Santri Weekend, Merasakan Kehidupan Santri Majelis Ar-Raudhah

Santri Weekend, Merasakan Kehidupan Santri Majelis Ar-Raudhah

Ketika saya masih berusia belia, bapak saya berkata, “Sekali-sekali, kamu perlu merasakan pengalaman menjadi santri di sebuah pesantren, meskipun hanya sebentar”. Saat itu saya belajar di sekolah dasar umum dengan jam pelajaran agama yang terbatas.

Ketika tiba waktu liburan sekolah, saya dikirim ke sebuah pesantren. Letaknya di daerah Payaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Untuk mengikuti “Pesantren Kilat” selama dua minggu. Saya dititipkan di pesantren tersebut. Bersama-sama dengan puluhan santri lainnya.

Bapak saya adalah aktifis dan pengurus organisasi Muhammadiyah. Namun, beliau orang yang open minded. Saya justru didaftarkan ikut program pesantren Nahdatul Ulama. Katanya biar pikiran saya terbuka lebih luas dalam menilai persamaan dan perbedaan. Selama ajarannya masih sama-sama bersumber pada Al Qur-an dan Al Hadits.

Waktu liburan tiba. Dimulailah pembelajaran saya saat itu di pesantren tersebut. Saya tinggal di sebuah bangunan sederhana, tidur di lantai beralas tikar, sekamar berbagi dengan banyak santri. Merasakan kondisi yang tidak sebebas tidur di rumah. Bangun pagi-pagi buta, untuk berlatih qiyamul lail. Belajar sabar untuk antre untuk mandi dan ke toilet.

Pagi, siang dan malam mengikuti sesi belajar ilmu agama. Saat jam makan tiba, saya antre lagi. Makan bersama dengan menu yang sangat sederhana. Menikmati sajian seadanya bersama semua santri-santri lainnya.

Jeda waktu untuk istirahat sebagian digunakan untuk menghafal beberapa hadits berikut artinya. Sesuai yang diajarkan oleh para asatidz di pesantren tersebut.

Selama dua minggu penuh, di usia belia, saya “dipaksa” untuk pindah dari zona nyaman sehari-hari. Saat hari penutupan pesantren kilat tiba, campur-campur rasanya. Antara senang dan sedih. Mungkin karena sudah mulai terbiasa dengan kehidupan pesantren.

Kini, sudah sekian puluh tahun berlalu, pengalaman dan hafalan-hafalan yang saya pelajari saat itu masih melekat di ingatan saya.

Menuju Majelis Ar-Raudhah Solo

Suatu hari saya menonton sebuah video kajian dari Habib Novel bin Muhammad Alaydrus. Isi kajiannya menarik, tentang ilmu ridho dan husnudzon pada semua ketetapan Allah dalam hidup kita.

Habib Novel bin Muhammad Alaydrus

Cara Habib Novel memberikan tausiah itu begitu seru. Bahwa hidup ini jangan dibuat rumit. Semua bisa menjadi mudah, selama kita mengikuti jalan yang Allah ridhoi.

Optimisme dan sikap positif Habib Novel di video tersebut menulari saya. Masalah kehidupan kita itu hadir karena ulah kita sendiri. Buang jauh kebiasaan mengeluh dan suudzon. Yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas ijin Allah. Dan semua ketetapan Allah itu adalah yang terbaik untuk kita.

Jika hidup kita terasa berat karena banyak masalah, segera introspeksi diri. Karena Allah tidak menciptakan masalah. Manusia lah yang membuatnya menjadi sebuah masalah.

Mau hidup yang terasa nikmat, damai, dimudahkan segala urusan? Ya dekati Allah, kejar ridhoNya. Perkuat tauhid, perbaiki ibadah, perbaiki sikap, pikiran, dan perasaan kita.

Bermula dari menonton video kajian itu, saya ingin menghadiri kajian rutin di Majelis Ar-raudhah, Solo. Biasanya diadakan hari Jum’at malam. Sehingga saya harus menginap semalam di Solo. Mulailah saya mengatur rencana, kapan berangkatnya, bagaimana cara menuju ke sana, nanti menginap dimana dan sebagainya.

Beberapa hari sebelum eksekusi rencana, sahabat saya mengirimkan sebuah foto poster sebuah acara. Tertera disana, poster event Santri Weekend Majelis Ar-Raudhah. Tiga hari dua malam total waktu acaranya. Mulai tanggal 5 – 7 Juli 2019 di markas Majelis Ar-Raudhah Solo. Semua biaya akomodasi dan konsumsi 100% GRATIS !!!

Rezeki diantar, tanpa sengaja poster ini mampir ke whatsapp saya lewat perantara seorang sahabat yang mengirimkannya.

Wah mimpi apa saya ya, semua rencana yang saya buat buyar begitu saja. Digantikan dengan rencana yang lebih bagus.

Saya langsung mendaftar, melengkapi persyaratan.

Dan alhamdulillah diterima. Resmi terdaftar menjadi peserta event santri weekend.

Menikmati Kehidupan Ala Santri di Majelis Ar-raudhah

Singkat cerita hari Jum’at tanggal 5 Juli 2019, sampailah saya di lokasi event. Menunggu pembagian kamar dan kartu peserta. Sambil berkenalan dengan teman-teman baru di sana. Sebagian besar masih mahasiswa. Haduh, berasa jadi senior banget saya di sana.

Sejak pertama kali meniatkan diri untuk mengikuti kegiatan santri weekend, saya sudah siap dengan kesederhanaan fasilitas yang ada. Tidur beralas karpet.. Berjajar bersama dengan puluhan santriwati lainnya. Siap pula antre berbagi penggunaan toilet dan kamar mandi dengan banyak orang.

Bangunan asrama terdiri dari 3 tingkat. Masing-masing tingkat ada 2 kamar besar. Setiap kamar diisi dengan 30-40 orang santriwan/santriwati. Masih dalam proses finishing. Belum dilengkapi dengan tempat tidur dan kasur. Tapi cukup nyaman. Berakrab-akrab dengan teman sekamar.

Asrama untuk menginap santri putra dan santri putri dibatasi dengan hijab. Di kemudian hari, rencananya malah akan dipisahkan jalur masuk dan keluarnya. Agar semakin terjaga interaksinya.

Disinilah kami tidur bersama, berjajar saling berbagi ruang gerak dengan santriwati lainnya.

Oiya sebagai tambahan info. Kabar terbaru menyebutkan, mulai bulan Agustus 2019, kamar-kamar tersebut sudah dilengkapi tempat tidur bertingkat dan kasur. Semakin nyaman fasilitas santri weekend berikutnya.

Lanjut ya ceritanya…

Hari Jum’at petang, kegiatan rutin dimulai. Sholat Maghrib berjamaah, dilanjutkan dengan tadarus Al Qur’an. Berlanjut hingga sholat Isya. Lalu menanti kajian Jum’at malam. Makan malamnya nanti, setelah kajian selesai. Sekitar jam 11 malam.

Sholat Maghrib berjamaah dilanjutkan dengan tadarus hingga waktu Isya tiba.

Sajian khas selama kajian adalah segelas kopi dan roti. Lumayan untuk mengganjal perut yang krucuk-krucuk lapar. Kalau teman-teman ingin tahu isi kajian di majelis ini. Secara rutin disiarkan live streaming melalui chanel youtube Majelis Ar-raudhah atau di chanel Habib Novel Alaydrus. Monggo silakan diakses bebas.

Kopi Santri Majelis Ar-raudhah

Habib Novel mengisi kajian Jum’at malam mulai jam 8 malam hingga sekitar jam 10 malam. Jamaahnya ratusan orang. Mungkin sampai seribu orang. Ini adalah kajian umum yang boleh diikuti siapapun yang berkenan hadir.

Setelah kajian selesai, seluruh jamaah belum boleh meninggalkan tempat duduk. Dengar-dengar dari teman-teman, bakal ada makan malam bersama. Kami diminta duduk melingkar empat orang. Dari kejauhan tampak para relawan datang dengan membawa puluhan nampan besar.

Nampan tersebut berisi nasi dengan lauk dan kerupuk. Satu nampan untuk makan bersama empat orang yang duduk melingkar. Makanan sederhana yang terasa sangat lezat. Bisa jadi karena nilai keberkahannya. Beneran, nikmat rasanya.

Makan berjamaah, sederhana namun lezat terasa.

Habib Novel menjelaskan, bahwa sudah sejak lama beliau menyediakan sajian makan besar untuk semua jamaah. Menjamu tamu, baik jamaah umum maupun santri. Sebagai bentuk keikhlasan untuk berbagi dan berinfak di jalan yang Allah ridhoi.

Menurut beliau, jika kita tidak perhitungan dan ikhlas dalam berderma, maka Allah menggantinya dengan balasan rezeki dan kemudahan urusan yang berlipat-lipat.

Selepas kajian, kami beristirahat malam itu. Tidur kira-kira 4-5 jam. Besok, dini hari, jadwal ibadah malam sudah menanti.

Keesokan harinya kegiatan dimulai sebelum adzan sholat Subuh terdengar. Sholat berjamaah, dilanjutkan dengan dzikir pagi hingga sekitar jam 6 pagi.

Diselingi jeda sejenak untuk makan pagi. Dilanjutkan dengan sesi kajian pagi hingga sore. Kajian pagi dibawakan oleh Habib Muhammad bin Husein Al Habsyi. Isi kajiannya lebih banyak pada pelajaran adab untuk para pencari ilmu.

Malam harinya, masih ada jadwal kajian malam. Ada yang istimewa di hari Sabtu malam itu. Kajian yang dibawakan oleh Habib Novel bin Muhammad Alaydrus dilaksanakan di roof top mushola. Mulai dari jam 8 malam hingga tengah malam.

Kajian Sabtu malam di roof top mushola Majelis Ar-raudhah

Malam itu Habib Novel menjelaskan tentang jalan thoriqoh. Tentang apa sih yang dimaksud dengan thoriqoh itu. Selama ini terlalu banyak kesimpangsiuran informasi yang beredar. Habib Novel bermurah hati memberi kami hadiah sebuah buku yang ditulis oleh beliau. Berjudul Thoriqoh Alawiyah.

Baru dua hari, rasanya sudah berhari-hari nyantri. Setiap hari diisi dengan ibadah berjamaah. Penuh dengan siraman ilmu dari guru-guru kami. Esok hari adalah hari terakhir nyantri di majelis ini.

Hari minggu pagi, aktifitas dimulai dengan pengumuman kerjabakti. Santri putri mengikuti kajian pagi yang dibawakan oleh Habib Muhammad. Tema kajiannya adalah keutamaan mencari ilmu dan bagaimana menjadi calon orangtua yang baik.

Sementara itu para santri putra bergotongroyong ngecor pondasi bangunan baru. Rencananya bangunan itu akan digunakan untuk asrama santri putra. Para habaib ikut serta bergotongroyong membawa ember berisi semen dan pasir. Beliau mencontohkan langsung bagaimana menanam amal jariyah dalam bentuk nyata.

Dan tibalah waktu untuk berpisah. Tausiah sekaligus penutupan program santri weekend oleh Habib Novel. Kembali kami dibekali dengan hadiah 2 buku lagi. Jadi total dapat hadiah 3 buku deh…

Tiga buku hadiah dari Habib Novel Alaydrus menjadi bekal kepulangan para santri.

Dari Habib Novel Alaydrus, Habib Muhammad Al Habsyi dan Habib Husein Al Habsy, saya belajar tentang semangat untuk berbagi ilmu, optimisme, husnudzon, ikhtiar maksimal dan keyakinan pada besarnya kuasa Allah atas kehidupan kami.

Santri Weekend Batch 3 Putri
Santri Weekend Batch 3 Putra

Kejar keridhoan Allah, maka hidup kita akan berlimpah berkah. Insyaallah.

2 Replies to “Santri Weekend, Merasakan Kehidupan Santri Majelis Ar-Raudhah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *