Lesson in Life

#RamadhanNotes4 : Dua Sisi Koin Mata Uang

Suatu pagi, di selasar sebuah sekolah, saya menepi sejenak untuk mengecek notif yang masuk ke gadget saya. Ketika saya membuka akses whatsapp di gadget saya, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang lewat dan beliau nyeletuk, “Mbak, selama bulan ramadhan saya me-nonaktifkan whatsapp saya”.

Sejenak saya hentikan kegiatan saya, tersenyum dan bertanya, “Kenapa dinonaktifkan, Bu?”

Beliau menjawab, “Biar nggak nambah dosa”.

Dengan sedikit heran saya merespon, “Owh, saya tidak punya niat ke arah itu, Bu. Ada beberapa grup kajian agama yang saya ikuti”

Beliau dengan senyum sinis berkata, “Oh sama mbak, grup saya juga banyak, tapi saya tidak mau menambah dosa dengan whatsapp an”. Kemudian beliau pun berlalu dari hadapan saya.

Sambil menahan keheranan, saya tersenyum dan membiarkan beliau berlalu. Sempat terbersit di benak saya skenario fiktif iseng untuk menanggapi pendapat ibu-ibu tadi.

Skenario 1
Me: Kalau begitu saya juga tidak mau pegang gunting, selama bulan ramadhan.
Anti Whatsapp Woman (AWW): Kenapa nggak mau pegang gunting?
Me : Saya takut kepikiran untuk nusuk orang 😀

Skenario 2
Me : Kalau begitu ibu jangan pegang pisau selama bulan ramadhan ya…
AWW : Kenapa jangan?
Me : Karena pisau bisa digunakan untuk melukai orang lain… #eh

Skenario 3
Me : Ibu jangan masak dulu deh sebelum waktu berbuka tiba…
AWW : Lho kenapa?
Me : Nanti ibu tergoda untuk mencicipi, bisa batal deh puasanya… 😀

Skenario 4
Me : Kalau begitu ibu jangan naik kendaraan dulu selama bulan ramadhan.
AWW : Emang kenapa?
Me : Nanti ibu bisa tergoda untuk mampir ke tempat yang nggak bener, lalu berbuat maksiat. Jadi sudahlah ibu di rumah saja, diam menyepi nggak usah ngapa-ngapain sampai waktu berbuka nanti. 😀

dan selanjutnya….

dan seterusnya…

Okeh cukup dulu skenario absurdnya. Bisa jadi satu buku parodi kalau imajinasi absurd saya dibiarkan berkreasi kesana kemari. 😀

Sebuah koin mata uang mempunyai dua sisi. Sisi yang berupa angka dan sisi yang berupa gambar. Keduanya menjadi satu paket saat kita membawa koin tersebut. Jika kita letakkan, maka akan ada satu sisi yang diatas yang terlihat jelas, dan sisi yang lainnya terletak di bawah dan tersembunyi.

Begitupun setiap peristiwa yang kita alami atau kita temui sehari-hari. Peristiwa itu netral, manusia yang memberinya makna. Posisif atau negatif, berkah atau musibah, baik atau buruk dan seterusnya.

Manusia diberikan keluasan wilayah untuk memilih respon dan tindakan yang dilakukan. Itulah fungsinya Allah karuniakan akal dan perasaan dalam diri manusia. Agar bisa digunakan untuk berpikir logis sekaligus diimbangi dengan pertimbangan rasa. itulah yang nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah saat kita semua dikumpulkan di hari penentuan.

Yang manapun respon dan tindakan yang kita pilih, kebaikan atau keburukan, manfaat atau mudharat, tidak akan menambah waktu dalam sehari menjadi 25 jam. Waktu hidup kita dalam sehari akan tetap sama.

Lalu bedanya dimana?

Bedanya ada di keberkahan hidup yang akan menyertai kehidupan kita. Karena kita akan mendapatkan sesuai dengan apa yang kita niatkan.

Saya teringat kembali pada kata-kata dari guru saya, beliau bertanya, “Kalau di hadapanmu ada pilihan hal yang baik dan hal yang buruk, Mana yang akan kamu pilih?”

Saya menjawab, “Saya memilih hal yang baik”.

Beliau kembali bertanya, “Mengapa?”

Saya menjawab, “Karena saya orang yang baik.”

Beliau tersenyum dan berkata, “Yap, pilihlah hal yang sesuai dengan apa yang kita yakini tentang diri kita. Memilih yang baik, karena kita yakin bila kita orang baik dan hanya pantas memilih dan mendapatkan hal yang baik”.

Kembali pada ucapan ibu-ibu di awal cerita diatas. Saya tidak tersinggung, justru saya kasihan. Karena beliau sudah menghilangkan kuasa diri dalam memilih tindakan, dan cenderung menyalahkan hal diluar dirinya sebagai sebab terjadinya hal buruk dalam hidupnya.

Renungan pagi, #RamadhanNotes, reminder diri.

Regards,

Eva Zahra

 

4 thoughts on “#RamadhanNotes4 : Dua Sisi Koin Mata Uang

  1. Bisa jadi si AWW itu merasakan godaan dosa di grup whatsappnya lebih kuat seperti “menggossiiip”. Yaa ga apa-apa juga sih brooh tindakan si AWW heuhhuehueh. Dalam kerangka sudut pandang beliau, meninggalkan potensi berbuat tidak baik mungkin sedang menjadi prioritasnya. eehhm kok rasane aku maleh menceramahi ngene yaa wkwkwkw…

    sambil buka puasa di A&W enak iki koyok’e hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *