Minimalism

Minimalism Life : Decluttering Benda Kenangan

Sejak membiasakan diri untuk mengikuti pola minimalism life, secara rutin saya melakukan decluttering pada benda-benda yang ada di rumah saya. Decluttering adalah mengurangi jumlah barang yang ada di ruangan dan menatanya kembali. 

Ada beberapa penulis buku tentang minimalism life dan panduan decluttering yang saya rekomendasikan. Beberapa diantaranya adalah penulis internasional, seperti Fumio Sasaki, Marie Kondo, Dominique Loreau, Joshua Field Millburn dan Ryan Nicodemus. 

Beberapa buku yang sudah saya baca diantaranya adalah :

  • Goodbye Things, Hidup Minimalis ala Orang Jepang, yang ditulis oleh Fumio Sasaki,
  • The Life Changing Magic of Tidying up, Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang, ditulis oleh Marie Kondo, penemu metode Konmari.
  • Konmari Mengubah Hidupku, penulisnya Khoirun Nikmah, founder Komunitas Konmari Indonesia.
  • L’art de La Simplicite (How to live more with less), ditulis oleh Dominique Loreau (english edition)
  • Minimalism, Live a Meaningful Life, ditulis oleh Joshua Field Millburn dan Ryan Nicodemus

Sebagian saya membeli dalam edisi cetak, sebagian lagi saya beli dalam versi ebook di aplikasi google playbook. 

buku minimalism life
Buku tentang minimalism life dan decluttering yang saya miliki.

Selama ini saya memfokuskan diri untuk mengurangi koleksi baju, buku, sepatu, tas, dokumen yang sudah tak terpakai dan pernak pernik lainnya. Baru beberapa bulan ini saya menjadikan furniture, cendera mata dan benda-benda kenangan sebagai target decluttering.

Oiya, sebagian kisah saya dalam belajar menjalani pola hidup minimalism bisa dibaca di artikel minimalism.

Cukup banyak benda-benda cendera mata yang sudah bertahun-tahun mengisi rumah saya. Sebagian besar ternyata hanya menjadi pajangan. Ada yang saya beli saat traveling ada juga yang saya beli saat hang out iseng ke suatu tempat. 

Sebagian pajangan lainnya adalah hadiah dan oleh-oleh dari teman-teman saya. Mereka mengetahui jika saya suka pada souvenir khas yang unik dari suatu daerah. Sisanya saya dapatkan sebagai cendera mata kehadiran di suatu event (acara nikahan, syukuran, dan sebagainya).

Simpan Benda Yang Membuat Kita Lebih Bahagia Dan Berdaya

Selama ini saya sangat suka berada di ruangan yang lapang / terkesan lapang. Berwarna-warni yang cerah, tidak begitu banyak barang yang tak bermanfaat, cukup penerangan alami dari sinar matahari, dan udaranya mengalir lancar.

Sehingga saat ruangan mulai terlihat overload / kebanyakan isinya, saya menjadi merasa sumpek. Lebih menyenangkan bagi saya saat melihat ruangan dengan perabot minimalis.  Berisi benda-benda yang bukan hanya enak dipandang tapi juga membuat saya bahagia.

Panduan dari buku The Life Changing Magic of Tidying Up dan foto-foto yang ada di akun instagram @MarieKondo, penulis buku dan founder metode konmari ini menjadi salah satu referensi saya dalam menata kamar dan rumah. 

metode konmari decluttering
Referensi saya adalah foto-foto yang ada di akun instagram @MarieKondo, founder Konmari Method

Cara yang paling sederhana yang saya lakukan untuk menata ulang ruangan adalah dengan menata ulang isi rumah / kamar. Dimulai dari kamar pribadi saya dan ruangan yang tidak menjadi privacy anggota keluarga lainnya.

Tahap pertama adalah memindahkan perabotan yang saat saya memandangnya, kurang memunculkan rasa berdaya. Sebagian isi kamar saya adalah perabotan “warisan”. Sehingga tidak mewakili selera dan diri saya sesungguhnya. 

Jadilah beberapa waktu yang lalu saya menyingkirkan lemari pakaian saya. Kemudian menggantinya dengan lemari kayu dengan 5 laci besar yang saya beli beberapa tahun sebelumnya. Jika dulu saya senang menggantungkan baju di dalam lemari, sekarang saya lebih suka melipat baju dengan rapi di dalam laci lemari. 

Meja belajar besar dan berat yang sekaligus berfungsi sebagai lemari buku juga saya pindahkan. Saya ganti dengan rak buku minimalis dan meja knockdown kecil yang cukup sebagai tempat parkir laptop saya. 

Ok, masalah perabot pengisi kamar beres. Kamar saya menjadi semakin lapang, lebih menyenangkan suasananya dan selaras dengan jiwa saya. Isi lemari baju dan rak buku sudah sebelumnya saya razia dan kisahnya ada di sini

Salurkan Koleksi Cendera Mata Kepada Yang Lebih Membutuhkan

Tahap berikutnya adalah menyortir souvenir pernikahan, cendera mata dan hadiah bonus dari belanja produk. 😀 Kebanyakan berupa gelas, cangkir, mangkuk, piring, kipas, hiasan keramik, beragam handycraft  imut dan lucu. Benda-benda hadiah / bonus pembelian produk biasanya terdapat cap merek produknya.Untuk souvenir pernikahan/syukuran biasanya terdapat sablon nama penyelenggara dan tanggal acaranya. 

Cendera mata dan hadiah ini sebagian besar menumpuk dan pada akhirnya tidak terpakai. Saat melihat tumpukan cendera mata itu, rasanya kok mubadzir ya. Maka dengan tidak mengurangi rasa hormat pada para penyelenggara event, sejak setahun terakhir ini saya memilih untuk tidak mengambil souvenir yang disediakan bila menurut saya bukan sesuatu yang saya butuhkan. 

Kumpulan benda-benda cendera mata ini adalah saya kumpulkan di dalam beberapa kardus. Kemudian saya tawarkan kepada orang lain yang menurut saya lebih membutuhkan.

Kebetulan rumah saya bersebelahan dengan usaha laundry / jasa cuci dan seterika dan beberapa orang tetangga saya membuka warung makan. Saya coba tanyakan pada karyawan-karyawannya. Siapa tahu ada yang membutuhkan mug, gelas, mangkuk, piring dan souvenir lainnya. Sambutannya ternyata melebihi ekspektasi saya. Diterima dengan gegap gempita… #halah 😀

Move On Dimulai Dari Merelakan Benda Kenangan Untuk Orang Lain

Ada sebagian benda yang memiliki nilai nostalgia yang kuat dalam hidup kita. Bertahun-tahun kita simpan. Sebagian membawa rasa bahagia saat memandangnya. Sebagian lagi justru memunculkan rasa kurang bahagia saat mengingat kenangan yang menyertainya.

Untuk mempermudah dalam mengurangi dan menata ulang benda-benda yang ada di dalam rumah, kita bisa gunakan panduan tantangan 30 hari mengurangi isi dan menata ulang rumah.

Contoh panduan merapikan rumah dalam bentuk challenge selama 30 hari.

Dalam kaitannya dengan decluttering benda-benda kenangan ini, saya memilih untuk hanya menyimpan yang membawa rasa bahagia saat menyentuhnya. 

Lalu bagaimana saya tahu yang mana saja benda yang membuat saya bahagia?

Yang saya lakukan adalah menyentuh dan menggenggamnya sesaat. Kemudian saya memaksimalkan fungsi panca indera ditambah perasaan yang menyertainya. Rasa dan lintasan kenangan yang muncul saat itu akan memberi tahu saya apakah benda itu layak disimpan.

Sebagian benda-benda itu saya tawarkan pada teman-teman saya. Saya sesuaikan dengan selera mereka. Yang hobby koleksi pernak pernik dari kayu ya saya tawari untuk mengadopsi cendera mata dari kayu juga. Begitu pula dengan cendera mata yang lainnya. Akhirnya menemukan “rumah” baru yang saya tahu akan merawatnya dengan baik. 

Dahulu, toko souvenir seperti ini akan membuat saya membeli beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang. (sumber lomboktrulysasak.com)

Pola hidup minimalism sudah mempengaruhi pola belanja oleh-oleh saya saat traveling. Jika sebelumnya saya hobby membeli pernak pernik lucu khas daerah tersebut, sekarang saya lebih sering membeli oleh-oleh makanan khas daerah tersebut secukupnya. 

Karena souvenir yang paling penting adalah bertambahnya pengalaman hidup, bertambahnya teman/relasi dan foto serta kenangan indah yang bisa dituliskan di blog ini. Aseeeeeek…. 😀

Regards

Eva Zahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *