Lesson in Life

Tahan 7 Detik

Saya awalnya adalah orang yang sangat reaktif. Sekarang pun kadang masih reaktif. Mudah sekali mengomentari kondisi, mengomentari orang lain atau peristiwa yang saya temui sehari-hari. Hingga suatu ketika saya capek sendiri. Sambil ngaca saya ngomong,”Komentarin orang mulu, kamu sendiri apa kabar? Udah baik?” :p

Suatu ketika saya menantang diri untuk ikut Entrepreneur Camp di Cipanas. Acaranya 3 hari full aktifitas, dibikin capek tapi senang karena saya dasarnya memang sedikit pecicilan hehehe… Di sana ada latihan untuk menunda respon. Artinya saya harus berlatih untuk mengendalikan kereaktifan saya. Caranya ya dengan diam sejenak saat sifat reaktif itu hadir. Atur nafas dan tanya pada diri sendiri. Pentingkah ini dilakukan? Ada manfaatnya kah? Ini bermanfaat untuk menjaga pikiran saya untuk berada di saat ini, bukan melompat kesana kemari layaknya monyet yang berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain. Lagipula, saya kan bukan monyet 😀

Ternyata saat kita fokus pada perbaikan pribadi, maka Allah akan kirim teman-teman untuk membersamai usaha kita. Yang perlu kita lakukan hanya membuka hati dan pikiran agar peka pada kehadiran mereka. Apakah mereka datang dalam wujud yang menyenangkan? Hohoho…belum tentu. Ada yang menyenangkan, ada pula yang menyebalkan. Ada pepatah bilang “Don’t Judge A Book By It’s Cover”, yang artinya berhentilah makan sebelum kenyang. Eh bukaaaan 😀

Don’t judge a book by it’s cover. Janganlah menilai sebuah buku dari sampulnya. (Nilailah dari isi buku dan harganya *lirik dompet*). Maksudnya, nilailah sesuatu, seseorang, sebuah peristiwa atau apapun yang kita temui berdasarkan manfaat dan hikmahnya untuk kehidupan yang lebih baik. Karena yang baik menurut kita bisa jadi tidak baik menurut Allah, begitupun sebaliknya, yang menurut kita buruk bisa jadi justru itu yang terbaik menurut Allah.

Bagaimana cara kita menilainya? Teruslah berprasangka baik pada apapun yang kita hadapi di dunia ini. Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hambaNYA? Tidak mudah…tapi itu adalah sebuah keniscayaan bila kita mau berusaha mewujudkan. Hidup adalah sebuah perjalanan seru yang menyenangkan. #GueMahGituOrangnya 😀

Sejak itu bertubi-tubi  bermunculan peristiwa-peristiwa yang membuat saya harus sering-sering menahan diri untuk tidak reaktif. Sampai pernah suatu ketika saya kuatir bila saya menjadi seorang yang apatis dan tak pedulian. Hingga suatu ketika saya memutuskan untuk fokus pada kebahagiaan hidup saya. Reaksi apapun yang ingin saya lakukan, cukup saya tanyakan dulu pada hati kecil saya,”Apakah kamu bahagia dengan cara ini?”. Ternyata ini cukup efektif untuk membantu sya memilih tindakan. Yang perlu saya lakukan selanjutnya adalah menjaga kebersihan hati agar tetap bisa digunakan untuk refleksi diri.

Tahan 7 detik, istilah ini kembali muncul beberapa bulan lalu saat salah seorang sahabat baik saya mengisi kajian rutin di grup whatsapp. Setiap kali kita ingin bereaksi menanggapi sesuatu yang terjadi, tahan 7 detik dalam kondisi sadar sepenuhnya untuk memberi kesempatan logika kita kembali mengontrol perasaan. Saya pun berusaha mempraktekannya, walaupun 7 detik itu saya kalikan 10, 20, atau kadang 100 karena saya tinggal jalan-jalan hehehe… Apalagi bila berkaitan dengan emosi yang memuncak, harus ditambah dengan istighfar dan wudhu bila perlu. And it works sodara-sodara…

Yaa..yaaa…hidup adalah perjalanan yang menyenangkan menuju tempat kita kembali nanti. Selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa yang kita alami. Selalu ada kebaikan yang hadir saat diri ini terus menerus memperbaiki diri.  Having fun with my lovely life, itu yang sedang saya lakukan hari ini.

 

Renungan tengah malam, semoga bermanfaat ^^

Salam hangat,

@EvaZahraa

6 thoughts on “Tahan 7 Detik

  1. waaah ini sangat berguna bagi orang impulsif seperti dirikuh. Makasih mbak eva! Akan aku praktekan. (((gigit lidah tujuh detik))) 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *