Personal Life

Sawang Sinawang

Sawang Sinawang, sebuah filosofi Jawa, yang secara umum Saya artikan sebagai saling memandang kehidupan orang lain. Mungkin sedikit mirip dengan pepatah “Rumput Tetangga Lebih Hijau“.

Seberapa sering Kita membandingkan kehidupan Kita dengan kehidupan orang lain? Seperti makna yang dapat ditangkap dari puisi di bawah ini. Saya tidak tahu siapa pengarangnya, karena beredar di beberapa website dan blog pribadi. Siapapun pengarangnya, terimakasih sudah berbagi… 

Yang tinggal di gunung merindukan pantai.
Yang tinggal di pantai merindukan gunung.
Di musim kemarau merindukan musim hujan.
Di musim hujan merindukan musim kemarau.
Yang berambut hitam mengagumi yang pirang.
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam.
Diam di rumah merindukan bepergian.
Setelah bepergian merindukan rumah.
Ketika masih jadi karyawan ingin jadi Entrepreneur supaya punya kebebasan waktu.
Begitu jadi Entrepreneur ingin jadi karyawan, biar tidak pusing.
Waktu tenang mencari keramaian.
Waktu ramai mencari ketenangan.
Saat masih bujangan, pengen berkeluarga.
Saat sudah berkeluarga merindukan masa bujangan.
Punya anak satu mendambakan banyak anak.
Punya banyak anak mendambakan satu anak saja.
Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki.
Namun setelah dimiliki tak indah lagi
Kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, namun mengabaikan apa yang sudah dimiliki tanpa rasa syukur?
Semoga kita menjadi pribadi yang yang senantiasa bersyukur dengan berkah yang sudah kita miliki.
Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun kecil
Jangan menutupi hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran negatif.
Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua.
Syukuri apa yang ada,
karena hidup adalah anugerah bagi jiwa-jiwa yang ikhlas.

Begitu pula yang kadang terjadi dalam kehidupan Kita, seringkali Kita mengurangi tingkat kebahagiaan yang Kita dapatkan dengan cara membandingkan apa yang Kita miliki dengan apa yang orang lain punya. Jelas beda donk…  Sama saja Kita membandingkan rasa Nasi Goreng dengan rasa Jus Alpukat…  Tidak ada patokan yang sama untuk dibandingkan hihihi…. Sama lezatnya bila dinikmati dengan penuh rasa syukur.

Saya masih terus belajar untuk memahami hakekat rasa syukur.. Selalu ada godaan untuk membandingkan karunia yang telah Saya peroleh dengan karunia yang diperoleh orang lain. Walaupun Saya tahu, bila Allah SWT Maha Adil. Sehingga terkadang sahabat-sahabat Saya yang akhirnya mengingatkan Saya untuk berhenti membanding-bandingkan 😀 *jadi malu*

Bersyukurlah akan kehadiran sahabat-sahabat dan teman baik di sekitar Kita. Karena merekalah yang akan mengingatkan Kita saat Kita mulai melakukan hal-hal yang justru akan membuat Kita jauh dari rasa syukur pada nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan dalam hidup Kita. 

Dan kehadiran merekalah yang sedang Saya syukuri, saat ini… 🙂  

Semoga bermanfaat,

Salam Hangat, 

 @EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *