Berburu Medali Finisher Jogja International Heritage Walk 2018

Berburu Medali Finisher Jogja International Heritage Walk 2018

“Jadi ikut JIHW (Jogja International Heritage Walk) kan? Sudah aku daftarin untuk tanggal 18 November ini. Ambil rute 10 Km ya. Biar dapat medali saat mencapai finish”, kata mbak Eka, teman baik saya seminggu sebelum event JIHW 2018 dilaksanakan.

“What? 10 Km? Kuat apa tidak ini kaki?”, seketika terbersit rasa kurang yakin di hati saya. Sepertinya saya tahu siapa ini yang usul 10 Km. Pasti Mas Purnomo Sony trainer paper asset yang hobby jalan-jalan.

Lha saya ini termasuk kurang rutin berolahraga, tiba-tiba didaftarkan untuk mengikuti Jogja International Heritage Walk (JIHW) 2018. Sebuah event jalan kaki level internasional. Sudah begitu, ambil jarak 10 Km pula. Menurut kabar panitia, peserta event bukan hanya dari Indonesia. Ada ribuan peserta yang akan mengikutinya, dan ada sekitar 350 peserta dari 20 negara selain Indonesia.

Jogja International Heritage Walk 2018
Tema JIHW2018 adalah Save The Nature, Respect The Culture, Jogja to The World

Saya mendaftar menjadi peserta event ini bersama teman-teman yang sering traveling bareng, kuliner dan ikut event workshop pengembangan diri. Mereka membawa serta keluarganya ikut JIHW 2018. Sehingga rentang usianya mulai dari usia 10 tahun hingga beberapa dekade.

Gengsi donk kalau menolak, masa kalah dengan anak kecil.

Sip… tantangan diterima. Bagaimana nanti, jalani dulu…

10th Jogja International Heritage Walk 2018

Jogja International Heritage Walk adalah event sudah diselenggarakan selama 10 kali. Awalnya saya pikir ini adalah event jalan-jalan blusukan biasa ke desa-desa wisata. Ternyata JIHW jauh lebih besar dari imajinasi saya. 

Sejak tahun 2013, JIHW resmi menjadi bagian dari International Volkssport Verband (IVV) bersama 29 negara lainnya. IVV / International Federation of Popular Sport adalah organisasi nonprofit yang menjadi wadah cabang olahraga populer seperti Triathlon. 

Dengan menjadi bagian dari IVV, maka para pejalan kaki dari negara-negara Eropa, Jepang, dan Pan Pasifik akan lebih mudah datang ke Indonesia, untuk ikut JIHW di Yogyakarta. 

Lokasi penyelenggaraan tidak selalu sama. Tahun lalu di Prambanan dan Imogiri. Sedangkan untuk tahun ini akan mengambil lokasi di sekitar kompleks Candi Prambanan dan di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penyelenggaraan tanggal 17 – 18 November 2018. 

Ada banyak pilihan kegiatan yang bisa diikuti selama 2 hari itu, mulai dari walking, cycling, swimming, senam dan pilihan lomba lainnya.

Menurut Marketing Communication JIHW 2018, Mbak Dede Budiarti, sesuai aturan internasional, event walking ini tidak menyediakan hadiah, karena kesehatan itu sendiri adalah hadiahnya. Hanya orang-orang yang tangguh dan ingin sehat yang akan mengikutinya. 

Yap, memang lebih menyenangkan jika kita jalan-jalan dalam kondisi sehat. Bukan dalam kondisi sakit dan membutuhkan terapi jalan. 

Hari pertama walking start diadakan di kompleks Candi Prambanan, melewati beberapa desa dan finish kembali ke titik semula. Jarak rute yang bisa dipilih ada 3, yaitu 5 Km, 10 Km dan 20 Km. Ada medali yang akan diberikan bagi peserta yang berhasil finish di rute 10 Km dan 20 Km.  

Untuk hari kedua, 18 November 2018, walking start diadakan di Desa Turi, Sleman, Yogyakarta. Start dari Joglo Pusung, di Desa Pancoh. Kemudian  melewati Desa Kelor, Desa Nganggring, Desa Tunggul Arum, Desa Pule Sari dan Desa Garongan. Desa yang dilewati tergantung pada jauhnya rute yang menjadi pilihan peserta, 5 Km, 10 Km atau 20 Km. 

Katanya sih, kami akan menyusuri beberapa desa wisata, menikmati kehidupan asli pedesaan dengan hamparan kebun salak, peternakan kambing dengan udara yang sejuk. Di sepanjang perjalanan akan ada penduduk desa yang berjualan makanan dan minuman tradisional. 

Kayaknya seru banget ya…
(Ini sebelum kami sadar bila desa wisata di daerah Turi itu kontur tanahnya banyak tanjakannya, khas daerah di lereng gunung). 

Perjalanan Menuju Jogja International Heritage Walk 2018

Tanggal 17 November sore, saya sudah tiba di Jogja dan menginap di Organic Omah Bening, kediaman teman baik saya, Mbak Eka beserta keluarganya.

Karena start event adalah jam 06.00 WIB, maka rencananya kami berangkat jam 05.00 pagi. Semua sudah saling mengingatkan untuk bangun pagi agar tidak terlambat.  

Masih pagi, tapi semangat sudah berapi-api, pemanasan untuk jalan 10 Km hari ini.

Kenyataannya…. Dengan kerempongan persiapan pagi yang melibatkan anak-anak dan orang banyak, kami berangkat jam 06.00 pagi huehehe… Padahal butuh waktu minimal 30 menit ngebut untuk sampai ke lokasi event. Itu juga kalau tidak mampir atau kehilangan arah.

Sudah bisa dipastikan kami tidak bisa ikut serta dalam kehebohan start bersama ribuan peserta lainnya. Tapi karena niat kami adalah bersenang-senang sambil berolahraga, yasudah dinikmati saja perjalanannya. 

Jam 07.00 WIB kami baru tiba di lokasi event. Banyak juga peserta yang baru sampai, sepertinya kami senasib. Sekalian saja kami sempatin foto-foto sebelumnya. 

Biar telat, tetep foto-foto dulu dengan sebagian teman segrup… Mumpung masih seger.
Lokasi Start event JIHW 2018 hari kedua

Sebelum memulai perjalanan, kami harus menuju tenda pendaftaran untuk daftar ulang, mengambil peta dan meminta cap verifikasi pada Name Tag. 

Dalam peta tersebut, kira-kira jarak 2-5 Km akan ada tenda check point untuk mendapatkan cap. Begitu pula disediakan rest area dimana peserta bisa beristirahat, menikmati pertunjukan kesenian tradisional, pergi ke toilet dan makan sajian khas daerah yang disediakan oleh panitia. 

Antri cap dan peta sebelum berangkat
Peta rute perjalanan JIHW 2018 hari pertama di kompleks Candi Prambanan, tapi kami tidak mengikutinya.
Rute hari kedua JIHW 2018 di Kecamatan Turi, Sleman, Yogyakarta yang kami ikuti hari itu. Lebih banyak jalan menanjaknya hihihi…

Ternyata panitia berbaik hati pada para peserta. Jadi meskipun tidak ikut keriuhan start masal sebelumnya. Tiap rombongan tetap diantar dengan kibaran bendera start. Berasa ikut lomba beneran.

Sip, dimulailah perjalanan kami…

Awalnya jalan masih mendatar, udara sejuk terasa segar manyapu kulit kami. Jalan pedesaan dengan hamparan perkebunan salak dan suara gemericik air dari saluran irigasi. Di kejauhan terdengar suara kambing mengembik, burung berkicau dan sapi yang melenguh. 

Jalan mulai menanjak, teman-teman saya tetap terlihat riang gembira menuju check point pertama.
Di sepanjang perjalanan terdapat petunjuk arah untuk masing-masing rute. Ada rute yang sama, ada juga yang berpisah jalan antara 5 Km, 10 Km dan 20 Km.
Saluran irigasi di sela-sela kebun salak dan perumahan penduduk Desa Pancoh.

Di sepanjang perjalanan, penduduk desa tetap beraktifitas seperti biasa. Ibu-ibu yang menggendong bayinya, bapak-bapak tani membawa rumput untuk pakan ternaknya. Simbah-simbah lanjut usia duduk di depan rumah sambil melambaikan tangannya kepada para peserta JIHW. 

Di sela-sela peserta lokal, saya melihat ada beberapa warga negara asing yang ikut serta dalam perjalanan ini. Dari Belanda, Rusia, Jepang, dan negara jauh lainnya. Semua berjalan dengan riang gembira, saling menyapa walaupun menggunakan bahasa senyum dan bahasa Inggris seadanya. 

Ketika Hampir Menyerah di Tanjakan 

Keramahan jalan mendatar hanya ada di 500 meter pertama. Setelah itu dimulailah “siksaan” tanjakan panjang di rute hari kedua JIHW 2018. 

Jalan menanjak ini terus terjadi hingga sekitar 2,5 kilometer berikutnya. Nafas mulai terasa ngos-ngosan. Wajah-wajah terlihat semakin sehat kemerahan 😀 Detak jantung bertambah cepat dan paru-paru kembang kempis berusaha mengisi udara semaksimal mungkin.  

Hingga tibalah di rest area pertama, kami menuju tenda check point pertama untuk meminta cap dan mengambil minum serta jagung rebus untuk mengisi perut. 

Karena kami termasuk terlambat startnya, pertunjukan kesenian tradisional sudah selesai. Para penari dan pemain gamelan terlihat beristirahat. Di salah satu sudut tampak penduduk desa menggoreng tempe mendoan. 

Beberapa turis tampak berfoto dengan latar belakang topeng dan kostum kesenian tradisional tersebut.

Adek laper Bang, makan jagung dulu biar kuat lewatin tanjakan…
check point  jihw 2018
Antri minta cap dan mengisi amunisi perut dulu..
Biarpun pertunjukan sudah selesai, tapi tetap perlu didokumentasikan.
Kalau dibuat sinetron, pose Mas Sony ini diberi judul “Akibat salah memilih rute JIHW 2018”
Tenaang saudara-saudara, ini hanya rekayasa. Biar terlihat drama banget perjalanannya 😀

Setelah beristirahat sebentar di rest area 1 dan cap kartu peserta sudah didapatkan. Saya, mbak Wulan, Mas Pur dan Mbak Dina beranjak mendahului rombongan. Karena teman-teman kami yang lain mengajak anak-anaknya yang masih kecil, dan mereka ingin mengisi perut dulu dengan makan mie instan. 

Tanjakan panjang terus berlanjut. Dalam peta yang kami bawa, rest area berikutnya masih 2,1 Km lagi. Semangat..semangat…

Teman seperjalanan saya, Mbak Wulan adalah orang yang sudah terbiasa berolahraga. Sehingga dia tampak tetap segar dalam perjalanan. Dan terus memberi semangat saat saya sudah seperti kehabisan napas hihihi…. 

Syukurlah sekitar 1 Km kemudian jalan mulai terlihat menurun. Semangat naik lagi, angin terasa lebih segar hingga tiba di rest area 2. Disini kami disuguhi minuman dan potongan buah Mangga yang ranum dan segar. 

Jalanan menurun, lumayan bisa menghemat nafas dan energi. Cuaca juga sedikit mendung.

Dari rest area 2 menuju rest area berikutnya masih sekitar 4,4 Km lagi. Lanjut lagi perjalanannya… Kondisi jalan masih ada sedikit tanjakan dan dominan turunan. 

Kami pikir kondisi jalan menurun akan terus berlanjut hingga finish. Ternyata kami salah saudara-saudara 😀
*Melirik sebal pada Jelangkung yang seakan mengejek kami di tepi jalan*

Mendekati pos Check Point berikutnya, jalanan kembali menanjak. Badan yang mulai lowbat kembali dipaksa untuk berdamai dengan tanjakan dan sinar matahari yang mulai panas menyengat. 

Check Point 3, menjadi pos terakhir sebelum finish.

Finnaly Berhasil Menyelesaikan 10 Km Rute JIHW 2018 

Setelah melewati Check Point 3 yang menjadi pos terakhir dari rute 10 Km ini, kondisi jalan sudah dominan menanjak. Melewati perumahan penduduk, menerabas perkebunan salak, melalui tepian saluran air. 

Masih 1,2 Km lagi. Suara dan nafas semakin dihemat, perjalanan berlangsung dengan hening. Sinar matahari semakin terik, kaus basah dengan keringat yang bercucuran. 

Perjalanan melewati kebun salak, sesekali berpapasan dengan bule-bule berbadan besar yang mengambil rute 20 Km dan finishnya bareng kami yang 10 Km. Huwow….
Hufff… 600 meter lagi finish…

Mendekati akhir rute perjalanan, dari kejauhan terdengar suara sorak sorai, “Sudah dekat…SEMANGAT…SEMANGAT…sudah dekat…SEMANGAT..,SEMANGAT”.

Sepertinya panitia lomba menyediakan tim pemandu sorak untuk memberi semangat pada para pejalan Jogja International Heritage Walk 2018.

Tiba di tikungan terakhir, tampak gerbang bertuliskan FINISH. Di depannya tampak beberapa panitia, beberapa mengibarkan bendera finish dan sponsor, sebagian lagi membuat keributan dengan teriakan semangat sambil memainkan bunyi-bunyian yang berisik. Kok saya jadi terharu ya… hiks…

Finnaly… F.I.N.I.S.H…

Saya berhasil mengalahkan tantangan hari ini.

Finnaly… FINISH.
Proud of myself huehehe…

Bagi orang lain bisa jadi 10 Km itu sesuatu yang biasa saja. Tapi bagi saya, ini adalah 10 Km penuh kebanggaan yang pernah saya tempuh. 

Kami segera menuju tenda finish, meminta cap dan menukarkannya dengan MEDAL FINISHER. Berburu medali finisher Jogja International Heritage Walk 2018, sukses. Bahagia rasanya.

Lebih bahagia lagi saat mengetahui jika seluruh anggota grup kami termasuk anak-anak yang ikut (Bening, Zaki dan Aray) berhasil menyelesaikan rute 10 Km juga. 

Bukan lamanya perjalanan yang membuat bangga, tapi seberapa tekun dan konsisten kami menjalaninya hingga selesai. 

Tahun depan ikut lagi yuk… See you 11th Jogja International Heritage Walk, Tanggal 17-18 November 2019.

27 Replies to “Berburu Medali Finisher Jogja International Heritage Walk 2018”

  1. Ikut puas liat Eva dan team bisa mencapai garis finish. Keren, Va! Bakalan nyimpen medali banyak kl sering ikutan acara begini ya.

    1. Anak-anak yang hebat, meskipun kelihatan capek, tapi terus berjalan. Habis itu baru minta upeti kuliner enak buat isi baterai perut 😀

  2. Waduh klo sy nyerah duluan deh ikutan acara begini hehhehe faktor U juga kali ya hahah. Semangat mba jadi pemicu makin rajin olahraga

    1. Lihat opa oma dari jepang yang berusia 70 tahun keatas ikut jalan 10 km bahkan 20 km ni bikin semangat buat olahraga terus mbak…

Leave a Reply to Ima satrianto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *