Life, Traveling

The Journey Guru

Seminggu yang lalu saya mendapat kesempatan traveling dari Jogja menuju Bandung dan selanjutnya menuju Cipanas untuk sejenak menyegarkan pikiran, refreshing mengikuti Entrepreneur Camp. Sudah lama saya ingin mengikuti event ini, dan baru tahun ini bisa terlaksana πŸ˜€

Dan seperti biasa, sehari sebelum berangkat, selain persiapan perlengkapan yang harus dibawa, saya fokus menjaga mood dan pikiran positif. Mempersiapkan diri untuk menikmati perjalanan dan yakin bila proses perjalanannya akan sangat menyenangkan. Siapapun dan apapun yang saya temui nanti di sepanjang perjalanan, pastilah istimewa dan akan memperkaya wawasan kehidupan saya.

Tanggal 6 Maret 2014 saya berangkat dari Kereta Api Lodaya dari Jogjakarta. Duduk di kursi nomer 13A… Ngomong-ngomong soal angka 13, berbeda dengan anggapan sebagian orang yang menganggap angka 13 adalah angka sial. Saya justru menganggapnya sebagai angka istimewa. Hanya orang-orang spesial yang duduk di kursi dengan nomor itu hihihi…. Sssst, ini saya berlakukan juga saat saya mendapat posisi di kursi nomor lain πŸ˜€

Dan benarlah adanya, teman seperjalanan saya adalah seorang bapak-bapak usia sekitar 40 tahun-an yang ternyata adalah Direktur Produksi sebuah perusahaan eksportir serat sabut kelapa (Coco Fibre) di Gorontalo, Sulawesi. Sebut saja namanya Pak Romy. Asli dari Solo yang merantau ke Sulawesi. Berawal dari obrolan basa-basi, beliau kemudian berbagi cerita tentang perjalanan hidup beliau hingga sampai ke Gorontalo.

Benar juga kata teman saya bila saya selalu menarik orang lain untuk curhat hehe… Saya belajar untuk mengarahkan curhat orang lain ke arah yang bermanfaat. Caranya dengan memberi pancingan pertanyaan-pertanyaan yang tepat πŸ˜€ Sekaligus belajar mendengarkan dengan empati, bukan emosi.

Yuk ah lanjut ceritanya….

Pak Romy bercerita bila beberapa tahun yang lalu beliau adalah seorang kontraktor BTS, developer perumahan dan pengusaha bahan bangunan yang sukses, dengan aset beberapa milyar rupiah. Hingga suatu ketika, karena kontraktor utama kabur,Β  sebagai sub kontraktor beliau mengalami kebangkrutan karena gagal bayar. Beliau mengalami kerugian milyaran rupiah dan harus menjual semua aset untuk menutupi kerugiannya.

Pak Romy dan keluarga kembali ke titik nol lagi. Beliau bercerita tentang bagaimana beliau dan keluarga harus kuat menghadapi kejatuhan usahanya sekaligus bertahan dari komentar negatif orang lain. Beliau bertahan hidup dengan membangun bisnis-bisnis baru, dan selama 2 tahun terus mengalami kegagalan. Bahkan keluarganya sempat berada di ambang kehancuran.

Akhirnya beliau memutuskan untuk merantau ke Gorontalo, mengikuti saran teman beliau yang membuka warung makan disana. Bersama keluarga beliau membuka warung makan kecil-kecilan. Semua dijalani dengan tekun dan ikhlas. Yang beliau lakukan adalah melayani pelanggan sebaik mungkin, menjaga silaturahim dan komunikasi. Ternyata dari sinilah pintu rezeki beliau terbuka.

Pelanggan warung makan Pak Romy sebagian besar adalah karyawan-karyawan perusahaan di sekitarnya. Terkadang mampir juga Pemilik-pemilik perusahaan yang ada di sana. Beliau terus menjaga silaturahim, berkomunikasi dengan baik dan membangun kredibilitas selama menjalankan usaha warung makannya.

Setelah sekian lama menjalankan usaha warung makan, muncul lah tawaran kerjasama bisnis dari seorang pengusaha dengan sistem sharing profit. Pengusaha tersebut sekaligus memberikan mentoring secara terus menerus. Singkat cerita, sampailah Pak Romy di taraf saat ini dan memperoleh kembali kenyamanan hidup yang pernah hilang.

Tadinya saya pikir Pak Romy hanya akan bercerita tentang kisah perjalanan kesuksesannya saja. Ternyata saya salah duga. Selepas itu, beliau melanjutkan pembicaraan, lebih ke arah renungan hidup yang beliau dapatkan selama menjalani berbagai cobaan hidup selama ini.

Beliau membagikan apa yang beliau pelajari selama waktu itu. Bahwa dalam bisnis, harus dimulai dengan niat baik untuk menebar manfaat sebanyak-banyaknya. Untuk mengumpulkan bekal pulang ke alam keabadian nanti. Bukankah di akhir cerita hidup kita ini akan ditutup dengan kembalinya diri kita ke akherat?

Beliau menasehati saya untuk melakukan 2 hal secara seimbang. Yang pertama adalah : Syariatullah (ibadah) dijalankan dengan benar dan sebaik-baiknya. Jaga kehalalan cara dalam berbisnis, agar berkah hasilnya. Rajinlah menjaga tali silaturahim sebagai salah satu cara membuka pintu rezeki kita.

Yang kedua adalah : Sunnatullah nya pun harus di laksanakan dengan maksimal, sepenuh hati. Man jadda wa jadda, siapa yang berusaha maka akan mendapatkan hasil. Dalam kehidupan dan bisnis ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Ada aturan-aturan yang harus dijalankan secara profesional. Namun serahkan hasil akhirnya pada DIA, Allah Yang Maha Memberi Rezeki.

Ada lingkaran yang berada diluar kendali manusia, yaitu lingkaran TAKDIR. Jangan sekali-sekali berani mendikte Allah untuk menentukan hasil usaha kita. Wewenang kita berada dalam lingkaran IKHTIAR dibarengi dengan do’a dan prasangka baik pada semua kehendakNYA. Percayakan hasilnya pada Allah semata. Karena semua yang kita nikmati saat ini hanyalah titipan dariNYA. Suatu saat akan kembali padaNYA.

Empat jam berlalu tanpa terasa, Pak Romy pamit turun di stasiun Banjarnegara. Banyak sekali nasehat dan ilmu yang beliau ajarkan kepada saya sepanjang perjalanan itu. Dan saya melanjutkan perjalanan, sambil merenungkan dan mencerna semua yang sudah beliau katakan.

Entrepreneur Camp Batch 95 baru dimulai tanggal 7 – 9 Maret 2014. Tapi pembelajaran dan training yang saya jalaniΒ  untuk menjadi pengusaha sekaligus seorang Travel Blogger Indonesia sudah dimulai sejak saya melangkahkan kaki menuju lokasi terselenggaranya ECamp.

Alhamdulillaah wa syukurillaah… Allah Maha Baik, DIA mengirimkan orang-orang baik untuk membersamai perjalanan saya. πŸ˜€

Semoga bermanfaat ^^

@EvaZahraa

3 thoughts on “The Journey Guru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *