Personal Life

Zoom In Zoom Out

Bagus ya gambar diatas… Kolam dengan air yang bening dan bersih, diluar kolam terlihat laut yang biru terbentang. Dinaungi pepohonan di tepian pantai. Sepertinya seru ya bila kita piknik bareng dan bermain air disana. Menurut teman-teman, kolam ini luasnya berapa kira-kira? 100 meter persegi? 200 meter persegi? Hmmm….

Sekarang teman-teman lihat gambar yang ada di bawah ini πŸ˜€

pantai-ilusi-2

Mirip nggak dengan gambar yang pertama? πŸ˜€ Tempat yang sama, obyek yang sama, berbeda sudut pemotretan dan beda rasa juga hehe…

Saat melihat gambar pertama, indah sekali ya imajinasi yang muncul di pikiran kita. Tapi begitu melihat gambar kedua, komentar kita mungkin “Ternyata bukan kolam… tapi gambar ember besar berisi air” πŸ˜€

Kita terbiasa menilai sesuatu berdasarkan informasi yang kita terima dalam jumlah yang terbatas. Jadi wajarlah bila ada perubahan persepsi saat melihat gambar kedua. Bisa sangat jauuuuh perbedaannya.

Bisakah ini dianalogikan dengan peristiwa yang kita alami sehari-hari? Bisa bangeeeeeet….

Pernah kan kita membela teman kita saat berselisih dengan orang lain? Padahal kita tidak mengalami perselisihannya secara langsung. Kita memberikan pendapat berdasarkan apa yang teman kita katakan. Kita belum tahu penjelasan menurut orang lain yang sedang berselisih dengan teman kita tadi.

Atau….. Kadang kita justru lebih mudah berpikir aneh-aneh (a.k.a parno berlebihan) saat orang yang dekat dengan kita bersikap tidak seperti biasanya. Kita menduga-duga alasannya, mencari tahu apa yang salah dengan sikap kita. Lalu mulai menciptakan skenario drama yang kita putar di dalam pikiran kita. Sementara bila yang berlaku seperti itu adalah teman kita yang tidak akrab kita lebih cuek dan mudah memakluminya.

Kedekatan hubungan pribadilah yang mengendalikan penilaian kita saat itu. Menjadi tidak obyektif lagi dalam menilainya.

Beda lagi dengan kasus berita hoax tentang sesuatu atau seseorang yang beredar secara viral di jejaring sosial media dan instant messaging. Cepat sekali menyebar kemana-mana, padahal belum diketahui tingkat keakuratannya.

Kita menilai sesuatu secara sepihak, sesuatu yang jauh dari jangkauan pandangan kita, jauh dari pantauan radar informasi kita. Kita bisa menjadi subyektif dalam menilainya, hanya mengikuti reaksi dan persepsi orang lain.

Lalu mana yang lebih baik? Zoom in atau zoom out?

Yang lebih baik adalah tahu kapan harus mengaktifkan fitur zoom in dan zoom out yang terinstall di dalam diri kita.. #halah Bukan cuma kamera saja yang punya fitur zoom in dan zoom out.

Saat kedekatan hubungan sudah mulai membuat hati dan pikiran kita tidak bisa obyektif. MembuatΒ  kita hidup dalam kecemasan dan cenderung berburuk sangka. Berarti sudah waktunya kita harus zoom out… kembali menjaga jarak yang aman. Setiap manusia butuh waktu pribadi, butuh ruang yang cukup untuk tidak didusel-dusel alias dikepoin dan dicampuri urusannya oleh orang lain.

Begitupun saat penilaian kita pada orang yang jauh dari pantauan dan tidak kita kenal dekat sudah mulai subyektif. Zoom in…. kenali lebih dekat. Cari informasi pembanding dengan cara yang baik, tabayyun kan informasi yang hadir, yang sudah membuat kita menilai dirinya secara tidak seimbang.

Yah begitulah, saya pun masih dalam proses berlatih mengendalikan kadar ke-baper-an dan hasrat kepo yang berlebihan pada urusan orang lain.

Because too much kepo could kill you hihihi….
Kendalikan kepo mu, bahagiakan hidupmu ^^

Regards,

Eva Zahra

4 thoughts on “Zoom In Zoom Out

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *