Lesson in Life

#RamadhanNotes9 : Melampaui Batas Jenuh

Tidak ada perasaan yang abadi selama manusia masih mempunyai nafsu dan keinginan.

Teringat kalimat yang diucapkan oleh salah seorang guru saya di sebuah workshop: “Saat manusia sudah melampaui batas jenuh, maka secara alami dia akan mengalami re-set”

Saat kondisi badan sudah terlalu capek, maka cara reset alaminya adalah tidur. Saat orang mengalami rasa sakit fisik yang teramat sangat, salah satu cara reset adalah pingsan. Begitupun saat seseorang mengalami tekanan hidup yang teramat berat, ada beberapa macam cara reset. Dia akan berpaling ke sisi spiritual dengan pasrah dan tawakkal, atau malah jadi gila saat sisi spiritualnya tidak tersentuh.

Mungkinkah ini pula yang terjadi jika kadar cinta seseorang itu terlalu besar, saat melewati batas jenuh maka akan mengalami reset dan berubah menjadi kebencian?

Atau mungkin kebencian itu muncul karena sebenarnya yang dia cintai itu sebenarnya adalah imajinasi/kepentingan/keinginannya sendiri yang mewujud dalam diri sesuatu/seseorang. Sehingga saat hal itu tak lagi dia temukan, maka hilang pula rasa cinta itu.

Hingga bisa terjadi pasangan suami istri yang saat masih bersama terlihat harmonis dan tak ragu mempertunjukkan kemesraannya di depan orang banyak, tapi saat muncul prahara, mereka saling menghujat dan membeberkan aib pasangannya seakan-akan tak tersisa lagi kebaikan pada diri pasangan mereka. Terlupa pada nasihat “Suami adalah pakaian bagi istri, begitupun istri adalah pakaian bagi suami. Saling menutupi aib dan kelemahan diri masing-masing”.

Peristiwa semacam ini bisa pula terjadi dalam hubungan pribadi, hubungan kerjasama usaha, di dalam hubungan persahabatan, dalam membangun sebuah komunitas dan lain sebagainya.

Yap.. bukankah sesuatu yang berlebihan itu tak selalu baik efeknya? Bisa jadi yang menurut kita baik, ternyata justru tak baik akibatnya. Begitupun hal yang menurut kita buruk, bisa jadi malah baik untuk kita.

Lalu bagaimana agar kita tidak berlebihan dalam menyikapi sesuatu?

Kembalikan saja pada niat awal kita, mencari ridho Allah semata. Jika kita bergantung pada manusia, maka suatu saat kita akan kecewa, karena keterbatasan kemampuan manusia. Bersandar hanya pada Allah, maka DIA tidak akan pernah mengecewakan kita.

Allah yang Maha membolak balikkan hati manusia. Mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Pada Allah sajalah kita meminta dan memasrahkan semua harapan dan keinginan kita. Hanya padaNYA kita mohon agar dituntun dan didampingi dalam menjalani kehidupan kita.

Sekelumit lintasan pikiran yang hadir dan menunggu untuk diambil hikmahnya..

#RamadhanNotes

Regards

Eva Zahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *