Lesson in Life

#RamadhanNotes7 : Bola Salju Stigma

stigma1/stig·ma/ n ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya; tanda.

Teringat saat masih sekolah dulu.. Di rentang usia di saat rasa setia kawan antar teman masih sangat kuat. Untuk memberi penilaian pada orang lain pun harus dimusyawarahkan dulu #halah. Terlebih lagi diantara sesama genk perempuan, yang ikatan emosional antar temannya lebih kuat dibandingkan laki-laki.

Ini mungkin yang seringkali menjadi pemicu perseteruan antar genk atau antar sekolah. Dendam dan stigma yang diwariskan dari angkatan lama ke angkatan berikutnya. Bisa berujung pada tawuran antar kelompok juga. Nggak rampung-rampung prosesnya. Padahal mungkin mereka yang pertama kali memicu masalah, saat ini usia nya sudah beranjak senja, sudah hidup damai bersama lawan tawurannya dulu. Dan di saat mereka melihat adik-adik kelasnya berseteru, mereka justru tertawa geli. 

Penilaian yang mungkin mengesampingkan logika dan hati nurani. Menafikan kenyataan dan kebenaran yang sesungguhnya. Tertutupi oleh penilaian yang berlindung di belakang alasan “biar kompak”. Atau… takut dikucilkan teman akrab karena dianggap tidak kompak 😀 Padahal alasan dibalik munculnya stigma itu sebenarnya saya sendiri tidak paham.

Namun… di saat ini, di tengah hingar bingar aktifnya media televisi, media massa dan sosial media, pola ini berulang dalam tataran yang lebih luas. Stigma negatif pada seseorang atau sesuatu, yang bila dilontarkan oleh seseorang, bergerak viral, bergulir liar makin menyebar. Seperti bola salju yang menggelinding makin membesar melibas semua kebenaran dan kenyataan yang sesungguhnya.

Sudah setahun ini saya berhasil memangkas ketergantungan menonton siaran televisi, dari 4 jam/hari menjadi maksimal 4 jam/minggu. Itupun didominasi oleh acara reportase traveling dan adzan maghrib #lho 😀 Koran hard copypun sudah beberapa tahun saya hapus dari list bacaan saya. Karena isi siarannya yang menurut saya tidak menarik lagi. Lebih banyak berita negatif daripada positif.

Jejaring sosial media yang masih menjadi PR saya untuk dikendalikan manfaatnya. Terutama facebook, bikin mager kalau sudah membuka berandanya. Banyak ilmu yang bisa dipelajari, namun banyak juga godaan “Kepo” yang berujung pemborosan waktu. Akhirnya saya berlakukan kriteria tertentu dalam memfollow atau unfollow friendlist (FL). FL yang gemar menshare berita hoax atau hanya berisi status-status emosi/marah-marah/galau, saya unfoll saja… Pegel mata hayati, Bang… 😀 #HarusTega

Mengapa begitu? Karena berita hoax yang dishare tanpa dicheck kebenaran infonya, bila itu tidak benar, bukankah sama saja dengan ikut menyebarkan fitnah? Bilapun info itu benar, apakah tidak ada hal yang lebih bermanfaat untuk dishare?

Sedangkan membaca status yang bermuatan berita negatif, berisi emosi dan kemarahan pada pihak lain atau hujatan pada pihak lain, apakah itu ada manfaatnya untuk kebaikan hidup kita?

Menurut hukum fisika, frekuensi di level tertentu hanya akan beresonansi dengan frekuensi di level yang sama. Kemudian akan saling menguatkan, sehingga makin membesar pengaruhnya. Bayangkan bila frekuensi itu berwujud getaran perasan negatif, maka akan menarik perasaan negatif yang sama dari diri pembacanya. Energi akan mengalir ke arah mana perhatian kita diarahkan.

Energy flows where the attention goes

Saya teringat kembali pada perumpamaan “Teko hanya akan mengeluarkan zat yang sesuai dengan isinya”. Sudah siapkah kita untuk menulis sesuai dengan isi pikiran kita? Atau mungkin…. hanya itu yang ada dalam pikiran kita?

Regards

Eva Zahra

2 thoughts on “#RamadhanNotes7 : Bola Salju Stigma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *