Lesson in Life

Samudraraksa Nan Perkasa

Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b’rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

(Ibu Sud)

Lirik lagu diatas adalah syair sebuah lagu yang sering saya dendangkan semasa saya masih kanak-kanak. Menceritakan kehebatan nenek moyang kita yang tak gentar mengarungi samudera dan menerjang badai. Dalam imajinasi saya saat itu, mereka adalah orang-orang hebat dan membanggakan.

Beranjak dewasa, makin banyak informasi tentang luasnya samudera di negeri ini, mulailah imajinasi melayang disertai keinginan untuk mencoba transportasi kapal besar yang melintasi samudera di Indonesia.

Kali pertama saya naik kapal fery menuju pulau lombok untuk traveling backpacker bersama teman saya yang asli dari Mataram. Sayang kapal yang saya bayangkan berbeda dengan kenyataanya. Kapal fery itu adalah kapal mesin yang tidak memiliki layar. Bukan petualangan seru yang saya dapatkan, karena diatas kapalpun menu nya sama saja dengan yang biasa saya dapati sehari-hari, yaitu Pop Mie. 😀

Kali kedua saya naik kapal besar dari Surabaya menuju Balikpapan. Kapalnya keren dan sangat besar, tapi tetap saja tanpa layar. Bahkan di dalam kapal ada bioskop mini yang memutar film terbaru. Makannya pun di restorasi yang dilayani oleh kru kapal tersebut. Tak ada petualangan seru seperti imajinasi saya semasa kanak-kanak.

Hingga suatu saat saya berkunjung ke Candi Borobudur di daerah Magelang Jawa Tengah, lazimnya pengunjung mengagumi kemegahan Candi yang dahulu sempat masuk ke dalam jajaran 7 keajaiban dunia. Saat itu masih pagi, matahari masih tersenyum hangat, kami sudah sampai ke puncak Candi. Menikmati kehebatan konstruksi nenek moyang Indonesia yang mampu membangun sebuah Candi terbesar yang menjadi pusat ibadah penganut agama Budha dengan peralatan manual.

Borobudur2_evazahra.comJajaran Stupa Candi Borobudur

Sambil sesekali mengintip ke dalam stupa, dan terkagum-kagum melihat bagaimana bisa sebuah patung Budha yang sedang bersila bisa terlindungi oleh stupa yang sangat presisi ukurannya.

Budha_Dalam_StupaBudha Dalam Stupa

Di sepanjang lorong candi, penuh dengan relief yang menggambarkan kebudayaan, tatacara ibadah, dan kondisi masyarakat di Abad 8 Masehi. Di suatu tempat diantara relief-relief candi, terseliplah sebuah pahatan berupa kapal layar bercadik.

samudraraksa1Relief kapal pada dinding Candi Borobudur

Relief itu menggambarkan perjuangan pelaut-pelaut di masa lalu dalam mengarungi samudera untuk berdagang rempah-rempah. Hingga dikenal pula istilah jalur kayu manis, untuk menandai rute yang ditempuh para pelaut negeri ini di masa lampau. Tak terbayangkan bagaimana tantangan alam di masa itu dengan peralatan tradisional.

Puas menikmati eksotisme Candi Borobudur, saya melanjutkan perjalanan untuk menuju obyek-obyek wisata tambahan yang ada di sekitar Candi. Tampak di kejauhan terlihat penanda arah menuju Museum Kapal Samudraraksa. Apa ya kira-kira yang ada di dalamnya?

Ternyata di dalam Museum Kapal Samudraraksa, terdapat replika kapal yang terpahat pada relief candi, dan diwujudkan dalam bentuk asli sekaligus digunakan untuk berlayar menempuh rute perdagangan rempah-rempah hingga ke Afrika.

kapal samudraraksaKapal Samudraraksa

Pembuatan kapal berawal dari ide seorang mantan Angkatan Laut Inggris, Philip Beale, yang terpesona melihat keindahan relief kapal di Candi Borobudur ketika ia berwisata ke candi tersebut sekitar tahun 1982. Dia menyimpan mimpi untuk mewujudkan relief kapal pada dinding candi untuk digunakan berlayar menempuh rute perdagangan di masa itu.

rutesamudraraksaRute perjalanan kapal Samudraraksa

Hampir 20 tahun kemudian barulah impian itu terwujud. Dia bekerjasama dengan arsitek berkebangsaan Australia, Nicolas Burningham serta seorang nelayan Madura yang sangat berpengalaman dalam pembuatan kapal, As’ad Abdullah. Berbakal data-data yang minim dan keinginan kuat untuk membuktikan bila kisah pada relief kapal yang terdapat pada Candi Borobudur adalah benar adanya.

spesifikasi samudraraksaSpesifikasi Kapal Samudraraksa

Pembuatan kapal yang dimulai pada tanggal 20 Januari 2003 dan diturunkan ke air pada tanggal 26 Mei 2003. Dalam pembuatannya, Samudraraksa menggunakan tujuh jenis kayu dengan ukuran panjang 18,29 meter, lebar 4,25 meter, dan tinggi badan kapal 2,45 meter tanpa dilengkapi mesin,hanya mengandalkan layar dan dayung. Ekspedisi ini dipimpin oleh nahkoda yang berasal dari TNI Angkatan Laut yaitu kapten Putu Sadana dengan kapasitas 16 ABK (anak buah kapal).

Ekspedisi jalur kayu manis dimulai tanggal 15 Agustus 2003 di Jakarta dengan melewati rute Indonesia, Seychelles, Madagaskar, Cape Town, dan berakhir di Ghana tanggal 23 Februari 2004. Membawa serta 16 anak buah kapal.

Begitu sampai di Ghana, kapal Samudraraksa kemudian dibongkar konstruksinya kemudian dikirim kembali menuju Indonesia untuk dipajang di Museum Samudraraksa, di kompleks Candi Borobudur dan diresmikan pada tahun 2005.

Sebuah replia kapal layar di abad ke 8 Masehi, yang dibuat di era milenium,  dengan panjang kurang dari 20 meter berbahan kayu, tanpa mesin, hanya menggunakan layar, cadik dan dayung, dan dinakhodai anak bangsa Indonesia sendiri, berhasil menjadi bukti kehebatannya menempuh perjalanan dari Indonesia menuju Afrika.

Masih kurang banggakah kita pada kemampuan orang-orang Indonesia yang hebat-hebat? Candi, kapal, adalah dua contoh kehebatan nenek moyang bangsa ini. Saat inipun tak terhitung banyaknya anak-anak bangsa yang membanggakan negeri ini di semua bidang, termasuk bidang teknologi, baik teknologi maritim, dirgantara maupun teknologi konstruksi bangunan. Selama kita menghargai dan memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh anak-anak bangsa Indonesia ini, maka bukti apalagi yang kurang menunjukkan bila orang INDONESIA itu KEREN?

Regards,

@EvaZahraa

1 thought on “Samudraraksa Nan Perkasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *