Lesson in Life

Tipuan Prasangka

Dari kejauhan terlihat beberapa orang Polisi dan mobil patroli polisi di tepi jalan. Segera saya menepi dan memeriksa kelengkapan kendaraan, daaaaan….. Waduh… Gawat! SIM saya tidak ada di dalam dompet…

Di suatu sore, dalam perjalanan saya menuju kota Jogjakarta untuk mengikuti sebuah kajian rutin.  Saya mengendarai sepeda motor kesayangan saya dengan kecepatan sedang. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan, sinar matahari tak terlalu menyengat hari ini. Gamis dan khimar berkibar lembut mengikuti alunan angin yang bertiup. Arus lalu lintas tumben-tumbenan cukup lengang hari itu.

Di dalam pikiran saya terbersit keinginan untuk sejenak mampir ke sebuah pusat oleh-oleh. Saya ingin membeli bakpia dengan isi ubi ungu, untuk dimakan bersama beberapa teman nanti. Kalau rutin ngumpul berlima, rasanya cukup deh beli sekotak saja 😀

Tiba-tiba dari kejauhan terlihat ada pergerakan yang tidak biasa. Beberapa pengendara mengerem kendaraannya mendadak dan mulai melambat, beberapa bahkan berbalik arah atau menepi dan berhenti. Saya mulai menduga-duga, ada kecelakaan kah? Atau ada operasi penertiban lalu lintas rutin?

Dari kejauhan terlihat beberapa orang Polisi dan mobil patroli polisi di tepi jalan. Segera saya menepi dan memeriksa kelengkapan kendaraan, daaaaan….. Waduh… Gawat! SIM saya tidak ada di dalam dompet…

Gimana nih, perjalanan masih jauh, masa kena tilang, saya tidak mau nitip uang/ nembak suap pada petugas untuk menghindari sidang pelanggaran aturan lalu lintas. Tapi membayangkan sidang pelanggaran lalu lintas yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam saya juga lebih males lagi. Ampun dah… *celingak celinguk* semoga yang membaca artikel ini tidak ada yang berprofesi sebagai polisi hihihi…Duh maaf ya sodara-sodara, jangan ditiru cara saya ini, bener-bener ga patut dicontoh -___-

Setelah sejenak menikmati sensasi pikiran ngehang dan bengong, akhirnya pikiran waras saya kembali lagi. Tengok kanan tengok kiri, lho… ternyata saya sudah berada di depan toko oleh-oleh yang menjual bakpia isi ubi ungu kesukaan saya. Dengan riang gembira saya membelokkan arah sepeda motor saya kesana, tepat di sebelah sebuah SPBU yang cukup besar. Selepas parkir, lalu memasuki toko itu untuk membeli bakpia dan sebotol minuman.

Tanggung nih kalau langsung jalan, lagian kan masih belum selesai juga operasi lalu lintasnya. Sebentar lagi sudah hampir masuk waktu ashar juga. Sambil menunggu adzan ashar, saya duduk di kursi tunggu yang ada di toko itu, sambil mengamati lalu lalang rombongan piknik anak-anak sekolah. Menarik untuk diamati, penampilan yang beragam, bahasa gaul yang unik ditimpali suara teriakan sahut-sahutan saling meledek.

Adzan panggilan untuk sholat Ashar terdengar, saya menuju ke masjid kecil di kompleks toko oleh-oleh itu sambil menenteng tas mukena yang saya bawa dari rumah tadi. Setelah mengambil air wudhu, saya ngobrol dengan bapak-bapak penjaga toilet di masjid SPBU itu.

“Pak, kalau mau ke jogja, satu-satunya jalan cuma lewat jalur utama ini ya? Atau ada jalur alternatif lain?” tanya saya.

“O ada mbak.. banyak, tapi lewat kampung.” jawab bapak itu.

“Oiya? Yang paling dekat jalur yang mana, Pak?” respon saya.

“Mbak bisa lewat gapura di kanan jalan itu, nanti kesana… kesini…kesitu… belok sono… muter sana…. nah sampai situ… dst” kata bapak itu menjelaskab selengkap-lengkapnya.

Langsung deh saya nyengir bahagia mendengar penjelasan bapak itu tentang jalur alternatif itu. Bisa nih dicoba.

Selepas sholat ashar saya mencoba jalur alternatif itu, berkelak kelok, kesana kemari mengandalkan kata hati.. #haiyah hingga akhirnya saya kembali ke jalur utama.

Lho ternyata hanya selisih sekitar 300 meter dari arah gapura masuk jalur alternatif. Masih terlihat kerumunan operasi tertib lalu lintas yang ada. Wait… sebentar… kok ternyata operasi lalu lintas itu hanya mencari target kendaraan beban saja.   Ga ada satu pun sepeda motor yang dihentikan ckckck… Lalu buat apa saya sibuk mencari jalur alternatif ya hihihi… Tahu begitu kan lempeng saja saya bablas meneruskan perjalanan. *tepuk jidat*

Baiklaah… life goes on, saya pun melanjutkan perjalanan saya hingga sampai ke lokasi kajian hari itu.

*****

Yah… itulah analogi kehidupan. Kadangkala kita sudah dibuat cemas oleh prasangka-prasangka yang muncul berdasarkan pengalaman yang pernah kita lalui. Hingga kita merasa takut melangkah dan memilih mencari jalur lain untuk menyelamatkan diri. Padahal kenyataan sesungguhnya tidaklah seberat apa yang kita bayangkan.

Pengalaman seru untuk saya, menjadi renungan kehidupan sekaligus hiburan karena menemukan jalur alternatif lain untuk dilalui. 😀

Don’t try this at home, buddies.. Try this outside your home.. #eh 😀

Regards,

Eva Zahra

4 thoughts on “Tipuan Prasangka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *