Notes

The Power of Stories

evazahra.com-story

Suatu pagi, notifikasi pesan personal di whatsapp saya berbunyi. Saya terbiasa men-silent-kan notifikasi pesan di hampir semua grup whatsapp untuk menghemat baterai hp. Entah kebetulan atau tidak, grup-grup whatsapp yang ada di dalam list hp saya sebagian besar sangat aktif arus chatnya. Masing-masing bisa ratusan chat perhari. Cukup untuk membuat tekor baterai dan membuat memory data cepat penuh jika tidak di mute dan rutin clear chat. Lho malah ngelantur kesana kemari…

Ternyata itu adalah pesan dari tetangga saya yang dulu pernah tinggal bersebelahan selama kurang lebih 6 tahun sebelum akhirnya saya pindah. Pagi itu dia meminta tolong agar saya mau membantu anaknya, sebut saja namanya Asha,  usianya 13 tahun. Rencananya Asha akan ke rumah saya sore itu.

Selama kami bertetangga dulu, sejak kecil Asha sering mampir untuk bermain sambil belajar di rumah saya, dia hanya butuh teman saat sibuk dengan kegiatannya. Sesekali dia menghentikan aktifitasnya dan menghampiri saya untuk bercerita dan saya juga mengambil jeda waktu untuk mendengarkannya. Saya pun tetap bisa menjalani kegiatan rutin sehari-hari tanpa merasa terganggu dengan kehadirannya.

Asha sudah menginjak usia remaja, dia bersekolah di sebuah Islamic Boarding School di Jogjakarta, yang masih memberi kesempatan untuk pulang saat weekend tiba. Ibu Asha bercerita bila Asha mulai tertutup saat dipancing untuk bercerita tentang teman-teman dan kegiatan sehari-harinya di asrama. Jadi Ibu Asha minta tolong, mungkin Asha bisa lebih nyaman bercerita saat bermain ke rumah saya.

Sore itu Asha datang dengan membawa ransel kesayangannya. Terlihat sedikit pendiam dan banyak pikiran. Setelah ngobrol-ngobrol ringan beberapa saat, saya bertanya pada Asha:

Me : Asha ingin belajar apa sore ini?

Asha : Asha nggak mau belajar, Tante.

Me : Ok, Asha nggak mau belajar. Sekarang Asha ingin ngapain dulu?

Asha : Asha mau nonton film (sambil mengeluarkan laptop dari ranselnya).

Me : Wuih seru… Film apa tuh, Sha?

Asha : Film Legend of The Guardians : The Owls of Ga’Hoole.

Me : Kenapa Asha ingin nonton film ini?

Asha : Buat bikin ringkasannya, Tante. Buat tugas sekolah.

evazahra.com-guardians-owl

The Owls of Ga’Hoole adalah sebuah film yang dirilis oleh Warner Bross sekitar tahun 2010, yang diadaptasi dari sebuah buku berjudul Guardians of Gperta’Hoole karya Kathryn Lasky. Film ini bercerita tentang petualangan Soren, seekor anak burung hantu yang sangat menyukai cerita legenda pejuang Ga’Hoole yang sering diceritakan oleh ayahnya. Legenda Pejuang Ga’Hoole bercerita  tentang sekumpulan prajurit bersayap yang menyelamatkan seluruh burung hantu dari ancaman gerombolan prajurit jahat yang menyebut dirinya The Pure Ones.

Soren bermimpi jika suatu saat nanti dia akan bergabung dengan Prajurit Ga’Hoole dan ikut menyelamatkan dunia burung hantu. Suatu peristiwa tak terduga telah membuat Soren dan saudaranya Kludd diculik dan dibawa ke  suatu tempat yang bernama St. Aegolius Academy, yang ternyata merupakan pusat pendidikan gerombolan The Pure Ones. Sementara Soren dan beberapa burung hantu lain berusaha melarikan diri dari St Aggie’s, Kludd justru ingin menjadi pasukan The Pure Ones.

Mulailah petualangan seru dari Soren dimulai. Soren akhirnya bisa melarikan diri dan menemukan arah untuk mencari keberadaan Prajurit Ga’Hoole. Bersama teman-temannya Soren berhasil menemukan markas prajurit Ga’hoole dan ikut serta dalam pertempuran melawan The Pure Ones. Banyak sekali nilai-nilai moral yang ada dalam film ini. Tentang kejujuran, kesetiaan, pantang menyerah, keteguhan sikap, persahabatan dan konflik keluarga. Dan di akhir cerita, kebaikan berhasil mengalahkan kejahatan.

Karena ceritanya dalam bahasa inggris yang diberi subtitle bahasa Indonesia, akhirnya kami membuat perjanjian di awal. Setiap 10 menit nonton film, harus break untuk ngobrol tentang isi film itu, saya minta Asha untuk menceritakan persepsi dia tentang bagian film yang baru kami tonton. Setelah itu gantian saya yang menceritakan persepsi saya. Dari situ saya bisa menyesuaikan bahasa yang saya gunakan untuk berdiskusi dengan Asha. Begitu terus berulang-ulang hingga film itu selesai.

Selama 2 jam lebih kami mendiskusikan film itu sambil menonton jalannya ceritanya. Selama itu juga banyak nilai-nilai moral yang berusaha saya sampaikan pada Asha tanpa memaksa dia untuk mendengarkan apa yang saya katakan. Karena ketertarikan dan rasa penasaran Asha pada kisah dalam film ini yang membuat dia bersemangat dalam bertukar pikiran.

Seandainya kebiasaan mendongeng  (storytelling) dihidupkan lagi dalam keluarga dan sekolah-sekolah dasar dan menengah di Indonesia, mungkin akan lebih memudahkan orangtua dan guru untuk menanamkan nilai-nilai moral dalam kehidupan tanpa perlu memaksa anak-anaknya untuk menghafalkan dan mendengarkan nasihat-nasihat mereka. Semoga makin banyak orang yang peduli pada sistem pendidikan moral di negeri ini. Aamiiin.

Sepotong kisah ini, semoga menginspirasi.

Salam Hangat,

@EvaZahraa

2 thoughts on “The Power of Stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *