Review

[Review] 3 Emak Gaul Keliling 3 Kota

review 3 emak keliling 3 kotaJudul : 3 Emak Gaul Keliling 3 Kota
Penulis : Fenny Ferawati, Ika Koentjoro, Muna Sungkar
ISBN : 9786023940073
Penyunting : Marina Ariyani
Penyelaras Akhir : Leo Paramadita G.
Desain : Amygo Febri
Tahun : 2015
Penerbit : Buana Ilmu Populer
Halaman : 192 halaman

BLURB

Liburan Yogyakarta, Semarang dan Solo pasti gak jauh-jauh dari Malioboro, Lawang Sewu atau  Keraton Surakarta. Bosan gak sih kesana terus? Masih banyak loh tempat-tempat wisata seru lainnya di kawasan tersebut. Kepikiran nggak sih untuk berkunjung ke museum-museum yang ada disana? Ada Banyak museum menarik yang bisa dijadikan tujuan wisata asli selama disana? Ada banyak museum menarik yang bisa dijadikan tujuan wisata selama di sana…. Dan pastinya gak kalah keren… ASLI.

Gak percaya? Yuk, ikuti petualangan 3 emak gaul menyusuri museum-museum di Yogyakarta, Semarang dan Solo dalam buku ini. Dijamin bikin kamu ngiri!
Ke museum itu… KEREEENN!!!!

REVIEW

Apa yang terlintas di pikiran teman-teman bila membaca atau mendengar kata MUSEUM ? Mungkin ada yang sama seperti saya yang langsung membayangkan ruangan besar penuh dengan benda-benda kuno / benda-benda koleksi, relatif sepi dan sedikit suram, setiap sudutnya membuat bulu kuduk merinding seperti diamati oleh mata yang tak terlihat.. #halah

Dalam bayangan saya, pengunjung museum yang datang biasanya anak-anak sekolah yang tidak punya pilihan lain saat diberi tugas oleh guru-gurunya untuk membuat laporan dan liputan saat studytour. Kalaupun ada yang datang secara perorangan, biasanya dari instansi atau wartawan yang sedang melakukan liputan.

Tapi ternyata saya salah, ada beberapa museum di Indonesia yang tampilannya sudah modern, berubah mengikuti perkembangan jaman. Begitupula pengunjung-pengunjung museum yang ada, banyak juga orang-orang yang memang ingin menikmati museum dan tahu bagaimana cara menghargai sebuah karya seni dan menghargai sejarah.

Buku yang berjudul 3 Emak Galau Gaul Keliling 3 Kota (Catatan Tiga Emak Menjelajahi Museum di Yogyakarta, Solo dan Semarang) ini berisi catatan dari ketiga penulisnya, Mbak Fenny Ferawati, Mbak Ika Koentjoro, dan Mbak Muna Sungkar. Bertiga masing-masing melakukan kunjungan ke museum yang ada di ketiga kota tersebut. Buku ini bercerita tentang sekilas pandang suasana di dalam museum, spot-spot yang menarik disana, alamat jelas, nomor CS, harga tiket, tips dan info transportasi menuju lokasi museum.

Museum yang diliput ada di 3 kota, yaitu Yogyakarta, Solo dan Semarang. Berikut ini adalah museum-museum di Yogyakarta yang ulasannya ada dalam buku ini:

  • Museum Affandi (koleksi lukisan dari almarhum pelukis Affandi)
  • Museum Gunung Merapi / MGM (koleksi benda-benda yang berhubungan dengan erupsi / meletusnya Gunung Merapi)
  • Museum Batik (koleksi kain batik dan sejarahnya)
  • Museum Kereta Keraton Yogyakarta (koleksi kereta kencana yang dimiliki Keraton Yogyakarta, sebagian masih aktif digunakan untuk uparaca khusus)
  • Museum Pusat TNI AU Dirgantara (koleksi pesawat, helikopter dan perlengkapan militer yang pernah digunakan pihak TNI Angkatan Udara)
  • Museum De Mata Trick Eye (koleksi lukisan 3 dimensi yang bisa digunakan untuk berfoto oleh para pengunjungnya dan menghasilkan efek foto yang sangat menarik)

Museum-museum yang terletak di sekitar kota Surakarta/Solo (hmm… sampai saat ini saya masih belum paham mana yang lebih tepat untuk menyebut kota ini, Surakarta apa Solo) yang mengisi sebagian halaman buku ini adalah :

  • Museum Keraton Surakarta (bagian dari Keraton Surakarta yang boleh dikunjungi oleh wisatawan, dan menampilkan benda-benda sesuai dengan yang digunakan oleh Keraton Surakarta).
  • Museum Pura Mangkunegaran (bentuk asli dari rumah penguasa yang dulunya dipakai sebagai pusat pemerintahan Kadipaten Surakarta, daerah dibawah kekuasaan Keraton Surakarta).
  • Museum Pers Nasional (lebih dikenal sebagai Monumen Pers, berisi koleksi koran dan majalah sebelum dan sesudah Revolusi Nasional Indonesia, diorama yang mewakili pers sejak era kolonial hingga saat ini, alat-alat pers yang digunakan untuk reportase dan teknologi komunikasi jaman dulu, dan perpustakaan digital).
  • Museum Samanhudi (awalnya didirikan oleh H. Samanhudi, berisi benda-benda yang menggambarkan kejayaan Batik Solo dalam bentuk koleksi kain, furniture dan peralatan membatik).
  • Museum Radya Pustaka (museum tertua di Indonesia, berisi koleksi gamelan kuno, koleksi wayang, uang kuno, patung, senjata tradisional, buku-buku kuno dan lain sebagainya yang erat hubungannya dengan Keraton Surakarta)
  • Museum Danar Hadi Solo (berisi 10.000 koleksi batik dari berbagai jenis dan tahun pembuatan dengan tujuan untuk melestarikan sekaligus sebagi pusat pendidikan dan pengetahuan tentang batik)
  • Museum Gula Gondang Winangun. (merupakan museum sejarah dan peralatan pembuatan gula berikut informasi yang berhubungan dengan sejarah, tradisi dan proses produksi yang ada di pabrik gula)

Pada bagian penjelasan tentang museum-museum yang berada di kota Semarang yang dimasukkan di liputan dalam buku ini sebagian sudah cukup sering diliput oleh pihak media massa, yaitu:

  • Museum Jamu Indonesia Nyonya Meneer (museum jamu pertama dan terlengkap di Indonesia, yang berisi sejarah, koleksi dan replika proses pembuatan jamu. Museum terletak di kompleks Perusahaan Jamu Cap Potret Nyonya Meneer)
  • Museum Rekor Dunia Indonesia (berisi dokumentasi pemecahan rekor di berbagai bidang, baik rekor Indonesia maupun rekor dunia)
  • Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah (berada di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah, berisi pengetahuan, replika dan peninggalan-peninggalan religi yang menunjukkan proses perkembangan Agama Islam di Jawa Tengah).
  • Museum Mandala Bhakti (museum perjuangan milik TNI, berisi dokumentasi, perpustakaan sejarah dan senjata-senjata yang digunakan oleh rakyat dan TNI sejak era kolonial hingga era kemerdekaan)
  • Semarang Art Contemporary Gallery (berada di kompleks kota lama Semarang, berisi benda-benda seni kontemporer)
  • Museum Rangga Warsito (merupakan museum terlengkap di Indonesia karena koleksi benda-benda kuno dalam berbagai tema, geologi, geografi, jaman purba, peninggalan budaya Hindu, Budha, Islam, teknologi transportasi, tradisi nusantara, kesenian khas yang sudah jarang ditampilkan dan lain sebagainya)
  • Museum Kereta Api Ambarawa (menyimpan puluhan lokomotif dan peralatan yang digunakan oleh kereta api jaman dulu, sebagian pernah saya tulis di artikel tentang Kereta Api Uap Ambarawa)

Dari sekian banyak museum yang diulas di buku ini, baru beberapa yang saya kunjungi, seperti Museum Affandi, Museum Dirgantara, Museum Gunung Merapi, Museum Kereta Keraton Yogyakarta, Museum Keraton Surakarta dan Museum Kereta Api Ambarawa.

Banyak hal yang saya nikmati dan pelajari di sana. Jauh dari kesan seram dan membosankan bila kita tahu apa keunikan dan sisi menariknya. Museum De Mata Trick Eye bahkan sekarang menjadi salah satu obyek wisata yang  sangat laris di Yogyakarta karena spot-spot foto uniknya.

Ada 20 museum yang diangkat dan dibahas dalam buku ini, sehingga buku ini seperti buku panduan yang layak dimiliki bila anda ingin berwisata menjelajahi museum-museum yang ada di ketiga kota ini. Cukup lengkap informasinya dengan bahasa yang cukup jelas.

Kelemahannya adalah, karena ini adalah buku informasi yang tidak sepopuler buku novel atau cerita fiksi maka akan cukup membatasi  jumlah peminat bacaan jenis ini. Selain itu pembacanya pun akan cenderung mencari bagian yang ingin dikunjunginya dan tidak langsung membaca buku ini seutuhnya.

Tapi karena saya suka traveling dan suka mengunjungi tempat-tempat seperti ini, jadi buat saya, buku ini memiliki skor 3,5 dari skor maksimal 5.

Nice book… membuat saya ingin berkunjung ke beberapa museum yang ada di buku ini 😀

Regards,

Eva Zahra

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *