Pagi Bersama Bapak

Pagi Bersama Bapak

Seorang sahabat saya, Ima Satrianto, dua tahun yang lalu mengirimkan sebuah buku untuk saya. Berjudul “Bapak: Prasasti Cinta Sepanjang Usia”. Buku itu berisi sebelas kisah yang ditulis oleh para bloger, tentang bapak mereka masing-masing.

Source : Aepublishing.id

Hampir semua kisah yang tertulis di buku itu adalah kisah kedekatan mereka dengan bapaknya. Hanya sebagian kecil yang menceritakan hambatan kedekatan mereka.

Apalagi salah satu cerita yang dituliskan oleh Mbak Ima Satrianto ini. Kedekatan mbak Ima dengan sosok bapak, membuat saya sangat iri, saat membaca kisahnya yang tertulis di dalam buku itu. Betapa romantisnya hubungannya dengan bapaknya. Sejak kecil hingga mbak Ima berumah tangga, hubungan bapak dan anak perempuannya semakin akrab terjalin.

Saat mbak Ima sakit, bapaknya tidak segan izin sebentar dari tempat kerja untuk pulang ketika diberi tahu ada anak beliau yang jatuh sakit. Saat mbak Ima di usia remaja ingin berbelanja ke supermarket, bapaknya bersedia menemani (sekaligus bagian pembayaran 😀 ).

Iri banget saya saat membaca kisah-kisah kedekatan antara seorang anak dan bapaknya.

Bapak, Tidak Harus Selalu Tampil Sempurna

Dicari : Fatherman, daughter’s superhero
Source : shutterstock.com

Mungkin ada yang bertanya mengapa saya iri pada kisah-kisah di dalam buku ini. Biasanya kan kalau kita iri, artinya kita merasa “kekurangan” di bidang itu. Nah… itu yang dulu saya rasakan.

Saya dan bapak saya sama-sama keras kepala. Dahulu pola komunikasi kami seringkali mentok tidak bisa selaras.

Saya orang yang lebih banyak menggunakan dan memerlukan ungkapan verbal untuk memperjelas sebuah maksud. Sementara bapak saya lebih banyak diam tidak menjelaskan apa maksud beliau sesungguhnya. Kalau sudah mentok begitu, biasanya kami menghindar dan sibuk dengan aktifitas kami masing-masing.

Saya dulu adalah seorang anak yang sangat perasa (sekarang juga masih, tapi sedikiiiit). Banyak hal yang ingin saya ceritakan pada bapak, tapi saya tidak mengerti bagaimana caranya. Saya yang haus perhatian dan waktu berkualitas dari kedua orangtua saya, berubah menjadi remaja yang sulit dipahami, inferior, mudah tersinggung, sulit dekat dengan orang lain dan reaktif.

Meskipun saya menyaksikan bagaimana kedua orangtua saya bekerja keras demi mencukupi kebutuhan kami, anak-anaknya. Namun ego saya sebagai anak dan remaja yang butuh perhatian saat itu, membuat saya merasa ada lubang kosong yang menganga dalam jiwa saya. Tangki kasih sayang yang saya inginkan kurang terpenuhi.

“Bahasa cinta” kami berbeda. Cara kami menunjukkan perhatian juga berbeda. Itulah yang membuat komunikasi kami sering tidak bersambut.

Oiya, tulisan ini bukan untuk menceritakan kekurangan orangtua kami lho… Dilanjutkan dulu ya membacanya. Ini adalah cerita tentang proses membangun sebuah pola komunikasi yang pada awalnya kurang bagus. Menuju pola komunikasi saling memahami.

Hingga saya lulus dari sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Pola komunikasi yang kurang akrab itu terus berlanjut.

Saatnya Berhenti Menyalahkan Orang Lain

Tidak terhitung banyaknya pembangkangan saya pada harapan dan keinginan bapak saya. Pemberontakan saya berwujud keengganan untuk mengikuti apa yang menjadi keinginan bapak saya pada masa depan saya. Bapak saya ingin A, maka saya akan lakukan B. Begitu sering terjadi.

We can’t NOT communicate
Source : Shutterstock.com

Seiring dengan waktu, bertambah usia, berkurang pula ego pemberontakan masa remaja. Saya mulai berpikir, ada yang perlu dibereskan dalam hidup saya. Saya lelah dengan pola komunikasi “diam” yang terjadi selama ini antara saya dan bapak saya.

Hidup saya juga seperti muter-muter balik lagi ke situ-situ lagi. Bekerja kantoran tidak bertahan lama, beberapa kali berwirausaha mulai dari nol hingga level hasil yang lumayan, eh kok ya beberapa kali ambruk lagi. Modal habis lagi. Harus mulai dari awal lagi.

Untungnya saya senang belajar dari pengalaman. Saya terus mencari ilmu dengan menghadiri acara-acara seminar, workshop, datang ke majelis ilmu, mengikuti training, membaca buku-buku pengembangan diri dan segala macam cara. Tidak terhitung dana yang saya belanjakan untuk belajar dari guru-guru dan trainer-trainer yang menurut saya ilmunya saya butuhkan.

Bonusnya adalah, pergaulan saya meluas. Saya bertemu dengan guru-guru dan teman-teman baru. Mereka membuat saya sadar jika perilaku saya itu bukan perilaku yang dewasa. Waktunya growing up.

Teman-teman baru yang saya kenal ini banyak mengajarkan pada saya, bahwa masih ada banyak sekali orang yang tidak seberuntung saya. Sawang sinawang… Lihat di dunia ini ada banyak yang dikaruniai ujian kehidupan yang tak pernah saya bayangkan. Dan mereka sanggup berjuang melalui prosesnya.

Saya menjadi sadar bahwa semua yang saya alami tidak lepas dari “undangan” dari diri sendiri. Saya punya peran pada peristiwa dan kejadian yang hadir dalam kehidupan saya.

Artinya, saya juga punya Tuhan bekali kemampuan untuk mengubah nasib dan mengundang hal-hal baik untuk datang ke dalam hidup saya. Masalah takdir yang nanti menyertai, tak usah dipusingkan. Toh takdir bukan untuk dipikirkan, tapi untuk diimani. Itu kata Habib Novel Alaydrus, seorang ulama yang rekaman kajiannya sering saya dengarkan.

Dari sekian banyak kesempatan belajar pada banyak orang, salah satu yang saya ingat adalah nasihat bahwa “Dunia besar di luar diri adalah cerminan dari dunia kecil di dalam diri”.

Jadi kalau ingin membuat perubahan pada lingkungan hidup kita, mulailah dengan mengubah diri kita menjadi versi yang lebih baik.

Sejak itu saya mulai aktif memperbaiki pola komunikasi yang sempat macet antara saya dan bapak saya. Apalagi sejak bapak saya pensiun dari karir sebagai pegawai negeri sipil, otomatis ada lebih banyak waktu bagi saya untuk bertemu dan berkomunikasi.

Saya mulai memperhatikan apa yang bapak saya sukai. Kemudian berusaha meluangkan waktu bersama bapak saya. Nggak usah mikirin apakah mendapat sambutan sesuai dengan harapan saya. Ditelateni saja.

Oh ternyata bapak saya suka diberi perhatian dan hadiah meskipun sederhana. Ya saya mulai dengan sering membawakan oleh-oleh makanan kesukaan beliau. Karena bapak saya senang membaca buku, dan saya juga hobbi membaca buku, maka sering saya sengaja membeli buku yang temanya disukai juga oleh bapak saya.

Saya suka memasak dan berwisata kuliner. Jadi saya gunakan hobbi saya ini sebagai jalan untuk memperbaiki komunikasi dengan bapak saya. Benar juga kata teman saya, jalan menuju hati seseorang bisa dimulai dari memuaskan perutnya. 😀

Perlahan-lahan komunikasi kami menjadi semakin selaras. Tidak perlu mencari alasan atau waktu khusus untuk ngobrol, karena kapan saja saya dan bapak saya punya tema untuk diobrolkan.

Bapak saya ternyata orangnya lucu dan senang bercerita. Sebagian cerita lucu, cerita absurd maupun nasihat bapak, sering saya tuliskan di halaman facebook saya. Hal-hal yang aneh dan nggak jelas pun sekarang bisa menjadi obrolan seru antara saya dan bapak saya.

Apa? Belum add akun facebook saya? Sungguh terlalu… 😀

Begitulah, butuh waktu lama untuk menuliskan kisah ini. Memenuhi janji saya pada Mbak Ima Satrianto, untuk menuliskan kisah tentang bapak saya.

Dan semakin saya berusaha mengenal bapak saya, semakin banyak sifat-sifat beliau yang bisa saya teladani.

Ngomong-ngomong, saya baru ingat kalau saya dan bapak saya jarang berfoto bareng. Adanya foto rame-rame bareng keluarga besar dengan pose formal. Jadi maaf ye sodara sodari, fotonya ntar menyusul.

Regards,

Eva Zahra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *