Mending Terjebak Blackout PLN Atau Terjebak Masa Lalu?

Mending Terjebak Blackout PLN Atau Terjebak Masa Lalu?

Sudah menjelang malam, jangkauan pandangan mata saya semakin terbatas. Kegelapan terasa semakin pekat. Sementara kami masih menunggu, duduk tanpa kepastian di sudut Stasiun Gambir Jakarta. Mungkin kayak gini ya rasanya kena PHP janji-janji palsu.

Handphone saya sudah sejak siang tadi tidak bisa digunakan untuk internetan. Jaringan seluler lemot luarbiasa. Tidak bisa menelfon atau ditelfon. Gawai canggih, akhirnya hanya bisa untuk ngegames, main senter pura-pura memanggil Batman, memantau waktu dan baca-baca ulang chat yang sudah kadaluarsa.

Kondisi Jakarta, ibukota Indonesia, benar-benar di luar kebiasaan. Aneh banget. Kayaknya nggak ada informasi bakal diadakan Jakarta Earth Hour, tapi kok listrik padam total.

Pengen ke toilet, nggak ada air. Mau sholat, tak ada air wudhu yang mengalir. Tayamum berjama’ah deh. Mulai terasa lapar dan haus, pengen beli makanan. Tapi sebagian besar gerai makanan tidak melayani pembelian, meskipun masih banyak produk yang dipajang di gerai makanan.

Melipir menuju ke minimarket, eh mereka memilih tutup juga. On the way pesan taksi online, bagaimana bisa? Jaringan internet kadang lemot kadang ilang.

Luarbiasa memang efek blackout listrik PLN di Jakarta 5 Agustus 2019 kala itu. Sebuah fenomena paling parah yang terjadi dalam 30 tahun terakhir di kota ini. 

Awal Cerita Terdampar Di Jakarta

Viral banget ya peristiwa blackout listrik PLN yang terjadi di Jakarta, sebagian Jawa Barat dan sekitarnya. Setelah 30 tahun tak pernah terjadi, hari itu mati listrik total di Jakarta terjadi lagi. Bermacam-macam durasi mati listriknya. Mulai dari beberapa jam di Jakarta Kota, seharian di Jakarta pinggiran, hingga berhari-hari di Jakarta coret dan daerah lainnya.

Kegelapan melingkupi kota Jakarta. (sumber: inews.id)

Monmaap, tolong ya, jangan dulu dibandingkan dengan daerah-daerah di luar Jakarta dulu durasi mati listriknya. Ibukota Indonesia ini adalah wajah yang mewakili Indonesia, seharusnya tidak boleh mengalami kondisi pemadaman listrik total seperti itu.

Daaaan saya termasuk yang tanpa sengaja ikut mengalami dan menyaksikan efek peristiwa itu hihihi…

Awal bulan Agustus 2019, pas saya berkunjung ke Tangerang dan Jakarta untuk menghadiri sebuah acara. Sebut saja acara kondangan alias menghadiri undangan pernikahan teman. Yesss, saya #PejuangKondangan garis miring. 😀

Menghadiri acara kondangan, bisa menjadi sebuah alasan untuk meet up dengan teman-teman saya di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Serang dan sekitarnya. Sudah lama banget saya tidak berjumpa dengan mereka dan sudah sekian tahun saya tidak mengunjungi Jakarta.

Biasanya, baru membayangkan kemacetan kepadatan lalulintas di Jakarta saja sudah membuat saya mengalihkan fokus untuk traveling ke kota lain. Tapi kali ini entah mengapa ada dorongan untuk berangkat ke Jakarta. Mampir dulu sih ke Tangerang sehari sebelumnya. Biar nggak jet lag. #halah

Hari Kamis 2 Agustus terjadi gempa di dekat Banten dan getaran kuatnya terasa banget di Tangerang. Meskipun begitu, saya memutuskan untuk tetap berangkat. Hari Jum’at, saya bertolak dari Magelang. Tiba di Tangerang hari Sabtu dini hari, sekalian numpang istirahat sejenak untuk meluruskan tulang belakang di rumah Erika.

Oiya, dari Magelang saya naik bis patas. Saya memang lebih suka naik bis atau travel saat perjalanan solo traveling antar kota. Menurut saya, suasana di dalam bis patas terasa lebih private dan tenang. Tidak berisik seperti di dalam gerbong kereta api. Tidak terganggu oleh lalu lalang penumpang yang bersliweran. Makin kesini, makin berasa jika saya ini sebenarnya introvert.

Di rumah Erika, rencana awalnya saya mau istirahat saja. Kenyataannya, saya malah sibuk nyicipin kuliner khas setempat. Laksa ala Tangerang dan cireng bumbu rujak yang diantar oleh Neng Ice, juragan @CilokCeTuti. Setelah sebelumnya sarapan pagi makan sepiring Lontong Sayur ala betawi.

Rencana bobok siang sejenak ternyata gagal pula. Tergoda untuk membaca buku Dilan 1990, Dilan 1991 dan Milea yang ada di kamar Erika. Ketiga buku ini saya baca dengan menggunakan jurus kelinci lompat. Cepat banget selesai dibaca, lha isinya sebagian besar adalah rayuan gombal ala imam besar The Panas Dalam, @PidiBaiq.

Sabtu sore, baru deh perjalanan saya lanjutkan menuju ke kompleks Green Kebagusan di Jakarta. Ada tawaran menginap di rumah Popo Wickra, Momo Niya dan dua jagoan gantengnya, Radhyt dan Fatih. Malam harinya, acara utamanya teteeeep kuliner dulu ke @JackKitchen. Sambil meet up dengan Tanti, salah satu teman baik saya.

Terjebak Blackout Listrik PLN di Jakarta

Hari Minggunya, pasukan kondangan mulai berangkat dari Green Kebagusan. Mengejar hadir di acara akad nikah dari teman baik saya, Rosa dan Edy.  Saat prosesi akad nikah adalah waktu yang afdol buat berdo’a dan mendo’akan orang lain. 

Pasukan kondangan sudah berkumpul. Ki-ka : Om Wick, Om Henry, Om Dory, Radhyt, Saya, Erika, Momo Niya, Fatih.

Jeda waktu setelah acara akad nikah dan resepsi nikah saya gunakan untuk temu kangen bersama teman-teman baik saya. Reuni, ngobrol, bercanda, foto-foto, makan, lalu geser pindah ke masjid untuk menunaikan sholat dzuhur.

Saat itu kami sudah mendapat info adanya blackout padamnya listrik PLN secara total di Jakarta. Jaringan internet eror, sinyal jaringan seluler juga hilang. Malah semakin memantapkan kami untuk fokus terusin ngobrol, bercanda, foto-foto, ditambah praktek dadakan terapi ala fisioterapis oleh teman kami. 

Konspirasi 2019 kembali aktif lagi. Happy wedding day Ocha dan Edy. (dokumen foto : Om Dwi Ishak)

Saking efektifnya memanfaatkan waktu, kami baru membubarkan diri saat dekor pelaminan sudah dibongkar dan mobil kedua mempelai sudah meninggalkan gedung. Luar biasa kan istiqomahnya pasukan kondangan kami ini? 😀

Setelah itu baru deh terasa efek blackout mulai mengganggu aktifitas selanjutnya. Mau pesan taksi online, jaringan internet masih lumpuh. 😀 Entah bagaimana caranya, teman saya bisa memanggil taksi untuk mengantar saya dan teman-teman menuju Stasiun Gambir Jakarta.  

Kebetulan Momo Niya dan si kecil Fatih terjadwal untuk melakukan perjalanan ke Blitar dengan moda transportasi kereta api jam 5 sore dari Stasiun Gambir. Sementara kereta api yang akan mengantar saya pulang masih jam 10 malam berangkatnya dari Stasiun Pasar Senen. 

Masih ada cukup waktu bagi untuk meneruskan obrolan kangen-kangenannya. Nggak habis-habis topik obrolannya dari pagi 😀 

Begitu sampai di Stasiun Gambir, situasi sudah mulai chaos. Tidak ada kepastian kapan kereta api akan diberangkatkan. Penumpang semakin banyak memenuhi ruang tunggu yang gelap tanpa listrik. ATM tidak bisa beroperasi. Gerai-gerai makanan memilih tutup lebih awal karena ketiadaan listrik dan air. 

Jalur kereta api masih lumpuh karena KRL belum bisa bergerak dari tempatnya karena ketiadaan listrik. MRT pun macet. Internet yang super lemot membuat jaringan taksi/ojek online dan layanan delivery order makanan tidak bisa diakses. 

Kami menuju masjid di kompleks Stasiun Gambir untuk mengerjakan sholat ashar. Ternyata disana sudah tidak ada air wudhu. Sebagian teman saya menggunakan air mineral untuk berwudhu. Sebagian jama’ah lainnya mungkin tayamum. 

Salah seorang teman saya mengusulkan untuk menuju restoran waralaba KFC di dekat Stasiun Gambir. Karena restoran itu menggunakan generator listrik, sehingga tidak begitu terpengaruh efek blackout listrik saat itu. 

Saya bersama sekitar 10 orang teman menuju ke sana, memesan makanan untuk mempertahankan kewarasan. Saat itu baru terasa jika uang elektronik tidak bisa digunakan. Kartu ATM, kartu debet, kartu kredit, gopay, maupun e-money jenis apapun tak bisa digunakan. Hanya uang cash yang bisa digunakan untuk transaksi saat itu. 

Beruntung kami masih bisa saweran (iuran) untuk membayar tagihan makan dan saling berbagi dana tunai untuk bekal perjalanan pulang. Tidak terbayangkan bagaimana orang-orang yang tidak membawa uang cash karena terbiasa menggunakan uang elektronik. 

Setelah makan malam dan menjamak sholat Maghrib dan Isya, kami keluar dari restoran itu untuk mencari taksi. Sebagian pulang ke rumah masing-masing. Saya diantar Erika dan Ice menuju Stasiun Pasar Senen. Semoga kereta api malam yang akan mengantar saya pulang bisa berangkat tepat waktu. 

Begitu kami keluar dari gerai KFC itu, generator listrik yang memasok kebutuhan listrik gedung itu sepertinya kehabisan bakan bakar. Kegelapan pun akhirnya melingkupi banguanan tersebut di saat ada ratusan orang sedang makan di dalam ruangan tersebut. Masyaallah… 

Saya segera menuju ke Stasiun Pasar Senen. Ditemani Erika dan Ice, dengan dibantu jasa ojek online yang kembali menjadi ojek konvensional akibat lumpuhnya jaringan internet.

Ojek online, kembali ke fitrah menjadi ojek konvensional.

Mulut saya tidak berhenti komat-kamit berdo’a, semoga kereta api malam bisa beroperasi seperti biasa. Berharap jaringan listrik segera normal lagi. 

Kondisi di Stasiun Pasar Senen saat itu tidak berbeda dengan Stasiun Gambir. Sebagian besar ruangan gelap gulita, hanya sebagian kecil yang diterangi listrik dari generator darurat. Ruang tunggu stasiun penuh dengan penumpang yang menanti kepastian jadwal keberangkatan kereta api. Toilet dan gerai-gerai penjual makanan tutup tidak beroperasi. 

Setelah bertanya ke petugas pengamanan stasiun, saya mendapat informasi kepastian keberangkatan kereta api malam yang akan mengantar saya pulang  menuju Stasiun Kutoarjo.

Alhamdulillah tidak berapa lama jaringan listrik Jakarta Kota hidup kembali. Malam itu juga saya berangkat pulang dari Jakarta. Ya lumayanlah pengalaman kali ini, masih mending terjebak blackout daripada terjebak masa lalu. Iye kan gaess? 

Sebuah pelajaran berharga tentang persahabatan yang mendampingi saya melewati peristiwa yang tak terduga. Juga sebuah reminder tentang efek ketergantungan kita saat ini pada listrik, internet dan uang elektronik. Saat mengalami gangguan, terasa betul kekacauannya. 

Itu baru setitik masalah yang hadir di dunia. Sudah membuat kita panik dan gelisah. 

Lalu bagaimana persiapan akhirat kita? #Think

Jazakumullah khairan atas ukhuwah dan bantuan selama di Tangerang dan Jakarta: Erika, Ice, Momo, Om Wick, Radhyt, Fatih, Tanti, Om Dory, Om Yono, Mas Henry, Ocha, Dita Sefty, Dafi, Intan, Uni Yanti, Mbak Heny, Mbak Radite, Mbak Yusi, Dwina, Gelar, Om Dwi Ishak dan Mbak Wiwiek Abbas, Bang Ijal dan istri, Mbak Iis dan Mas Haris. Barakallahufiikum…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *