikap bapak ini saat belajar bersama-sama kami.

Butuh kebesaran hari dan kemampuan menekan ego diri untuk belajar pada yang lebih muda.

Hakikat ilmu bagaikan air, akan mengalir dan mengisi tempat yang lebih rendah. Begitulah ilmu, yang enggan mendatangi orang yang masih terdapat kesombongan di dalam hatinya saat mempelajarinya.

Regards,

Eva Zahra

#RamadhanNotes

3 thoughts on “#RamadhanNotes3 : Belajar Tak Mengenal Usia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *