Smartphone, Benarkah Sebuah Alternatif Ruang Penyimpan Ingatan?

Smartphone, Benarkah Sebuah Alternatif Ruang Penyimpan Ingatan?

Saat itu, malam baru saja dimulai. Aroma sedap seduhan kopi dan wangi teh menguar di udara. Suasana di Ndalem MJ yang didominasi oleh ornamen kayu itu sangat damai. Suara gemericik air dan kecipak sirip ikan yang berenang terdengar begitu menenangkan.

Di atas pagar kayu terlihat seekor katak duduk diam seakan mengamati kami yang duduk melingkari sebuah meja kayu. Mungkin katak itu ingin ikut menyimak perbincangan kami.

Saya bersama beberapa sahabat sedang berbincang dengan guru kami. Menimba ilmu sambil menikmati sajian secangkir kopi atau teh panas dan sekotak makanan tradisional.

Salah satu tema yang kami perbincangkan adalah adab menuntut ilmu dan etika mengajarkan ilmu. Sesekali diselingi dengan kisah-kisah para ulama dan para sahabat Rasulullah. Meneladani ikhtiar, kesabaran dan semangat mereka dalam menjemput ilmu. Mengingat kembali teladan adab mereka dalam menghormati ilmu dan para guru.

Menyimak kisah-kisah tersebut membuat saya mengerti. Adalah wajar jika ilmu yang mereka peroleh itu penuh dengan limpahan keberkahan. Ilmu itu melekat kuat di ingatan mereka. Karena diperoleh dengan susah payah disertai adab yang baik dan benar. Kombinasi antara pengorbanan tenaga, biaya, waktu dengan bimbingan guru yang tepat disertai adab yang terpuji.

Saya teringat pada syair yang saya baca di dalam buku Ta’limul Muta’allim, karya Imam Az-Zarnuji. Sebuah syair yang bersumber dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu.

Syair itu menyebutkan, bahwa ada 6 hal yang harus terpenuhi sebagai syarat untuk mendapatkan ilmu. Yaitu kecerdasan, semangat, sabar, bekal yang cukup (termasuk biaya), bimbingan seorang guru dan waktu yang lama (ada prosesnya).

Tepat di malam itu, guru saya mengingatkan. Bahwa semakin mudah ilmu itu diperoleh, akan semakin sulit orang itu menghargai ilmu.

Persis dengan fenomena saat ini. Ketika ilmu sangat mudah diperoleh. Tersebar di mana-mana. Kemudahan akses internet dan sosial media adalah salah satu sebab yang mendukungnya. Semua serba instan. Tidak mengherankan jika ilmu yang seperti itu sulit melekat kuat di ingatan. Keberkahan ilmunya semakin jauh dari jangkauan.

Ilmu Yang Berkah Itu Yang Seperti Apa?

Ingatan saya kemudian melayang ke sebuah kajian dari seorang guru saya yang lain. Beliau berkata, “Ilmu yang berkah itu aliran keberkahannya mengalir terus ke keluarga dan keturunan para pencari ilmu tersebut”.

Ada banyak ulama besar yang lahir dari keluarga yang sepertinya biasa-biasa saja. Namun setelah dirunut ulang, orangtua, kakek nenek dan para pendahulu ulama besar tersebut dulu sangat giat menuntut ilmu serta memuliakan para pencari ilmu. Sehingga keberkahan ikhtiar para pendahulu itu bermuara dan menjelma pada ulama besar tersebut.

Menjadi sebuah pengingat, untuk memperbaiki niat saat menjalani proses menuntut ilmu. Niatkan pula agar keberkahan ilmunya akan terus mengalir pada para penerus kita.

Semakin Tergantung Pada Gadget, Semakin Pendek Ingatan Penggunanya

Hari berikutnya, saya ngobrol ringan dengan bapak saya. Beliau mengisi waktunya selepas pensiun dari tugas sebagai abdi negara (ASN) dengan cara menjadi dosen dan mengisi kajian di berbagai tempat.

Bapak saya saat itu berkata, “Anak kuliah jaman sekarang, kebanyakan ingatannya disimpan di handphone. Hanya sedikit yang tersisa di otaknya. Wajar jika ilmunya tidak banyak yang melekat di ingatan dalam kepala mereka. Apalagi jika simpanan ilmu di handphone nya jarang direview ulang”.

Sudah puluhan tahun beliau mengajar. Baru beberapa tahun terakhir ini semangat mengajar beliau agak terganggu. Diselingi oleh rasa prihatin pada perubahan karakter para mahasiswa di kampus tempat beliau mengajar.

Cerita bapak saya ini mewakili rasa prihatin sebagian pengajar yang saya temui saat ini. Mulai dari para dosen senior, dosen yunior, guru dan pengajar lainnya. Prihatin pada terlewatnya proses menanamkan adab belajar pada siswa sekolah sebelum dimulainya menuntut ilmu.

Konsep luhur tentang “Belajar adab sebelum belajar ilmu” lolos dari sistem pengajaran di sekolah-sekolah umum saat ini.

Ilustrasinya seperti ini:
Di sebuah ruangan kelas, Sang Pengajar sudah datang. Kemudian beliau menjelaskan materi yang sudah disiapkan dengan sungguh-sungguh semalaman.

Di ruangan itu juga, para siswa/mahasiswa sebagian sudah datang. Sebagian lagi datang terlambat. Mereka langsung menyiapkan handphone untuk memotret tulisan / slide yang dibawakan oleh Sang Pengajar.

Mencatat ilmu di buku atau di kertas sudah tidak menjadi pilihan. Jikapun ada, paling hanya yang duduk kursi di barisan depan. Kemungkinannya ada dua: memang niat menuntut ilmu dan rajin mencatat, atau terpaksa duduk di depan karena datang terlambat.

Ketika sesi belajar mengajar selesai, para siswa/mahasiswa antri menghampiri pengajar sambil membawa flashdisc. Tujuannya untuk meminta unduhan file yang semalaman dipersiapkan dan dipaparkan oleh Sang Pengajar. Katanya sih supaya lebih mudah dipelajari ulang.

Saat jadwal ujian tiba, ternyata mereka hanya sanggup menyelesaikan soal ujian dengan hasil seadanya. Istilah halus untuk hasil yang jauh di bawah kelayakan. Padahal soal ujiannya adalah review materi yang mereka sudah dapatkan berikut unduhan file nya.

Sebagian besar peserta ujian itu seperti orang yang lupa sama sekali pada hal yang pernah mereka pelajari. Yang tidak mereka lupa adalah tuntutan untuk mendapat nilai sempurna untuk ujian mereka. Wooooow… warbiyasa.

Mungkiiiiin…ini hanya mungkin lho… Mungkin ingatan para siswa / mahasiswa yang mengikuti ujian itu tidak disimpan di kepala. Ingatan mereka disimpan di dalam gadgetnya. Wajar kalau susah memanggil ingatan saat mengerjakan ujian. Kan kondisinya tidak memungkinkan mereka untuk mengakses ingatan yang disimpan di gadget.

Ah, saya jadi ikut prihatin dan ingin menitipkan pesan untuk para siswa dan mahasiswa yang seperti itu.

Dear para siswa dan mahasiswa, tolong jaga baik-baik handphone kalian. Jangan sampai jatuh. Saya kuatir kalian nanti mengalami hilang ingatan atau amnesia pada apa yang sudah kalian pelajari selama ini. Oiya, lain kali, belilah gadget kategori ‘not so smartphone‘. Gadget yang tidak terlalu pintar. Supaya kalian tidak terlihat lebih bodoh dari handphone kalian. Gimana? Ok kan gaessss? Ok dooonk…”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *