Elephant In The Dark, Perbedaan Persepsi Manusia

Elephant In The Dark, Perbedaan Persepsi Manusia

Cover buku itu menarik perhatian saya. Berwarna biru dan hijau, berilustrasikan seekor gajah besar. Gajah itu dinaiki oleh anak-anak kecil yang terlihat ceria dan bahagia.

Elephant In The Dark Perbedaan Persepsi Manusia

Awalnya saya berpikir bahwa buku itu adalah cerita anak-anak biasa. Ilustrasinya cakep. Tapi saat saya memperhatikan tulisan di bawah judulnya, saya yakin ini bukan buku biasa.

Tertulis di sana based on a poem by Rumi. Diceritakan ulang oleh Mina Javaherbin dan digambarkan oleh Eugene Yelchin.

Sebentar… sebuah cerita anak, yang berdasarkan sebuah puisi dari Jalaluddin Rumi?

Biasanya karya Rumi berkaitan dengan renungan kehidupan yang mendalam. Tumben dikemas menjadi sebuah cerita anak.

Saya penasaran donk dengan isinya. Browsing lagi ah…

Buku itu bercerita tentang seorang saudagar bernama Ahmad. Suatu hari, sepulangnya dari India, dia membawa pulang seekor gajah yang sangat besar. Karena sudah larut malam, gajah itu dimasukkan ke dalam sebuah lumbung di samping rumahnya.

Saudagar Ahmad membawa pulang seekor gajah.

Lumbung adalah ruangan besar yang biasanya menjadi tempat menyimpan hasil panen. Ruangan besar itu tanpa pelita. Sangat gelap. Saudagar Ahmad kemudian masuk ke rumahnya dan beristirahat.

Kabar tentang adanya sesosok makhluk besar yang dibawa oleh Saudagar Ahmad menyebar ke seluruh penjuru desa. Penduduk desa itu belum pernah melihat wujud seekor gajah.

Mereka ribut kasak-kusuk ingin tahu seperti apa sebenarnya makhluk besar itu. Malam itu juga mereka berkumpul di rumah Saudagar Ahmad, berusaha mengintip untuk melihat wujud makhluk besar itu.

Suara berisik yang ditimbulkan oleh suara seluruh penduduk desa itu membuat Saudagar Ahmad terbangun. Tapi karena rasa kantuk dan lelah yang amat sangat, Saudagar Ahmad meminta penduduk desa untuk bubar. Lumbung itu sangat gelap, tidak ada penerangan.

“Sabar, besok saja kalian melihatnya. Sebaiknya kalian pulang sekarang”, kata Saudagar Ahmad pada penduduk desa. Lalu dia melanjutkan istirahatnya.

Rasa ingin tahu menggerakkah manusia melampaui batasan yang ada

Namanya juga orang kepo, ditambah dengan bumbu berita dan gosip yang macam-macam. Penduduk desa itu tidak mau pulang. Malah berusaha dengan segala cara untuk menyelinap ke dalam lumbung. Rasa ingin tahu mereka membuat satu persatu masuk ke lumbung demi melihat makhluk besar itu.

Seorang penduduk desa menyelinap ke dalam lumbung. Ruangan itu terlalu gelap. Orang itu tidak sempat menghindar saat sebuah ember yang berisi air menghalangi langkahnya. Diapun terjerembab dan jatuh menimpa hidung gajah yang panjang dan licin. Orang itu terkejut lalu berlari keluar lumbung. Sambil terengah-engah dia berkata, “Makhluk itu panjang seperti seekor ular”.

Karena tidak percaya, seorang penduduk desa berikutnya menyelinap ke dalam lumbung yang gelap itu. Dia menabrak kaki si gajah yang besar itu. Dia melingkarkan tangannya ke kaki gajah. Kemudian dia keluar dan berkata, “Makhluk itu tidak seperti ular. Tapi seperti batang pohon yang besar”.

Lho, kok beda keterangan kedua orang penduduk desa itu? Makin penasaran lah penduduk lainnya.

Orang ketiga mencoba masuk ke dalam lumbung gelap tersebut. Kebetulan si gajah sedang mengibaskan telinganya yang lebar. Karena tidak bisa melihat di dalam kegelapan, orang itu terkena kibasan telinga gajah. Orang itu berlari keluar sambil berteriak, “Makhluk itu tidak seperti ular atau batang pohon. Itu seperti kipas yang tipis, lebar dan sangat besar”.

Waduh sudah tiga orang masuk, informasinya beda semua.

Ketiga orang itu sibuk mencari pembenaran dan menyalahkan orang lain. Mereka bertengkar mempertahankan pendapatnya. Merasa paling benar.

Melihat ketiga orang itu berselisih, membuat penduduk lainnya berusaha mencari tahu sendiri-sendiri. Satu persatu mereka masuk ke dalam lumbung yang gelap itu.

“Makhluk itu seperti wadah air yang sangat besar”.
“Dia bentuknya kecil dan langsing, berbulu seperti kuas cat”.
“Makhluk itu lancip, keras dan tajam seperti alat pembajak sawah”.

Dan seterusnya, satu persatu penduduk desa itu masuk ke dalam lumbung yang gelap. Setiap orang mempunyai pendapat sendiri dalam menggambarkan bentuk gajah tersebut.

Perselisihan semakin meluas. Masing-masing merasa bahwa pendapatnya yang paling benar. Pendapat orang lain salah. Mereka sibuk bertengkar sepanjang malam hingga pagi menjelang.

Pagi harinya, Saudagar Ahmad mengeluarkan gajah tersebut dari lumbung. Lalu membawanya ke pantai untuk dimandikan.

Elephant In The Dark Persepsi Manusia
Kebenaran yang tampak nyata menjadi tidak terlihat karena sibuk berselisih.

Penduduk desa itu masih sibuk berselisih. Saling tuding menyalahkan pihak lain. Tidak ada yang mau mendengarkan pendapat orang lain. Dan tidak ada satupun penduduk yang menyadari bahwa Saudagar Ahmad melintas membawa gajah yang wujudnya mereka perdebatkan.

Dalam perjalanan menuju pantai, Saudagar Ahmad dan gajahnya bertemu anak-anak kecil yang masih polos tanpa prasangka.

Melihat ada binatang besar yang jinak dan bersahabat, anak-anak kecil itu sangat senang dan gembira. Sebagian menaiki gajah, sebagian lagi membuntuti gajah dan Saudagar Ahmad hingga ke pantai.

Di pantai itu gajah tersebut duduk berendam dan bermain air. Saudagar Ahmad dan anak-anak kecil itu duduk mengamati, mengagumi dan menikmati pemandangan menarik itu.

Elephant In The Dark Perbedaan Persepsi
Orang yang bersih dari prasangka adalah orang yang bisa melihat satu hal secara utuh

Kisah di atas jika direnungkan sangat luas maknanya.

Gajah melambangkan suatu hal yang asing/baru/belum jelas wujudnya. Saudagar Ahmad bisa diibaratkan orang yang mengetahui kebenaran atas hal tersebut. Lumbung yang gelap menggambarkan keterbatasan persepsi manusia karena kurangnya informasi.

Penduduk desa mewakili manusia yang kurang sabar dan ingin tahu urusan orang lain. Sehingga sebagian dari mereka melanggar batas privacy orang lain demi memberi makan rasa ingin tahunya.

Pertengkaran penduduk desa mencerminkan egoisme sebagian manusia. Yang lebih suka berbicara dan memaksakan pendapatnya. Manusia-manusia yang tidak mau menerima pendapat orang lain. Manusia yang fokus pada masalah, bukan pada solusi. Mereka tidak berusaha mencari obor untuk menerangi lumbung. Tidak berusaha mencari kejelasan informasi yang sebenarnya.

Sementara anak-anak kecil yang bermain bersama gajah, mewakili jiwa-jiwa yang jernih tanpa prasangka. Melihat segala sesuatu secara utuh. Anak-anak kecil yang bahagia menikmati hidupnya.

Buku kecil yang saya awalnya saya pikir adalah sebuah cerita anak. Ternyata mengandung makna indah tentang kehidupan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *