Personal Life

Yang Tersisa Di Hari Raya

Lebaran…. Istilah yang sudah tidak asing lagi dalam budaya muslim di Indonesia. Lebih singkat untuk menyebutkan Hari Raya Idul Fitri. Bermacam makna  dari kata Lebaran ini. Mungkin dalam budaya jawa artinya adalah “selesai”. Selesai berpuasa selama bulan ramadhan. Mungkin juga bermakna badan yang makin LEBAR karena menikmati kembali kebebasan untuk menyantap hidangan selama bulan syawal, setelah sebelumnya menyempit selama berpuasa hehehe… Badan jadi LEBARan deh…

Dalam keluarga besar saya di Jogjakarta dan sekitarnya identik dengan berkumpul bersama keluarga dan silaturahim bertemu kerabat yang sudah lama tak bersua. Sudah menjadi tradisi kami, tanggal 1 syawal kami merayakan lebaran di rumah, jam 7 pagi melaksanakan sholat Ied di lapangan, kemudiaan berlanjut dengan bersalam-salaman dengan tetangga lingkup satu RT. Sudah beberapa tahun ini bapak Ketua RT di kampung saya membiasakan warga RT nya berkumpul di halaman rumah beliau yang cukup lapang untuk bersalam-salaman saling berma’af-ma’afan. Setelah itu barulah masing-masing warga RT bebas melanjutkan acara keluarga. Langsung ketemu semua hehe…

Tanggal 2 syawal kami berkumpul untuk halal bi halal bersama keluarga besar kakek saya (sekitar 90 an orang). Ayah saya adalah sulung dari 6 bersaudara. Ajang berkumpul seperti ini adalah waktu yang seru buat saya untuk berkumpul bersama saudara-saudara sepupu saya beserta para keponakan yang tak terasa sudah puluhan jumlahnya. Sambil nostalgia masa kecil saat berkumpul menghabiskan liburan di rumah kakek berjubel mengkudeta kamar Om-om saya untuk bermain bersama. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan sekarang giliran kami yang harus rela kamarnya dikudeta oleh lahan bermain keponakan-keponakan 😀

Dan tanggal 3 syawal kami berkumpul dalam acara halal bi halal keluarga kakek buyut (sekitar 200 an orang). Pertemuan ini lebih heboh lagi, karena lebih banyak orang dan alhamdulillah hubungan kami dengan keluarga besar kakek buyut kami sangatlah akrab. Sudah biasa bila terjadi senda gurau antara cucu dan kakek/nenek  layaknya teman akrab yang sering bercengkerama. Keluarga besar kakek buyut berlatar belakang pengusaha dan pendidik, sehingga kami tidak kehabisan teladan di kedua bidang ini.

Salah satu hal yang juga saya syukuri adalah, di keluarga besar kakek buyut tidak banyak yang senang mencampuri urusan orang lain, termasuk bertanya tentang hal-hal sensitif seperti kapan lulus, sudah bekerja atau belum, kapan menikah, udah hamil apa belum, ataupun saling membanggakan materi. Hanya beberapa orang saja dan itupun sudah dimaklumi bersama. Yang menjadi tema obrolan adalah kabar hari ini, dan berbagi kabar kebaikan dan kebahagiaan.

Silaturahim akan mendatangkan keberkahan saat dilakukan dengan niat dan suasana yang nyaman bagi masing-masing pihak. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk berkumpul dan bertemu dengan keluarga dan kerabat. Semoga masih diberi kesempatan untuk bertemu di lain waktu. Aamiiin.

Regards,

@EvaZahraa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *