Stasiun Maguwo Lama, Sang Penjelajah Tiga Zaman (Bagian 2)

kelas mewarnai indonesia jelajah heritage stasiun maguwo lama

Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah

~ Bung Karno ~

Stasiun Maguwo Lama itu bangunan apa sih? Apa saja ya peristiwa yang terjadi disana sampai ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya?

Setelah heboh dengan persiapan dresscode yang sudah saya ceritakan di artikel sebelum ini , perjalanan napak tilas sejarah pun dimulai.

Sambil menunggu seluruh peserta datang, apalagi yang paling seru dilakukan selain hunting foto-foto dresscode unik yang ada di lokasi. Ada sinyo dan noni belanda, opas bawa kemoceng, mas berbaju lurik, mbak-mbak berkebaya. Duh berasa kembali ke zaman perjuangan 😀

stasiun maguwo lama sang penjelajah tiga zaman
Peran apakah yang sedang diperagakan Aga dan Lengkong Sanggar ini? 😀 (dokumentasi pribadi)
stasiun maguwo lama sang penjelajah tiga zaman
Photo session sebelum penampilan berubah karena cuaca panas 😀 (dokumentasi pribadi)

Kelas Mewarnai Indonesia, Seri Menulis dan Jelajah Heritage

Sebelum sinar matahari semakin terik, acara Kelas Mewarnai Indonesia segera dimulai. Pak Bhurhani dari PT Kereta Api Indonesia, Mbak Elzha (Duta Damai Indonesia) dan Mas Hari (Komunitas Roemah Toea) mewakili panitia penyelenggara memberikan sedikit pengantar acara sebelum kita jalan-jalan bareng napak tilas perjalanan sejarah lama.

Jelajah heritage stasiun maguwo lama
Sambutan dari panitia dan PT Kereta Api Indonesia (dokumentasi pribadi)

Sebelum berangkat ke event Kelas Mewarnai Indonesia ini, saya belum punya bayangan mau ngapain kami disana nanti. Bahkan sempat terlintas pikiran bahwa nanti bakal ada lomba mewarnai dan menulis 😀 Parah kali saya ya hihi….

Ternyata eh ternyata… event ini diadakan untuk mengenalkan sejarah dan menyebarluaskan berita tentang pelestarian cagar budaya. Bakal ada acara jalan-jalan sambil napak tilas lokasi-lokasi bersejarah yang berkaitan dengan Stasiun Maguwo Lama ini.

Dari situ para peserta diharapkan memviralkan konten-konten positif yang jauh dari muatan radikalisme dan berita negatif di jejaring sosial yang digunakan.

Sebelum acara jalan-jalan dimulai, kami dibagi menjadi dua kelompok agar lebih nyaman dalam menyimak penjalasan dari pemandu acara jelajah heritage nya.

Kelompok pertama adalah kelompok fotografi dan videografi yang dipandu oleh Mas Hari Kurniawan. Kelompok kedua adalah kelompok menulis yang dipandu oleh Mas Aga dan Lengkong Sanggar. Para pemandu berasal dari Komunitas Roemah Toea yang memiliki peran dalam membantu PT KAI dalam membersihkan dan menjaga kelestarian Stasiun Maguwo Lama ini.

Yak…untuk mempertahankan ke-eksis-an kami di dunia jejaring sosial, semua peserta foto bareng dulu di depan Stasiun Maguwo Lama. Sebagai bukti sah kalau kami adalah manusia yang hobby tampil 😀

stasiun maguwo lama ala zaman kolonial
Pose ala-ala zaman kolonnial dengan kamera black and white 😀 (dokumentasi pribadi)

Sedari awal kami sudah diingatkan untuk menjaga diri saat foto bersama. Karena lokasinya yang tepat ada di pinggir rel jalur kereta api aktif double track yang sudah pasti akan sering dilalui kereta api ekonomi, bisnis, maupun eksekutif.

Sesekali penjelasan dihentikan untuk menyimak iklan yang mau lewat. Iklannya berupa suara kereta api yang melintas maupun suara pesawat yang akan take off di landasan Bandara Adisutjipto. Stasiun Maguwo Lama hanya berjarak sekitar 50 meter dari landasan pacu bandara.

photo session di stasiun maguwo lama
Buyaaaar konsentrasi saat kereta api lewat 😀 (dokumentasi pribadi)

Napak Tilas Sejarah Stasiun Maguwo Lama

Stasiun Maguwo Lama di sekitar tahun 1872 awalnya hanya berupa pos kecil di tepi jalur kereta api Solo – Yogyakarta. Baru dibangun menjadi lebih besar pada tahun 1909 dan sudah mengalami renovasi pada tahun 1930 dan tahun 2010.

Perusahaan yang membangun stasiun ini adalah perusahaan yang membangun jalur rel kereta api di pulau jawa. Nama perusahaannya adalah Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij (NISM).

Kehadiran Stasiun Maguwo Lama tidak bisa terlepas dari berkembangnya pabrik-pabrik gula di pulau jawa. Dahulu di Yogyakarta saja ada sekitar 17 pabrik gula yang beroperasi. Namun karena resesi ekonomi dunia, satu persatu pabrik gula ini akhirnya berhenti beroperasi.

Jalur transportasi kereta api di stasiun ini digunakan untuk memudahkan pengangkutan tebu sebagai bahan baku pembuatan gula. Begitu juga untuk mengangkut gula hasil produksi pabrik gula Wonocatur menuju pelabuhan.

Stasiun ini menjadi saksi terjadinya peristiwa Agresi Militer Belanda ke-2. Lokasi stasiun digunakan sebagai pusat pengangkutan tentara Belanda yang terjun payung dan mendarat di Landasan Udara Maguwo.

Tempat transit kereta api ini pada zaman dahulu juga digunakan sebagai tempat untuk melakukan bongkar muat Pupuk Sriwijaya yang akan disimpan di  gudang pupuk urea. Selain itu juga melayani pengangkutan ketel pemasok bahan bakar avtur untuk pesawat-pesawat di Bandara Adisutjipto Yogyakarta.

Stasiun Maguwo Lama sudah mengalami dua kali renovasi yaitu di tahun 1930 dan 2010. Pada awalnya bangunan stasiun ini terdiri dari 4 ruangan, yaitu ruang PPKA (Pimpinan Perjalanan Kereta Api), ruang kepala stasiun yang merangkap ruang loket tiket, dapur dan ruang tunggu penumpang.

Seiring dengan dikembangkannya Bandara Adisutjipto sebagai bandara yang terintegrasi dengan sarana transportasi lainnya, berikut dibangunnya rangkaian rel double track, maka kegunaan Stasiun Maguwo Lama ini berakhir pula. Dibangunlah Stasiun Maguwo Baru pada tahun 2008 untuk menggantikan fungsi Stasiun Maguwo Lama ini.

renovasi stasiun maguwo lama 2010
Beginilah perubahan bentuk Stasiun Maguwo Lama setelah renovasi tahun 2010. (doc. heritage.kereta-api.co.id)

Setelah mengalami renovasi, rencananya sih stasiun ini mau digunakan sebagai tempat belajar sejarah, bekerjasama dengan perusahaan di Indonesia sebagai penyedia prasarana. Sayangnya, kekurangan sumber daya membuat hal ini belum terlaksana.

Untunglah ada Komunitas Roemah Toea dan Komunitas Malam Museum yang menawarkan bantuan untuk membersihkan dan melestarikan bangunan bersejarah ini.

Mas Hari, Mas Aga, Lengkong Sanggar dan teman-teman dari Komunitas inilah yang menjadi pemandu kami saat napak tilas perjalanan sejarah dari Stasiun Maguwo Lama ini.

menyusuri perkampungan napak tilas jalur rel stasiun maguwo lama
Biarpun berasa ikut karnaval kostum, kami tetap semangat jalan-jalan 😀 (doc. pribadi)

Hari semakin siang, perjalanan kami pun berakhir. Setelah istirahat makan siang dan sholat dzuhur, acara masih dilanjutkan dengan evaluasi acara hari ini.

akhir perjalanan jelajah heritage
Wajah anggota grup menulis setelah selesai jalan-jalan.

Yuk Lestarikan Bangunan Cagar Budaya

evaluasi akhir event kelas mewarnai indonesia
Berkumpul sejenak untuk menyimak kisah sejarah stasiun maguwo lama.

Seharian mengikuti rangkaian perjalanan napak tilas sejarah Stasiun Maguwo Lama dalam melewati tiga zaman, membuat saya menyadari satu hal.

Bahwa melestarikan cagar budaya bukanlah tanggung jawab instansi pemerintah saja. Namun juga menjadi tanggung jawab kita semua. Tujuannya agar para penerus kita nanti masih bisa belajar dari peninggalan-peninggalan sejarah yang ada.

Author: evazahra

Entrepreneur | Travel Writer Wannabe ^^

2 thoughts on “Stasiun Maguwo Lama, Sang Penjelajah Tiga Zaman (Bagian 2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *