30 Hari Puasa Sosmed, Apa Manfaatnya?

30 Hari Puasa Sosmed, Apa Manfaatnya?

Suatu pagi, salah seorang sahabat bertanya pada saya. “Sharing link videomu di grup yang itu kok tidak direspon teman-teman ya, padahal bagus isinya.”

Sejenak saya terdiam dan berusaha mengingat-ingat. Sharing yang mana ya? Saya kan belum menjadi vloger atau youtuber.

Oh ternyata maksud dia adalah link video kajian dari seorang ustadz yang saya share di sebuah grup. Alhamdulillah banyak yang membaca chatnya, tapi sepi tidak ada yang menanggapi dalam bentuk komentar.

Lalu saya menjawab,”Nggak apa-apa, kan tujuanku berbagi link kajian. Bukan berharap respon. Tentang video itu ditonton atau tidak oleh teman-teman, itu menunggu hidayah dari Allah.” 😀

Setiap malam saya memang rutin menyimak satu atau dua video kajian dari para ustadz yang diunggah di chanel youtube. Misalnya video rekaman kajian dari Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Oemar Mita, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Salim A. Fillah, Habib Novel Alaydrus, Gus Baha’ dan lain-lain.

Kadang-kadang saya sengaja berbagi link video kajian di grup whatsapp. Video yang menurut saya isinya layak disimak untuk menambah ilmu. Tentu saja saya memilih kajian dari asatidz yang menurut saya bersih dan baik reputasinya.

Pertanyaan dari teman baik saya itu menjadi sebuah umpan pertanyaan yang menarik. Sebagai bahan renungan. Tentang mengamati respon diri saya. Juga tentang mengecek ulang niat saya saat berbagi informasi.

Ditanggapi atau tidak ditanggapi, saya akan tetap berusaha berbagi link berita baik.

Masa kalah semangat dengan para penyebar hoax, gosip dan berita negatif sih?

Berita hoax cenderung mengundang lebih banyak respon dan komentar. Berita negatif, berita viral, gosip, lebih mudah memancing perhatian orang, bandingkan berita yang baik dan positif.

Tantangan 30 Hari Puasa Sosmed

Suatu saat, saya berada di titik jenuh pada aktifitas bersosialmedia. Overload informasi rasanya. Terhitung mulai tanggal 19 Agustus 2019 ini saya offline dari akun sosial media. Aplikasi facebook, twitter, instagram saya uninstall dari handphone saya. Saya tidak log in sama sekali meskipun browser rutin digunakan untuk mengakses internet.

Yang aktif untuk berkomunikasi selain telpon dan sms di handphone saya hanya aplikasi whatsapp.

Selain rasa jenuh mengakses sosial media, ada alasan-alasan lain yang menguatkan keinginan saya untuk puasa sosial media.

Alasan berikutnya adalah saya mengamati, bagaimana waktu berjalan begitu cepatnya bersama sosmed. Baru saja berganti tahun, eh sudah lanjut berganti bulan. Minggu demi minggu. Hari demi hari berlalu.

Dan tiba-tiba sudah pertengahan Agustus 2019. Sudah lewat separuh tahun ini berlalu. Cepat sekali ya…

Kayaknya baru saja awal tahun ini saya melakukan 7 hari detoks sosial media. Kok sudah khilaf dalam mengontrol waktu lagi.

Suatu ketika, di sebuah kanal berita saya membaca tentang bagaimana sosial media diciptakan untuk membuat kecanduan penggunanya. Candu berupa fasilitas like, comment dan share. Candu fasilitas scroll up yang unlimited. Membuat otak manusia terus ingin tahu jaring-jaring berita selanjutnya.

Yang pada awalnya niat saya bersosial media adalah ingin menulis dan menuangkan isi pikiran. Berlanjut dengan rasa deg-degan ingin tahu tanggapan teman-teman pada tulisan saya.

Sebentar-sebentar muncul keinginan untuk mengecek notifikasi pesan sosmed. Bolak-balik, bolak-balik… Pikiran saya menjadi kurang bisa fokus. Selalu ingin kembali menengok isi sosmed.

Hingga di batas kejenuhan, saya memutuskan untuk memperlambat irama lompatan pikiran saya. Dimulai dengan membuat challenge, 30 hari puasa sosmed. Menetralkan diri dari efek kecanduan menyimak sosmed. Jika lebih baik efeknya

Efek 30 Hari Puasa Sosial Media Setelah Dua Minggu

Satu minggu pertama, rasanya seperti orang kehausan. Ada yang kurang lengkap rasanya dalam rutinitas sehari-hari. Jari-jari ini gatal ingin segera log in. Hati gelisah ingin tahu, ada obrolan menarik apa ya di sosmed. Saat dekat dengan handphone maupun laptop. Tahaaan jariii untuk tidak log in.

Ketika rasa rindu untuk log in itu hadir, saya mengalihkan fokus pikiran. Menyibukkan diri dengan aktifitas fisik. Mengerjakan hobby trial resep masakan. Membaca beberapa buku yang belum selesai dibaca sejak saya membelinya. Mengikuti kajian ilmu agama dan belajar Bahasa Arab dengan mengikuti kelas offline. Dan lain sebagianya.

Termasuk mulai mengisi kembali blog ini yang sekian lama terabaikan.
(Sambil bersihin blog dari debu dan sarang laba-laba…)

Seminggu awal puasa sosmed, pikiran saya gelisah,
Ingin update status lah…
Ingin tahu kabar viral terbaru…
Aih, jadi kepo membaca status fb public figure atau status teman-teman…
Duh, gatal jari ini ingin nulis memberi komentar di status orang lain…
Hingga godaan pertanyaan, “Kira-kira ada yang kangen update-an status saya apa nggak ya?” #huek 😀

Lama kelamaan kegelisahan itu menghilang. Berganti dengan rasa seru dengan aktifitas baru. Waktu yang tadinya banyak terbuang sia-sia, mulai lebih banyak manfaatnya. Setiap hari ada pencapaian-pencapaian baru. Target-target kecil terlampaui. Pikiran tidak terdistraksi oleh kesibukan mengecek notifikasi sosmed.

Di minggu kedua puasa sosmed, ada hal menarik yang muncul saat saya mengamati efeknya.

Kok hati saya jadi lebih tenang dan damai ya? Waaah apa kira-kira sebabnya?

Rupanya tanpa saya sadari, sosial media sudah memancing pikiran saya untuk ingin tahu isi kehidupan orang lain.

Saat ada berita viral yang melibatkan beberapa tokoh, tanpa sadar saya ingin tahu profil tokoh tersebut. Kemudian merembet mencari informasi lainnya yang berkaitan. Pantas saja waktu saya banyak terbuang. Jebakan jaring-jaring rasa ingin tahu menyebar kemana-mana.

Belum lagi jika berkaitan dengan sifat bawaan wanita. Diakui atau tidak, wanita dibekali dorongan tanpa sadar untuk bersaing dengan sesama wanita. Dalam bidang apapun, sengaja atau tanpa sengaja. Beralihlah sosmed menjadi tools untuk membandingkan kehidupan sesama wanita hihihi….

Di minggu kedua itu, puasa sosmed memberi efek positif pada ketenangan hati saya. Lebih mindful dengan kegiatan sehari-hari. Tidak terdistraksi dengan stalking atau semacamnya. Bodo amat deh dengan isi sosmed orang lain.

Tenyata…tanpa sosmed-an, hidup saya tetap baik-baik saja. Tidak ada yang berkurang manfaatnya di dunia nyata. Jika ada perlu dengan orang lain, bisa langsung telpon atau chat pribadi. Kemudian membuat janji bertemu langsung jika memungkinkan.

Sudah 18 hari puasa sosmed. Ada cerita apa ya nanti di akhir minggu ketiga dan minggu keempat? Tunggu saja cerita saya selanjutnya…

Bersambung di episode berikutnya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *