Setelah 30 Hari Puasa Sosmed, Apa Bakal Jadi Kudet?

Setelah 30 Hari Puasa Sosmed, Apa Bakal Jadi Kudet?

Di hari ke 30 puasa sosmed, langsung ingin menulis di blog ini lagi. Lanjutan dari artikel yang dulu, cerita awal menjalani tantangan 30 hari puasa sosmed.

Jadi begini lho… menjalani tantangan itu memang beratnya di awal. Setelah terbiasa, menjadi lebih ringan prosesnya.

Dua minggu pertama, itu masa penyesuaian diri yang paling berat. Godaan untuk meraih handphone dan log in akun sosmed sangat kuat. Cerita lengkapnya sudah ada di link yang saya sertakan di awal artikel ini ya.

Apa? Belum dibaca? Hayuklah balik lagi scroll up, dibaca dulu ya… 😀

Minggu berikutnya sudah di masa adaptasi. Tidak ada rasa kemrungsung / cemas saat handphone tidak berada dalam jangkauan. Waktu jadi terasa lebih berlimpah. Pikiran juga lebih mudah diajak untuk mindful, hadir di saat ini.

Apakah puasa sosmed sebulan bikin saya jadi ketinggalan berita viral?

Awalnya saya sempat berpikir “Wah bakal kudet (kurang update) saya nanti”.

Walah ternyata nggak masbro, mbaksist…

Selama kita tidak offline total dari grup chat yang ada, terutama whatsapp. Selama kita masih mengakses internet untuk browsing. Pasti bakal tetap update.

Di beberapa grup whatsapp, beberapa kali muncul diskusi menarik yang berawal dari sebuah pertanyaan seorang teman. Di beberapa grup lainnya, obrolan random kadang diawali oleh update informasi yang sedang viral di dunia maya.

Namun kadang ada juga kondisi dimana saya “mendadak update berita viral yang nggak banget”. Beberapa orang ada yang merasa perlu ngeshare berita apapun yang sedang viral. Entah apa motivasi utamanya.

Mulai dari share metode terapi kesehatan terbaru abad ini.
Broadcast artikel yang seolah-olah ditulis oleh seorang tokoh.
Foto / video berita musibah dan kerusuhan di berbagai penjuru negeri.
Foto fenomena unik yang dikaitkan dengan mukjizat atau dikaitkan dengan isi kitab suci.

Yang terbaru adalah share berita hoax tentang isi pidato curhatan idola saya, teknokrat dan negarawan, bapak BJ Habibie yang baru saja berpulang. Masih juga berlanjut dengan berita lain yang menurut saya berpotensi menjadi fitnah yang menyakiti keluarga yang beliau tinggalkan.

Sebagian besar berita itu tidak jelas sumbernya. Dimana, kapan, siapa, darimana, tidak ada datanya. Tanpa didahului dengan cek kadar kevalidan beritanya.

Kalau beritanya salah / hoax, yang berbagi info ini siap dengan jawaban aman “Maaf cuma ngeshare”.

Ada sih level yang lebih sopan, minta maaf sudah salah berbagi info, sambil ngeshare berita revisinya.

Ngomong-ngomong, ada fenomena menarik setelah saya amati. Ternyata sebaran hoax di grup whatsapp orangtua saya dan teman-teman beliau itu jauh lebih parah hihihi…. Sebagian besar chat didominasi share berita viral seperti ini.

Sampai-sampai saya pernah bertanya pada ibu saya berkaitan dengan isi grup beliau dan teman-temannya. “Apakah tidak lebih baik masa lanjut usia diisi dengan berita yang lebih baik, optimis, berdaya, dan bermanfaat? Agar hidup lebih bahagia, tenang dan menyenangkan.”

Karena fenomena sebaran berita hoax itu terjadi berulang-ulang. Dan sudah layaknya serangan hit and run. Ibu saya gerah juga.

Sehingga setiap hari beliau ngobrol dengan saya jika ada teman grup yang asal share berita. “Ini hoax apa nggak ya, Va? Kalau hoax, tolong ya carikan link berita yang merevisi berita ini. Mau ibu bagikan ke grup biar nggak berlanjut jadi sebuah informasi yang salah.”

So… kesimpulan apa yang saya dapatkan setelah menjalani 30 hari puasa sosmed?

Kesimpulan saya adalah…

Offline sosmed baru ada di tingkat “cukup mengurangi overload informasi yang kurang penting”. 😀

Untuk menghindari overload informasi di jaman serba online, tidak cukup hanya dengan offline sosmed.

Lebih penting lagi adalah dengan menyadari dan memahami informasi apa yang kita butuhkan. Menentukan prioritas, kemudian disiplin dan konsisten mengelola waktu yang kita gunakan dalam hidup ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *