Lesson in Life

Senandung Rindu Pencari Ilmu

Teringat masa kecilku, mudah sekali mengingat hafalan apapun. Tanpa perlu banyak mengulang, ingatan itu melekat kuat hingga saat ini. Saat remaja pun masih seperti itu, begitu mudah memanggil data yang ada dalam ingatanku. Tak ada cerita susah payah mengingat hafalan yang sudah lalu. Benarlah kata nasehat leluhurku, bila belajar di usia belia bagaikan mengukir di atas batu. Bekasnya sukar hilang, melekat kuat begitu lama.

Saat ini baru terasa ruginya tak menggunakan waktu belia untuk belajar agama dan belajar al qur’an. Saat semangat membumbung tinggi, keterbatasan ingatan membuat hafalan harus diulang puluhan hingga ratusan kali. Bagai mengukir di atas pasir, tertiup angin akan memudar, terhempas ombak akan menghilang. Dan harus mengukir lagi dari awal.

Masalalu bukan untuk disesali, namun jadikan pelajaran. Sambil melihat ke masa depan bila aku sudah berkeluarga dan mempunyai anak nanti, aku kadang bergumam, wahai anak yang nanti Allah titipkan, bersiap-siaplah karena ibumu ini nanti akan memintamu untuk  menghafal al qur’an dan ilmu agama sambil dirimu belajar ilmu lainnya. Biar nggak kayak ibumu ini, baru mulai belajar di usia dewasa. Lamaaaa nak ‘nyanthel’nya heuheu.. 😀

Yah belajar tak kenal usia. Mungkin baru sekarang Allah beri kesempatan untuk mendalami al qur’an dan ilmu agama. Alhamdulillaah Allah kirimkan sahabat-sahabat dengan pengetahuan agama dan hafalan yang membuatku iri. Merekalah yang membuatku ingin berlari mengejar ketertinggalanku. Walaupun ngos-ngosan, tak apa, aku senang menjalaninya.

Semua peristiwa ada hikmahnya. Belajar di usia dewasa, bisa dipercepat saat kita menemukan alasan kuat mengapa harus segera mengejar ketertinggalan ilmu. Salah satunya adalah waktu. Tak tahu kapan batas usiaku, sehingga saat aku lemah semangat, selalu ada suara lembut berbisik,”Kapan lagi? Kapan lagi?”. Dan semangatkupun tumbuh lagi.

Begitupun saat aku melihat gempuran media saat ini, perusakan akhlak luar biasa terjadi. Jika aku tak mempersiapkan diri, mau jadi seperti apa keluarga dan anak-anakku nanti? Bukankah ibu adalah madrasah pertama keluarga? Bukankah orangtua punya kewajiban untuk membimbing anak-anaknya? Dan bukankah indah saat bisa berkumpul di surga bersama? Bagaimana caranya? Nah itu dia, persiapkan dan cukupkan bekalnya.

Senandung rindu pencari ilmu. Begitu lama aku terlena pada ilmu dunia hingga terlupa ilmu akhirat. Aku harus mengejar ketertinggalanku, susah payah biarlah menjadi ibadah. Lamanya waktu tak mengapa, asalkan aku tahu apa yang aku pelajari dan bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Mohon bimbing aku, duhai Engkau Sang Pemilik Ilmu..

Renungan di pagi yang indah, penuh dengan limpahan berkah…

@EvaZahraa

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *