Notes

Teman Seperjalanan

Perjalanan akan jauh lebih menyenangkan bila dilakukan bersama teman yang saling melengkapi dan saling menjaga

Perjalananย  itu luas makna nya. Tidak terbatas pada aktifitas jalan-jalan traveling saja. Hidup pun sebuah perjalanan yang panjang, yang di dalamnya terbagi lagi dengan jutaan kemungkinan perjalanan lainnya. Kegiatan kita sehari-hari pun bisa dianggap sebuah perjalanan. Walaupun ada sebagian orang yang merasa lebih nyaman melakukan kegiatannya sendiri tanpa campur tangan orang lain, pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup soliter, sendiri tanpa orang lain.

Saya lebih senang mencari teman untuk mencapai sebuah target. Misalnya target kebiasaan menulis rutin di blog ini. Sudah terlalu lama saya tidak disiplin menulis di blog ini. Syukurlah beberapa hari yang lalu saya ngobrol online dengan salah seorang teman baik saya, Mbak Dini yang saat ini berdomisili di Norwegia. Dari situ tercetus ide untuk bareng-bareng berusaha merutinkan diri untuk menulis 1 artikel setiap hari selasa dan jum’at. Biar lebih seru, saya colek juga satu teman baik saya yang tidak kalah unik sifatnya, Bang Anto yang rajin menulis di blognya. Kedua orang ini unik karena punya spesialisasi masing-masing di artikel-artikelnya. Mbak Dini dengan artikel food combining dan kisah kesehariannya selepas pindah dari Indonesia ke Norwegia. Bang Anto dengan artikel tentang prinsip hidup minimalisnya. Lalu saya spesialisasinya apa ya? Hmmm…. Saya menuliskan hikmah kehidupan saya saja sambil sedikit curhat hehe…

Mengapa saya lebih suka mencari teman untuk membersamai perjalanan saya? Mungkin karena saya orangnya mood-mood an. Kadang rajin, kadang males hehe… Jadi kalau ada teman seperjalanan, lebih terjaga semangatnya. Lebih seru lagi kalau ikutan lomba dan ada hadiahnya ๐Ÿ˜€

Menulis adalah salah satu cara untuk memindahkan isi pikiran dan menuangkan ide, impian dan hal absurd lainnya. Pikiran manusia terbatas dalam mengingat dan mencatat apa yang terlintas, jadi lebih baik dituangkan saja ke dalam bentuk tulisan. Semakin sering dibiasakan, semakin mudah ide-ide itu mengalir. Menulispun bisa digunakan sebagai sarana me-release beban pikiran, karena saat dituliskan dan dibaca ulang, bisa jadi akan muncul solusi. Ini bisa terjadi karena kita melihat dari sudut pandang pembaca, bukan lagi sebagai orang pertama yang mengalaminya.

Baiklah, sejauh mana kami bisa rutin melakukannya bareng-bareng? Yuk deh dijalani saja prosesnya. Sambil terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas tulisan sejalan dengan rutinitas yang kami lakukan.

Semangat nuliiiiiis…. ^^

Regards

@EvaZahraa

7 thoughts on “Teman Seperjalanan

    1. Sami-sami mbak Dini, terimakasih yaa.. dirimu salah satu booster semangat untuk terus berbagi cerita dan menikmati proses kehidupan ๐Ÿ˜€

  1. Meski bukan dalam hal menulis, senang udah jadi teman seperjalanan mba Eva. Dalam hal mendalami syukur, sebagai proses ikhlas mensyukuri tanpa syarat.
    Naahh… Jd pengen nulis lagi nih

    1. Me too.. Bahagia punya teman seperjalanan seperti mbak Dian ๐Ÿ˜€
      Nulis lagi yuk mbaaak… Udah jalan kan jurnal syukur rutin nya. Lanjut dah sama isi blog lagi hihihi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *