Traveling

Stasiun Maguwo Lama, Sang Penjelajah Tiga Zaman (Bagian 1)

Eva, bisa tolong datang ke undangan event di Stasiun Maguwo Lama? Acara Kelas Mewarnai Indonesia, Seri Menulis dan Jelajah Heritage…

*kemudian sebuah gambar undangan meluncur masuk*

stasiun maguwo lama sang penjelajah tiga zaman
Undangan dari Event Kelas Mewarnai Indonesia : Seri Menulis dan Jelajah Heritage

Kayaknya menarik. Tapi sepertinya ada yang berbeda syaratnya… Apaaah? Undangan diminta datang dengan dresscode ala zaman kolonial? #Glodhagg

Langsung deh kecepatan pikiran yang biasanya melambat saat mendekati weekend tiba-tiba meningkat lagi. Ada empat pilihan dresscode yang diberikan: 

  1. Pegawai KA (Kereta Api) Era Belanda
  2. Pribumi
  3. Tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indische Leger) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda
  4. Pejuang Kemerdekaan

Beberapa ide imajinasi melintas di dalam pikiran. Saya kan memakai hijab, jelas tidak bisa memakai dresscode pegawai kereta api era Belanda dan Tentara KNIL. Oke, pilihan pertama dan ketiga jelas dicoret…

Tinggal dua pilihan, memakai dresscode  ala pribumi atau pejuang kemerdekaan.

Tapi masa ada sih hijaber membawa bambu runcing dan senapan? Nanti saya dikira teroris pula dan ditangkap petugas keamanan. Mau berkostum petugas paramedis dengan gamis putih dan kerudung, nanti malah dikira mau ke KUA.

Okebaeklaaah tinggal satu pilihan yang mungkin. Saya harus memakai dresscode berbusana ala pribumi.

Sip….

Kira-kira apa ya yang pantas saya jadikan ide pilihan busana? Zaman penjajahan Belanda dulu, kerudung masih didominasi selendang panjang dan kebaya putih. Itu juga digunakan oleh para priyayi (masyarakat dari kalangan bangsawan).

stasiun maguwo lama penjelajah tiga zaman
Contoh wanita berbusana kebaya encim dan batik. (sumber : pinterest)

Sepertinya ini gambar yang pas untuk diduplikasi dengan modifikasi kerudung 😀 Walaupun bukan kebaya khas suku jawa, tapi cukup mewakili busana pribumi Indonesia hehe… Kebaya putih, bawahan batik, dan tambahin kerudung. Beres dah…

Next, waktunya gerilya ke lemari baju ibu saya yang kira-kira masih menyimpan jenis baju yang ada mirip-miripnya dengan gambar itu.

Setelah beberapa lama menyeleksi isi lemari baju-baju lama milik ibu saya, yes akhirnya dapat juga… tapi kegedean 😀

Tenaang, saya tahu penjahit mana yang mau melakukan permak baju dan bisa ditunggu saat itu juga. Meluncurlah saya kesana untuk memperkecil kebaya dan bawahan motif batik milik ibu saya yang sudah jarang digunakan.

Setelah semua persiapan selesai, berarti tinggal menunggu tanggal 2 April 2017 tiba.

Minggu pagi, dengan menggunakan dresscode ala-ala wanita bangsawan pribumi, saya menuju lokasi penyelenggaraan event tersebut. Event ini diadakan atas dukungan dari beberapa komunitas, diantaranya adalah Duta Damai Yogyakarta, Komunitas Malam Museum, Komunitas Roemah Toea, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Pusat Media Digital, Masyarakat Digital Jogja, Dinas Pariwisata Sleman, Dinas Kominfo Daerah Istimewa Yogyakarta, dan PT Kereta Api Yogyakarta.

Sempat terbersit rasa kuatir karena saya sama sekali belum pernah menjelajahi daerah di sekitar Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Katanya sih Stasiun Maguwo Lama ini adalah bangunan cagar budaya yang sejak tahun 2009 sudah tidak difungsikan lagi. Saat ini sudah dibangun Stasiun Maguwo Baru di dekat kompleks Bandara Adisutjipto untuk transit kereta api aktif. Menurut info sih seperti ini fotonya…

stasiun maguwo lama bangunan cagar budaya
Inilah Foto Stasiun Maguwo Lama sesuai dengan yang ada di heritage.kereta-api.co.id

Dulu stasiun ini pernah difungsikan sebagai tempat transit kereta api di zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang dan zaman kemerdekaan. Stasiun yang sudah menjadi saksi perjalanan tiga zaman yang berbeda.

Stasiun Maguwo Lama berada di tengah-tengah perkampungan warga. Terletak di sebelah barat Stasiun Maguwo Baru. Jalan menuju kesana bisa melewati gang yang berada di sebelah perumahan PT Angkasa Pura Yogyakarta.

“Mbak, mau kemana?” tanya seorang ibu-ibu yang saya temui di ujung gang tersebut. Mungkin beliau melihat saya celingak-celinguk seperti anak hilang 😀

“Saya mau ke Stasiun Maguwo Lama, Bu”

“Lho ada acara apa, mbak?” tanya ibu itu sambil memperhatikan baju yang saya kenakan. Mungkin beliau heran melihat ada orang mengenakan baju seperti mau kondangan di jaman dulu hihi…

“Oh, saya mau ikut event yang diadakan di Stasiun Maguwo Lama, Bu. Belajar sejarah stasiun ini” jawab saya sambil nyengir berusaha menahan tawa melihat ekspresi ibu tersebut.

“Lokasinya di ujung sana, Mbak. Sepertinya sudah banyak yang datang juga” kata beliau sambil ikut tersenyum menunjukkan sebuah bangunan di dekat rumah beliau.

Yaaa….yaaa…. mungkin beliau heran, sepagi ini sudah ada beberapa orang yang mondar-mandir mengenakan baju ala-ala zaman kolonial Belanda dulu hihihi…

Saya melanjutkan perjalanan dan dari kejauhan tampak sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, dengan cat kelabu yang sudah mulai mengelupas di sana sini. Berada di sepetak lahan sekitar 100 meter persegi yang diatasnya ada papan petunjuk bahwa ini adalah Stasiun Maguwo, bangunan cagar budaya. Lho, kok beda ya dengan foto yang saya bawa 😀

stasiun maguwo lama
Stasiun Maguwo Lama dilihat dari arah belakang (document: pribadi)

Masih sepi, walaupun banyak kendaraan parkir tapi tak terlihat seorang pun yang tampak. Wah harus pakai jurus berikutnya. Call a friend… Saya menghubungi Mbak Elzha, salah satu panitia acara.

Ternyata sudah banyak yang datang dengan penampilan busana beraneka macam 😀 Sinyo dan Noni Belanda, lelaki pribumi dengan baju luriknya, opas berkaus putih dan bersarung lengkap dengan kemoceng di tangannya, seperti pesta kebun di zaman Belanda saja rasanya.

panitia kelas mewarnai indonesia jelajah heritage stasiun maguwo lama
Panitia dan sebagian peserta sedang siap-siap sebelum acara dimulai. (document: pribadi)
panitia kelas mewarnai indonesia stasiun maguwo lama
Pose dulu sebelum acara Kelas Mewarnai Indonesia dimulai. (document : pribadi)
belajar dan melestarikan bangunan bersejarah stasiun maguwo lama
yuk foto dulu sebelum belajar sejarah dan jalan-jalan. (document : pribadi)

Sekitar jam 9 pagi, acara pun segera dimulai. Hmmm… kira-kira kita mau ngapain sih hari itu? Berdandan ala-ala zaman kolonial, berkumpul di sebuah bangunan kecil bekas stasiun yang sudah tidak digunakan lagi. Sepertinya seru banget 😀

Jawabannya, ada di artikel berikutnya tentang acara Kelas Mewarnai Indonesia, Seri Menulis dan Jelajah Heritage Stasiun Maguwo Lama.

Simak teruuus…

Regards,

Eva Zahra

 

2 thoughts on “Stasiun Maguwo Lama, Sang Penjelajah Tiga Zaman (Bagian 1)

    1. Duh senengnya dikunjungi blogger paporit aye 😀 Seru pas ada event mah disana mbak, hari-hari biasa ya sepi kali…

Leave a Reply to evazahra Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *