7 Hari Detox Sosial Media, Resolusi Awal Tahun 2019

7 Hari Detox Sosial Media, Resolusi Awal Tahun 2019

Mengawali tahun 2019, socmed detox atau detox sosial media menjadi resolusi awal tahun saya . Detox sosmed, artinya sesekali saya vakum dan mengambil jeda waktu dari kebiasaan mengakses dunia sosial media (sosmed).

Mengapa sih kok saya melakukan detox sosmed?

Pertimbangan utama adalah, saya merasakan betapa sosial media sudah mendominasi pikiran dan aktifitas hidup saya. Padahal aktifitas bersosial media saya ini tidak berkaitan dengan bisnis online shop. Lebih banyak untuk bersosialisasi dan menambah relasi.

 

7 hari detox sosmed resolusi awal tahun 2019
credit picture : leisuregrouptravel.com

 

Sebagai gambaran, mulai dari bangun tidur yang saya kepoin adalah timeline sosmed. Di sela-sela aktifitas sehari-hari, masih menyempatkan diri untuk fb an. Sebelum tidur malam, masih menyempatkan diri untuk mengakses sosmed. Sehari saja tidak mengakses sosmed, rasanya ada yang kurang.

Indikasi yang paling mudah diukur adalah waktu yang saya habiskan untuk mengakses sosmed, dalam satu jam.Beberapa kali saya membuka gadget untuk melihat timeline sosmed paling tidak 5-10 menit. Kira-kira dalam satu hari berapa jam ya yang saya di dunia sosial media? Minimal bisa 2-4 jam. Itu minimal lho… kenyataannya bisa lebih dari itu. Mulai dari menulis status di sosmed, berbalas komen dan scroll up linimasa.

Seandainya waktu selama itu saya gunakan untuk melakukan kegiatan lain, kira-kira seberapa banyak ya peningkatan produktifitas saya?

 

Apa Manfaat Detox Sosmed Untuk Hidup Kita?

Dari sekian banyak literatur yang saya baca, ada banyak manfaat detox sosmed. Beberapa diantaranya sesuai dengan kebutuhan saya. Misalnya yang ada di bawah ini nih…

facebook detox sosmed

  • Mengurangi distraksi/gangguan fokus pikiran.
    Distraksi ini diakibatkan karena terlalu banyak informasi yang menyerbu pikiran yang bersumber dari timeline sosial media. Tanpa sadar kondisi overload informasi ini akan membebani dan mengganggu pikiran kita. Mengalihkan fokus pikiran kita dari yang seharusnya lebih penting untuk dilakukan. Bagaikan kamar yang isinya penuh dengan barang-barang, yang sebagian besar tidak kita perlukan. Sumpek… perlu ditata ulang.
  • Menurunkan kadar stres pikiran.
    Terlalu sering mengakses sosial media, terbukti meningkatkan kadar stres manusia. Sebagian besar informasi yang ditampilkan di linimasa sosial media orang lain bisa memicu keinginan untuk membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain. Bisa jadi memicu rasa baper dan rasa kurang bersyukur. Padahal hidup ini bukanlah sebuah perlombaan. Setiap orang memiliki lintasan masing-masing sesuai dengan panggilan jiwanya.
  • Latihan mengontrol rasa cemas akan ketinggalan informasi.
    Tidak terhubung dengan dunia sosial media bukan sesuatu yang menakutkan. Biasa saja. Kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Lewat jalur apapun, berita yang penting untuk hidup kita tetap akan sampai walaupun kita tidak terhubung dengan dunia maya.
  • Sarana belajar mendengarkan kata hati dan inner guidance dari hati dan perasaan kita.
    Bisa jadi selama ini kita tidak bisa mendengarkan apa kata hati kita karena tertimbun dengan serbuan informasi di sosial media. Detox sosmed bisa menjadi jalan untuk mengembalikan kepekaan kita dan memperbaiki pola komunikasi dengan jiwa kita sendiri.
  • Mengendalikan diri untuk kepo (ingin tahu) privacy orang lain atau terlalu banyak berbagi informasi privacy kita.
    Diakui atau tidak, sosial media diciptakan untuk sarana eksistensi diri. Adanya fitur respon, like, komen dan share membuat kita makin senang berbagi cerita, foto, berita dan lainnya. Sifat manusia yang cenderung ingin tahu, membuat kita ingin memantau apa yang sedang orang lain lakukan/alami.
  • Berlatih mengelola waktu dan menikmati momen saat ini (mindful).
    Membiasakan diri untuk melakukan sesuatu yang perlu disegerakan (urgent) dan penting (important) sesuai prioritas. Jika kita gagal mengendalikan waktu untuk bersosial media, bisa jadi akan banyak hal urgent dan penting yang akan menjadi korban.

Dari beberapa poin diatas, saya tarik kembali ke kehidupan saya saat ini. Apa saja sih yang tertunda penyelesaiannya karena distraksi sosial media?

Ada sekian banyak cerita perjalanan traveling saya di tahun 2018. Duh, banyak juga yang belum selesai dituliskan dan ditayangkan di blog ini. Masih dalam bentuk draft.

Saya amati dan perhatikan baik-baik, distraksi utama saya itu apa kira-kira. Nah… ketemu deh. Pemecah fokus utamanya adalah terlalu sering dan tak terasa waktu yang terpakai untuk scroll up linimasa sosmed. Heuheu… #miris. Mungkin karena seringkali ide berbagi cerita itu muncul saat saya mengakses sosmed, terutama facebook. Sehingga jempol ini otomatis menuliskan cerita itu di halaman facebook saya. Interaksi di sosmed yang spontan adalah salah satu faktor utama yang membuat sosmed menjadi sebuah candu.

Oiya, belum add fb saya? Ouch…sungguh terlalu 😀

7 Hari Detox Sosmed, Ngapain Saja?

Dengan sepenuh kesadaran, saya memilih untuk melakukan detox sosmed mulai tanggal 1 Januari 2019 dan dievaluasi secara periodik. Hari ini tepat seminggu saya offline dari jagad persosmed an. Hanya telpon, sms dan whatsapp yang aktif untuk sarana komunikas di gadget saya.

Selama 7 hari detox sosmed, saya melakukan apa saja?

Karena saya sehari-hari berkegiatan rutin untuk mengajar murid-murid bimbingan belajar mulai sore hingga malam, maka di awal hari hingga jam 3 sore, saya melakukan aktifitas ini nih:

Hari pertama hingga ketiga (1-3 Januari 2019)
Saya melanjutkan proyek make over kamar tidur saya. Sekitar 2 minggu sebelumnya, saya menyewa jasa tukang untuk memasang keramik di dinding kamar saya yang lembab. Antrian job pak tukang ini begitu padat, sementara partner pak tukang ini sedang ada keperluan keluarga. Dari waktu 3 hari yang disepakati, hanya bisa menyelesaikan pemasangan keramik. Tidak sampai finishing hingga mengecat kamar.

Daripada proses pengecatan kamar tertunda entah sampai kapan. Masih kondisi libur akhir tahun juga. Ya sudah sekalian saja saya bersenang-senang mencoba mengecat sendiri dinding kamar saya.

Seru juga ternyata. Ini jangan dianggap pekerjaan maskulin, karena saya menganggap dinding itu adalah kanvas besar yang bebas dicorat-coret hehehe….

decluttering adalah detox
sumber gambar : simpledays.co.uk

Make over kamar tidur saya dimulai dengan :
Decluttering (mengurangi isi dan menata ulang) isi kamar. Ini kegiatan rutin berkaitan dengan prinsip minimalism.
– Membongkar dan mengeluarkan sebagian perabot kamar yang menutupi dinding (ini dibantu saudara saya).
– Mengecat dinding kamar tidur hingga selesai.
– Menata ulang posisi furniture (tempat tidur, meja tulis, lemari baju dan rak buku).
– Menambahkan hiasan-hiasan personal dan menarik sesuai fungsinya.
– Menempelkan lukisan sketsa bunga di dinding,
– Menata ulang rak buku, isi lemari dan memasang karpet kamar.

Meskipun lelah, tapi saya puas dengan hasilnya, menjadi begitu personal suasananya. Yang lebih penting adalah, saya bisa fokus dan have fun dalam mengerjakan proyek ini. Tanpa terdistraksi keriuhan sosial media.

Bedroom make over project, done!!! 😀 #Happy

Hari keempat (4 Januari 2019)
Hari keempat detox sosmed saya gunakan untuk mengikuti program online riyadhoh selama 40 hari berikutnya. Tiga hari sebelumnya sudah ada beberapa aktifitas untuk persiapan diri sebelum menjalaninya. Tujuannya agar saya siap lahir batin dan ikhlas menjalankan program riyadhoh tersebut.

riyadhoh adalah obat kerasnya hati

Riyadhoh adalah kegiatan untuk membersihkan hati dengan melatih diri konsisten menjalankan ibadah wajib dan sunnah. Kami bersama-sama mulai membenahi hidup dengan memperbaiki aqidah dan akhlak. Ada sekitar 200 orang sahabat riyadhoh yang tergabung dalam whatsapp grup Riyadhoh Menata Hidup 2019 yang dipandu oleh mbak @VivitYun.

Daftar aktifitas riyadhoh dimulai sejak dini hari. Latihan konsisten menjalankan sholat tahajud, do’a dan dzikir malam, sahur untuk menjalankan puasa daud (puasa selang seling hari, sehari puasa, sehari tidak). Dilanjutkan dengan berusaha tepat waktu dalam menjalankan sholat wajib dan rawatib. Ditambah dengan membiasakan diri rutin sholat dhuha, tilawah, dzikir, sedekah harian hingga menjaga lintasan pikiran, perasaan dan menjaga ucapan.

Di luar aktifitas ibadah wajib dan sunnah, kami diwajibkan untuk olahraga rutin, berlatih hening, menulis jurnal syukur, berbagi kebaikan harian dan dilarang mengeluh selama menjalaninya.

Meskipun terlihat padat merayap daftar latihannya, tapi dengan tekad yang kuat, saya yakin bisa melakukannya bersama sahabat riyadhoh. Rangkaian aktifitas hari pertama riyadhoh, alhamdulillah lancar, kegiatan rutin mengajar bimbingan belajar juga lancar dilakukan seperti biasa.

Hari kelima hingga ketujuh (5 – 7 Januari 2019)
Hari Sabtu itu saya gunakan untuk menyelesaikan beberapa amanah yang belum selesai. Saya pergi bertemu dengan beberapa teman saya, untuk menyampaikan beberapa bingkisan. Bertukar cerita sambil makan siang bersama di sebuah resto kuliner. Minggu dan hari-hari berikutnya berlanjut dengan melakukan aktifitas rutin harian dan menjalankan kegiatan riyadhoh.

Ternyata, setelah beberapa hari offline sosmed dan fokus ke aktifitas di dunia nyata, keinginan untuk membuka timeline sosial media sudah terkendali. Waktu menjadi terasa lebih efektif dan fokus pikiran kembali lebih banyak ke dunia nyata.

social media decluttering detox

Ngomong-ngomong, mau sampai kapan detox sosmednya?

Relax… setelah 7 hari, rencananya akan dilanjutkan hingga 40an hari dengan beberapa kali jeda untuk memposting isi blog ini 😀 Nah kan, efek positif lainnya adalah saya kembali rajin menulis di blog lagi. Asiiiik….

Beberapa hal diatas baru sebagian kecil dari manfaat melakukan detox sosmed. Beda orang, beda pengalaman. Tergantung pada aktifitas utama masing-masing orang yang melakukan program ini.

By the way, baru tujuh hari saya melakukan detox sosmed. Sudah banyak hal yang berhasil saya lakukan dengan sepenuh fokus pikiran. Kira-kira seperti apa ya cerita-cerita selanjutnya yang akan saya bagikan di blog ini? 😀

 

Regards,

Eva Zahra

 

2 Replies to “7 Hari Detox Sosial Media, Resolusi Awal Tahun 2019”

  1. Congratz ya mbak sudah bisa back on track setelah detox social media. Saya sendiri ngurangin aktivitas medsos dengan cara uninstal aplikasi medsos. Jadi praktis hanya bisa melalui Chrome saja aksesnya.

    Good news-nya, nggak ada lagi notifikasi yang bikin cepet buru-buru buka. Tapi bad news-nya, jadi kepo juga sih, ada notifikasi berapa hari ini. Terutama karena media sosial yang saya gunakan lebih untuk promosiin update blog terbaru.

    Nambah teman pun, sebatas karena (1) kenal beneran, dan (2) sama-sama blogger/writer

    Semangat selalu mbak.

    Cheers,
    Prima

    1. Iyap, konsistensi itu yang perlu dijaga. Yang namanya netijen, pas kita detoks sosmed beberapa hari pasti ada yang kepo. Syukurlah kalau pertanyaannya “Mau umroh ya mbak?”, kan aku tinggal bilang Aamiiin… 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *