Book Reviews, Personal Life

Totto-Chan

tottochan

Tiba-tiba Totto-chan berteriak kepada seseorang,”Hei kau sedang apa?”

Dari tempat saya berdiri saya tidak bisa melihat siapa yang diajaknya bicara, jadi saya hanya bisa menebak-nebak apa yang terjadi.

Kemudian dia berteriak lagi, “Kau sedang apa?”. Dia tidak berbicara pada seseorang di jalan tapi pada seseorang yang berada entah dimana.

Saya jadi penasaran dan mencoba mencari jawaban tapi tak ada yang menjawab. Meskipun demikian, putri anda terus menerus berseru,”Kau sedang apa?”. Begitu seringnya hingga saya tak bisa mengajar. Akhirnya saya pergi ke jendela untuk melihat siapa yang diajaknya bicara.

Ketika saya menjulurkan kepala dan mendongak, saya melihat sepasang burung walet sedang membuat sarang di bawah atap teritisan. Totto-chan berbicara pada sepasang burung walet.

*dialog antara guru totto-chan dan mama totto-chan*

*****

Mama Totto-chan tidak bilang pada Totto-chan bahwa dia dikeluarkan dari sekolah. Dia tahu Totto-chan tak kan mengerti mengapa dia dianggap telah berbuat salah dan Mama tak ingin putrinya menderita tekanan batin, jadi diputuskannya untuk tidak memberitahu Totto-chan sampai dia dewasa kelak.

Mama hanya berkata “Bagaimana kalau kau pindah ke sekolah yang baru? Mama dengar ada sekolah yang sangat bagus.”

*****

Kepala sekolah Tomoe Gakuen menarik kursi ke dekat Totto-chan lalu duduk berhadapan dengan gadis cilik itu. Ketika mereka sudah duduk nyaman, dia berkata,”Sekarang, ceritakan semua tentang dirimu. Ceritakan semua dan apa saja yang ingin kau ceritakan.

Totto-chan senang sekali dan langsung bercerita penuh semangat. Ceritanya kacau dan urutannya tidak karuan, tapi semuanya dikatakan apa adanya. Dia yerus bercerita tanpa henti. Kepala sekolah mendengarkan, tertawa, mengangguk dan berkata,”Lalu?” Dan Totto-chan terus bercerita berjam-jam hingga kehabisan cerita.

Tepat ketika Totto-chan kehabisan cerita, Kepala sekolah berdiri, meletakkan tangannya yang besar dan hangat di kepala Totto-chan sambil berkata,”Nah, sekarang kau murid sekolah ini”.

*****

Totto-chan merasa dia telah bertemu dengan orang yang benar-benar disukainya. Belum pernah ada orang yang mau mendengarkan dia sampai berjam-jam seperti Kepala Sekolah. Lebih dari itu, Kepala Sekolah sama sekali tidak menguap atau tampak bosan. Dia selalu tampak tertarik pada apa yang diceritakan Totto-chan, sama seperti Totto-chan sendiri.

*****

Empat fragmen diatas adalah cuplikan dari sebuah buku berjudul Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela. Karya penulis jepang Tetsuyo Kuroyanagi yang bercerita tentang masa sekolah dasarnya di Tomoe Gakuen. Diterbitkan pertama kali di Jepang tahun 1981. Dan saat ini menjadi bahan pelajaran wajib bagi pendidikan dasar di Jepang. Tomoe Gakuen adalah sekolah yang didirikan tahun 1937 dan terbakar habis di tahun 1945.

Ini adalah salah satu buku favorit saya. Karena melukiskan bagaimana ibu Totto-chan menyampaikan kabar buruk dengan cara yang lebih berdaya, dan bisa membuat anaknya tidak kehilangan harapan. Buku ini menceritakan tentang seorang Sosaku Kobayashi, Kepala Sekolah yang hebat dalam membangun kedekatan dengan muridnya dan membangun sekolah yang luarbiasa.  Buku ini berkisah tentang  sebuah sekolah bisa menampung berbagai karakter siswanya dan memaksimalkan potensinya.

Di Tomoe Gakuen tidak ada anak yang ingin pulang ke rumah setelah jam pelajaran selesai. Dan di pagi hari, murid-murid tak sabar ingin segera berangkat ke sana.

Jika saat ini ada banyak sekolah seperti itu, kejahatan dan kekerasan  yang begitu sering terjadi di sekitar kita saat ini akan jauh berkurang. Karena murid mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan karakternya.

Sebuah impian yang saya simpan dan ingin saya wujudkan. Mulai dari lingkungan terkecil saat ini yang bisa saya upayakan.  ^^

Regards

@EvaZahraa

4 thoughts on “Totto-Chan

Leave a Reply to dewi erika Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *